Breaking

IHSG Menguat 0,19 Persen di Awal Perdagangan Meski Bursa Asia Melemah

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 11 Juni 2026
IHSG Menguat 0,19 Persen di Awal Perdagangan Meski Bursa Asia Melemah
Ilustrasi IHSG menguat 0,19 persen di awal perdagangan Kamis, meski bursa Asia mayoritas melemah. (Foto: NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif namun tetap menguat pada awal perdagangan Kamis (11/6/2026), di tengah pelemahan mayoritas bursa saham Asia yang tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta aksi jual saham teknologi global.

Berdasarkan data RTI pukul 09.13 WIB, IHSG naik 0,19 persen atau 11,15 poin ke level 5.913,53. Tercatat sebanyak 257 saham menguat, 263 saham melemah, dan 199 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan mencapai 4 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar 2,5 triliun rupiah.

Penguatan IHSG ditopang oleh tujuh indeks sektoral, dengan kenaikan tertinggi pada sektor IDX Technology sebesar 1,27 persen, IDX Property naik 0,90 persen, dan IDX Energy bertambah 0,49 persen.

Di sisi lain, mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah. Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 0,9 persen, dengan tekanan terbesar berasal dari indeks KOSPI Korea Selatan yang anjlok 3 persen.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 juga melemah 0,3 persen, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko setelah inflasi Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Sentimen negatif juga dipicu oleh perkembangan geopolitik, di mana militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke sejumlah target di Iran pada Rabu (10/6) malam.

Sebagai respons, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global, yang mendorong harga minyak Brent naik 2 persen ke level US$ 94,93 per barel.

Terkait sektor teknologi, analis menilai saham-saham teknologi Asia berpotensi melanjutkan koreksi. "Ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba sudah sangat optimistis. Dengan valuasi yang mahal, kondisi ini membuat saham-saham tersebut rentan mengalami koreksi lebih lanjut," tulis Strategis Kuantitatif Asia Bernstein, Rupal Agarwal, dalam catatannya kepada klien, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua