BI Naikkan Suku Bunga, Industri Semen Alami Tekanan
JAKARTA – Tekanan terhadap emiten produsen semen dinilai belum akan mereda. Situasi ini terjadi seiring langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps hingga menyentuh 5,50%, yang diperkirakan akan memengaruhi pasar semen di dalam negeri.
Berdasarkan analisis dari Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, perusahaan produsen semen terkena dampak domino yang bersifat berlapis serta kumulatif akibat kenaikan suku bunga acuan tersebut.
Peningkatan suku bunga acuan ini bakal memperberat beban Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi konsumen, yang pada akhirnya secara langsung melemahkan permintaan di sektor properti selaku pasar utama industri semen. Kondisi tersebut memperpanjang deretan tantangan yang selama ini masih membayangi emiten semen.
Beberapa di antaranya meliputi masalah kelebihan kapasitas struktural dengan tingkat utilisasi pabrik yang hanya berkisar 54%-56%, tingginya harga energi akibat terhambatnya pasokan batubara, hingga depresiasi nilai tukar rupiah yang memicu pembengkakan biaya impor bahan baku penolong serta komponen cadangan untuk fasilitas produksi pabrik.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kombinasi ketiganya menciptakan tekanan tiga arah sekaligus terhadap volume, biaya, dan margin emiten semen," ujar dia, Rabu (10/6/2026).
Sinyal serupa disampaikan oleh Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, yang menilai bahwa kenaikan suku bunga acuan menghadirkan tekanan tersendiri bagi emiten semen karena biaya KPR menjadi semakin tinggi dan para pengembang properti memilih untuk menunda agenda ekspansi mereka.
Tren suku bunga acuan yang tinggi ini pun berpotensi mengerek beban usaha perusahaan. Kondisi tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa emiten semen masih harus memikul tingginya biaya energi yang menyerap porsi hingga 35%--40% dari keseluruhan Cost of Goods Sold (COGA) atau Harga Pokok Penjualan (HPP).
Selain itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi secara tidak langsung turut menambah hambatan dalam proses distribusi produk semen bagi emiten di sektor ini.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kinerja top line emiten semen bakal masih berat, karena utilisasi kapasitas industri masih di level 55%--60% dengan oversupply struktural sejak 2018," ungkap dia, Rabu (10/6).
Faktor positif yang saat ini masih dapat dinantikan oleh sektor semen meliputi percepatan pengerjaan proyek infrastruktur oleh pemerintah serta peluang terjadinya konsolidasi di dalam industri.
Sementara itu, menurut pandangan Abida, program pengadaan tiga juta rumah dari pemerintah berpeluang menjadi angin segar bagi sektor semen, sebab proyek berskala besar tersebut diperkirakan memerlukan tambahan pasokan semen hingga di atas 7 juta ton.
Di samping itu, pelaku industri semen juga berkesempatan memperoleh dampak positif dari realisasi proyek infrastruktur dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang sifatnya tidak sensitif terhadap pergerakan suku bunga.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Ekspor ke pasar regional bermargin lebih sehat juga menjadi katup pengaman, terutama bagi emiten seperti SMGR," tutur dia.
Langkah strategis yang dinilai paling sesuai untuk dijalankan oleh emiten semen saat ini yaitu memperkuat efisiensi di sektor energi dengan mempercepat migrasi ke penggunaan bahan bakar alternatif demi menekan ketergantungan pada batubara.
Bukan hanya itu, emiten semen dituntut untuk bergerak lebih agresif dalam mengekspor produk mereka ke kawasan Asia Tenggara yang menawarkan margin jauh lebih kompetitif.
Upaya diversifikasi produk menuju segmen hilir yang memiliki margin tinggi, seperti beton siap pakai (ready-mix) serta mortar, juga dapat dijadikan pilihan bagi emiten produsen semen.
Di sisi lain, campur tangan dari pihak pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi tetap sangat dibutuhkan, terutama lewat penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batubara guna memastikan ketersediaan pasokan energi domestik dengan harga yang tetap terjangkau bagi industri semen.
Di waktu yang sama, Wafi mengungkapkan bahwa sektor semen masih dihadapkan pada situasi yang cukup menantang dalam jangka pendek, sehingga ada baiknya dikesampingkan terlebih dahulu sebagai pilihan utama bagi para investor.
Untuk jangka menengah, saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dinilai memiliki daya tarik yang lebih baik karena memiliki Debt to Equity Ratio (DER) di bawah 0,3 kali, kondisi arus kas yang kuat, serta Price to Book Value (PBV) pada posisi 1,2 kali yang merupakan level terendah dalam sejarahnya.
Saham INTP dinilai prospektif untuk dicermati dengan target harga berada di angka Rp 6.500 per saham.
Sebaliknya, untuk saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), disarankan untuk diambil posisi hold mengingat tingginya leverage menjadi faktor risiko utama bagi emiten tersebut pada periode suku bunga acuan 5,50%. Saham SMGR sendiri diproyeksikan dapat menuju ke level Rp 3.500 per saham.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Investor dapat masuk ke sektor ini jika ada konfirmasi akselerasi belanja infrastruktur di APBN-P 2026," tandas dia.