JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), atau yang dikenal dengan sukuk.
Lelang ini menunjukkan minat pasar yang sangat tinggi meskipun investor tetap meminta premi risiko yang lebih tinggi. Dari total penawaran yang masuk sebesar Rp43,8 triliun, pemerintah memutuskan untuk memenangkan Rp12 triliun sesuai dengan target indikatif yang telah ditetapkan.
Meskipun begitu, minat pasar tetap beragam, terutama dalam hal permintaan terhadap yield atau tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, baik pada tenor jangka pendek maupun jangka panjang.
Baca JugaReformasi Pasar Modal Berpotensi Menekan Laba Dan Model Bisnis Perusahaan Sekuritas
Peningkatan Penawaran Menandakan Minat yang Kuat
Hasil lelang sukuk menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan sebelumnya. Total penawaran yang masuk mengalami kenaikan sebesar 13,8%, yaitu dari Rp38,5 triliun menjadi Rp43,8 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap surat berharga negara yang berbasis syariah tetap tinggi.
Namun, meskipun minat yang besar, investor ternyata masih meminta kompensasi yang lebih tinggi dalam bentuk yield, terutama pada instrumen dengan tenor panjang. Hal ini mencerminkan adanya sensitivitas terhadap risiko yang semakin meningkat di pasar global maupun domestik.
Pemerintah Indonesia berhasil mempertahankan pricing power atau ruang seleksi dalam menentukan yield yang sesuai.
Hal ini memungkinkan pemerintah untuk tetap mendapatkan pembiayaan dengan syarat yang wajar, meskipun dengan imbal hasil yang lebih tinggi. Namun, fenomena ini juga menandakan bahwa investor kini lebih berhati-hati dalam memilih instrumen investasi, terutama yang memiliki risiko lebih besar.
Preferensi Investor Terhadap Instrumen Tenor Pendek
Salah satu data menarik yang terlihat dari lelang sukuk adalah kecenderungan investor untuk memilih instrumen dengan tenor yang lebih pendek.
Seri SPNS09032026, dengan jatuh tempo pada Maret 2026, mencatatkan bid-to-cover ratio sebesar 3,09 kali, yang menunjukkan adanya permintaan yang cukup tinggi.
Yield untuk seri ini tercatat sebesar 4,40%, yang relatif rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa investor lebih memilih instrumen jangka pendek sebagai tempat parkir dana mereka di tengah ketidakpastian ekonomi dan kebijakan domestik yang berlaku.
Kecenderungan ini juga terlihat pada instrumen dengan tenor pendek lainnya, di mana investor lebih memilih untuk berinvestasi pada surat utang dengan risiko lebih rendah dan likuiditas yang lebih tinggi.
Pada saat ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung, investor cenderung lebih menghindari instrumen dengan jangka waktu lebih lama yang dapat terpengaruh oleh fluktuasi ekonomi yang lebih besar.
Permintaan Meningkat pada Tenor Menengah hingga Panjang
Meski investor lebih memilih tenor pendek, permintaan terhadap sukuk dengan tenor menengah hingga panjang tetap kuat. Seri PBS030 dengan tenor 3 tahun, misalnya, tercatat mendapatkan penawaran hingga Rp9,68 triliun.
Sementara itu, seri PBSG002 dengan tenor 8 tahun mendapatkan penawaran sebesar Rp7,85 triliun, menunjukkan adanya minat yang solid di segmen ini. PBS034 yang memiliki tenor 14 tahun juga mendapat perhatian dari investor dengan bid-to-cover ratio mencapai 4,18 kali, yang menunjukkan permintaan yang lebih besar.
Namun, meskipun minat investor tetap solid pada tenor yang lebih panjang, yield yang dimenangkan mencerminkan tingkat risiko yang lebih tinggi. Sebagai contoh, PBSG002 tercatat dengan yield sebesar 6,15%, sementara PBS034 di 6,37%, dan PBS038 (2049) mencapai 6,73%.
Tingginya yield ini menunjukkan bahwa investor menginginkan kompensasi lebih besar untuk menanggung risiko yang terkait dengan investasi jangka panjang. Faktor ketidakpastian ekonomi global dan risiko fiskal domestik menjadi alasan utama yang mendorong investor untuk meminta premi risiko yang lebih tinggi.
Likuiditas Pasar Sukuk Masih Terjaga, Tetapi Biaya Dana Tetap Tinggi
Salah satu kesimpulan penting dari lelang sukuk ini adalah bahwa meskipun likuiditas pasar sukuk domestik tetap terjaga, biaya dana untuk pemerintah diperkirakan akan tetap tinggi. Hal ini disebabkan oleh tingginya premi risiko yang diminta oleh investor.
Meskipun permintaan terhadap sukuk tetap solid, terutama untuk tenor pendek dan menengah, investor tetap memperhitungkan risiko yang ada, baik yang bersumber dari dinamika global maupun domestik.
Ketidakpastian terkait kebijakan moneter global, terutama kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), turut mempengaruhi keputusan investor.
Beberapa investor global mulai melirik aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mengingat proyeksi ekonomi AS yang diperkirakan akan mengalami pelemahan pada kuartal IV 2025.
Hal ini menyebabkan penurunan suku bunga acuan The Fed untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. Penurunan ini turut berimbas pada turunnya yield pada US Treasury tenor 10 tahun, yang tercatat turun sebesar 5,9 bps menjadi 4,14%.
Investor Global Mulai Melirik Pasar Negara Berkembang
Pelemahan ekonomi AS ini memberikan peluang bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menjadi tujuan investasi.
Dalam lelang sukuk kemarin, investor asing menunjukkan minat yang cukup besar terhadap surat berharga syariah Indonesia, meskipun mereka tetap meminta premi risiko yang lebih tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun risiko masih ada, Indonesia tetap dianggap sebagai pasar yang menarik bagi investor global, terutama karena stabilitas fiskal yang relatif baik dan prospek pertumbuhan ekonomi yang positif.
Implikasi Premi Risiko Tinggi bagi Pasar Sukuk Indonesia
Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa premi risiko yang lebih tinggi ini dapat mempengaruhi biaya pembiayaan negara dalam jangka panjang.
Pemerintah Indonesia mungkin perlu menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter untuk memastikan bahwa pembiayaan negara tetap terjangkau, meskipun dengan yield yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, meskipun likuiditas pasar sukuk tetap terjaga, biaya dana yang tinggi akan menjadi tantangan bagi pemerintah dalam membiayai proyek-proyek pembangunan di masa depan.
Secara keseluruhan, meskipun minat investor terhadap sukuk Indonesia tetap kuat, terutama pada tenor pendek dan menengah, investor tetap sensitif terhadap risiko.
Permintaan yang meningkat untuk tenor panjang dan yield yang lebih tinggi menunjukkan bahwa meskipun likuiditas pasar masih terjaga, ketidakpastian global dan domestik tetap memengaruhi keputusan investasi.
Oleh karena itu, untuk mempertahankan daya tarik sukuk Indonesia, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara tingkat imbal hasil yang kompetitif dan risiko yang dapat diterima oleh investor.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Solusi Mudik Aman: Kemenhub Siapkan Program Mudik Gratis Lebaran 2026
- Rabu, 11 Februari 2026
Reformasi Pasar Modal Berpotensi Menekan Laba Dan Model Bisnis Perusahaan Sekuritas
- Rabu, 11 Februari 2026
Update Harga Sembako Jogja 11 Februari 2026: Daging Ayam dan Cabai Melejit
- Rabu, 11 Februari 2026
Berita Lainnya
IHSG Menguat Dua Hari Beruntun: Analisis Tren Dan 5 Saham Jagoan Analis
- Rabu, 11 Februari 2026
Penyaluran Kredit Bank Milik Pemkab Cirebon Masih Solid di Tengah "Musim Gugur" BPR
- Rabu, 11 Februari 2026
Terpopuler
1.
LPS Targetkan Kredit Bank Tumbuh 12 Persen di Momentum Ramadhan 2026
- 11 Februari 2026
2.
3.
4.
Keamanan EV China Disorot: Nio Tarik Ratusan Ribu Unit Mobil
- 11 Februari 2026
5.
BRI Finance Proyeksikan NPF Tetap Terjaga Pasca-Lebaran 2026
- 11 Februari 2026












