Wall Street Bergerak Variatif, Saham Teknologi Tekan Nasdaq dan S&P 500

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:18:27 WIB
Ilustrasi Nasdaq, S&P500 di Wall Street (Foto: NET)

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street mencatatkan pergerakan yang beragam pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat. Penurunan melanda indeks Nasdaq dan S&P 500 karena investor melakukan aksi ambil untung pada saham sektor teknologi.

Kondisi ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta peningkatan harga minyak dunia. Situasi tersebut kembali memicu kecemasan pasar terhadap potensi lonjakan inflasi.

Seperti dikutip dari Money, indeks Dow Jones Industrial Average bergerak menguat sebesar 159,95 poin atau 0,32 persen hingga menyentuh posisi 49.686,12. Sebaliknya, indeks S&P 500 mengalami penyusutan 5,45 poin atau 0,07 persen ke level 7.403,05.

Pelemahan juga terjadi pada indeks Nasdaq Composite yang merosot sebesar 134,41 poin atau 0,51 persen. Indeks acuan saham teknologi tersebut bertengger di posisi 26.090,73 pada akhir perdagangan.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 10 tahun sempat melonjak ke level tertinggi sejak Februari 2025. Kenaikan acuan biaya pinjaman global ini disebabkan oleh kekhawatiran hambatan pengiriman minyak di Selat Hormuz yang dapat mengerek inflasi.

Harga minyak mentah Amerika Serikat ditutup melonjak di atas 3 persen setelah bergejolak sepanjang hari. Tekanan mulai mereda setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran demi memberi ruang bagi jalur negosiasi perdamaian.

Donald Trump menyatakan bahwa pihak Iran telah mengirimkan proposal perdamaian yang baru ke Washington. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihak militer Amerika Serikat tetap siaga untuk melanjutkan serangan jika proses kesepakatan tersebut gagal tercapai.

Manajer portofolio NFJ Investment Group di Dallas, Burns McKinney, menilai pergerakan pasar saham belakangan ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia.

"Variabel utama saat ini adalah potensi blokade Selat Hormuz yang mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan risiko ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali dalam jangka panjang," ujar McKinney sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Burns McKinney menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi memberikan tekanan besar bagi sektor saham berdurasi panjang. Sektor tersebut mencakup industri teknologi dan saham chip yang sebelumnya sudah menikmati penguatan signifikan.

Menurut pengamatan Burns McKinney, para pelaku pasar saham cenderung memperlihatkan sikap yang lebih optimis terhadap dinamika geopolitik global jika dibandingkan dengan para investor obligasi.

"Setiap beberapa hari muncul rumor mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dan saham kembali menguat. Investor mempercayainya, tetapi kemudian kembali kecewa karena konflik masih menemui jalan buntu," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pelemahan ini menjadi koreksi dalam dua hari beruntun bagi Nasdaq serta S&P 500 setelah sempat mencatatkan reli panjang sejak akhir Maret 2026. Indeks S&P 500 sebelumnya berhasil terbang lebih dari 18 persen dari titik terendahnya pada akhir Maret.

Pada periode yang sama, indeks Nasdaq juga sukses melonjak hingga sekitar 28 persen. Tren positif tersebut ditopang oleh optimisme pasar terhadap industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta laporan kinerja keuangan emiten teknologi yang solid.

Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey, menyebutkan bahwa para pelaku pasar kini mulai mengkhawatirkan laju kenaikan indeks yang terjadi terlalu cepat.

"Ada kekhawatiran terhadap reli yang terjadi dalam periode singkat sehingga memicu aksi ambil untung," ucap Ghriskey sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sektor teknologi informasi menjadi lini dengan koreksi terdalam di dalam indeks S&P 500 setelah merosot sebanyak 0,97 persen. Saham industri semikonduktor menjadi beban utama dengan penurunan Philadelphia Semiconductor Index sebesar 3,3 persen.

Di sisi lain, sektor energi justru tampil sebagai pencetak penguatan tertinggi dengan kenaikan mencapai 1,8 persen. Sektor ini mendapatkan dorongan besar dari lonjakan harga minyak mentah di pasar global.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sebesar 36,7 persen bagi bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Kebijakan kenaikan sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun itu diprediksi setelah data inflasi pekan lalu melampaui estimasi.

Fokus investor kini tertuju pada rilis laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan keluar pada pekan ini. Raksasa chip kecerdasan buatan dunia itu menjadi penekan utama indeks S&P 500 setelah sahamnya melemah 1,3 persen pada perdagangan Senin.

Ekspektasi pasar terhadap kinerja keuangan Nvidia tergolong sangat tinggi akibat lonjakan harga sahamnya yang masif sejak Maret. Selain Nvidia, Walmart juga bersiap merilis laporan keuangan berkala mereka minggu ini.

Data dari Walmart diharapkan mampu memberikan indikasi mengenai kekuatan daya beli masyarakat Amerika Serikat di tengah tekanan inflasi energi. Saham Walmart sendiri terpantau menguat sebesar 1,4 persen pada perdagangan Senin.

Sementara itu, saham perusahaan utilitas listrik Dominion Energy melonjak hingga 9,4 persen. Pergerakan ini menyusul pengumuman akuisisi berbasis saham senilai 66,8 miIiar dollar AS oleh NextEra Energy, yang sahamnya justru turun 4,6 persen.

Penurunan tajam sebesar 9,8 persen menimpa saham Regeneron Pharmaceuticals. Koreksi ini terjadi setelah program pengobatan eksperimental untuk pasien kanker kulit atau melanoma lanjut milik perusahaan gagal mencapai target utama uji klinis fase akhir.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang menguat di Bursa Saham New York masih mendominasi dibanding yang melemah dengan rasio 1,09 banding 1. Sedangkan di bursa Nasdaq, tercatat sebanyak 2.238 saham menguat dan 2.637 saham ditutup melemah.

Volume perdagangan di bursa saham Amerika Serikat pada sesi tersebut menyentuh angka 20,86 miIiar saham. Jumlah transaksi ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan rerata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di angka 18,36 miIiar saham.

Terkini