JAKARTA – Emiten di bidang konstruksi, PT Sumber Mas Konstruksi Tbk. (SMKM), saat ini sedang bersiap mengubah fokus usahanya ke sektor akuakultur. Rencana ini diawali dengan langkah akuisisi perusahaan budidaya udang terintegrasi yang nilai transaksinya diperkirakan mencapai US$100 juta.
Perseroan akan bertransformasi dari yang semula fokus pada sektor konstruksi konvensional menjadi sebuah grup infrastruktur akuakultur serta ekosistem terpadu, baik di tingkat nasional maupun regional.
Strategi ini direalisasikan melalui rangkaian aksi korporasi terhadap PanAsia Aquaculture Pte. Ltd. Group of Companies (PanAsia Group) dan LSO Organization Holdings Pte. Ltd. (LSO Holdings).
Pada tahap awal, SMKM telah menandatangani kesepakatan jual beli bersyarat atau conditional sale and purchase agreement (CSPA) untuk mencaplok PanAsia Group dari Lim Shrimp Org Pte. Ltd. (LSO).
Nilai dari transaksi ini diperkirakan mencapai angka US$100 juta, dengan target penyelesaian transaksi pada kuartal III/2026.
Tidak sampai di situ, SMKM juga memiliki rencana lanjutan untuk mengambil alih LSO Holdings dengan nilai SGD13 juta yang ditargetkan rampung pada Juni 2027.
Untuk diketahui, Limp Shrimp Pte. Ltd. bertindak sebagai pemilik 25% saham SMKM. Sebelumnya, Limp Shrimp menargetkan untuk menguasai 450 juta saham SMKM, atau setara dengan 35,91% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh oleh perseroan.
Direktur PanAsia Group, Chong Chee Hoong, mengungkapkan bahwa proses transformasi ini merupakan bagian dari rencana strategis untuk membangun ekosistem akuakultur berbasis teknologi yang terintegrasi di kawasan ASEAN.
Menurutnya, karakteristik dasar dari bisnis konstruksi yang dipunyai SMKM bakal dioptimalkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur akuakultur dalam skala besar, yang meliputi fasilitas pemrosesan hingga integrasi rantai pasok secara global.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kami tidak hanya mengelola aset produktif, tetapi juga membangun sistem operasional terintegrasi yang didukung transfer teknologi, kapabilitas hilirisasi, dan integrasi ekosistem dari hulu hingga hilir,” ujar Chong dalam keterangannya, Minggu (18/5/2026).
Saat ini, PanAsia Group sedang mengoperasikan fasilitas tambak udang berbasis smart aquaculture di daerah Sumbawa di atas lahan seluas 37 hektar dengan total 40 kolam yang aktif beroperasi sejak 2018. Aktivitas operasional tersebut diklaim berhasil mencapai tingkat kelangsungan hidup udang di atas 80%.
Bukan cuma di Indonesia, PanAsia Group juga memiliki lini operasi akuakultur di daerah Sabah, Malaysia Timur. Di wilayah tersebut, mereka mengelola aset dengan luas kisaran 49 hektar yang sudah mulai berjalan sejak tahun 1998.
Chong menambahkan, setelah selesainya proses reverse takeover (RTO), perusahaan menetapkan target untuk membangun infrastruktur akuakultur regional yang terintegrasi dalam jangka waktu lima tahun ke depan.
Langkah tersebut diambil melalui ekspansi operasi di tingkat regional, memperkuat sektor hilirisasi, serta mengembangkan teknologi untuk operasional.
Ia juga menyampaikan bahwa jajaran manajemen SMKM yang berada di bawah arahan Budi Aris dan Ruben Partogi saat ini sedang menyelaraskan visi jangka panjang mengenai transformasi ini demi memperkuat sinergi operasional internal perseroan.
Langkah transformasi ini sekaligus menjadi momentum diversifikasi bisnis SMKM yang awalnya berada di sektor konstruksi beralih menuju industri akuakultur serta perdagangan hasil laut, yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jauh lebih menjanjikan di kawasan ASEAN.