Pasca-Merger, XLSmart Absen Bagi Dividen karena Rugi 4,42 Triliun
- Kamis, 21 Mei 2026
JAKARTA – PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menetapkan untuk tidak mengedarkan dividen dari tahun buku 2025. Langkah ini telah mengantongi persetujuan dari para pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada Rabu (20/5/2026).
Direktur & Chief Financial Officer XLSmart Telecom Sejahtera Antony Susilo menerangkan bahwa EXCL belum dapat membagikan dividen untuk tahun buku 2025 lantaran posisinya yang masih mengalami kerugian, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Di peraturan perundangan, kalau perusahaan mengalami kerugian maka perusahaan tersebut tidak boleh memberikan dividen. Di 2025, XLSmart membukukan kerugian,” urainya dalam agenda paparan publik, Rabu (20/5/2026).
Melihat pada capaian kinerja tahun buku 2025, EXCL menanggung rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4,42 triliun. Kondisi ini berbanding terbalik dari raihan laba bersih senilai Rp 1,81 triliun pada tahun 2024.
Baca JugaMenteri PKP Apresiasi Dukungan BSI terhadap Program Perumahan
Walakin dari sisi top line, omzet XLSmart terpantau tetap tumbuh 23,41% secara tahunan menjadi sebesar Rp 42,44 triliun di tahun 2025. Pada periode tahun sebelumnya, EXCL mengantongi pendapatan senilai Rp 34,39 triliun.
Antony memaparkan bahwa kerugian yang dialami oleh EXCL pada tahun buku 2025 tidak lepas dari adanya aksi korporasi merger antara XL Axiata dan Smartfren Telecom, yang di dalamnya termasuk peningkatan ongkos depresiasi sebagai akibat dari integrasi infrastruktur jaringan.
Dipaparkan Antony, EXCL mesti melakukan percepatan depresiasi terhadap sejumlah alat jaringan lama yang tak lagi terpakai sesudah merger. Jumlah nilai dari percepatan depresiasi tersebut ditaksir menyentuh angka berkisar Rp 5 triliun, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Banyak perangkat jaringan milik XL di masa lalu yang tidak bisa digunakan lagi sehingga investasinya harus dipercepat depresiasinya. Ini bersifat non-cash, tetapi nilainya cukup besar,” tuturnya.
Ia mengimbuhkan, langkah percepatan depresiasi ini juga mempunyai kaitan dengan proses penataan kembali spektrum 900 MHz yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026 sejalan dengan instruksi dari pihak pemerintah.
Kendati demikian, Antony mengklaim bahwa secara fundamental situasi bisnis dari XLSmart sejatinya masih tergolong cukup positif. Apabila elemen-elemen non-operasional tadi dinormalisasi, pihak perseroan sebenarnya masih sanggup menorehkan hasil usaha yang bernilai positif.
Menatap ke depan, jajaran manajemen EXCL memfokuskan alokasi seluruh pendapatan yang masuk guna mempertebal kekuatan jaringan serta mendongkrak layanan 4G dan 5G sepanjang masa integrasi di tahun 2025–2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Integrasi masih terus berjalan sampai April 2027, tetapi kami berharap bisa selesai lebih cepat sehingga kami dapat fokus meningkatkan profitabilitas,” sebutnya.
Direktur & Chief Regulatory Officer XLSmart Merza Fachys mengutarakan, EXCL mempunyai ketertarikan untuk mengamankan kedua spektrum dimaksud.
Malahan, ia mempunyai harapan agar tahapan lelang nantinya bisa bergulir dengan lebih kilat serta simpel, sebagaimana dilansir dari berita sumber “XLSmart tertarik untuk mendapatkan kedua spektrum tersebut dan tentu saja kami inginkan bahwa lelang ini akan dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana,” beber Merza.
Menurut pandangannya, skema lelang idealnya dapat dibuat lebih ringkas lantaran ketiga pihak yang menjadi peserta merupakan perusahaan operator yang rekam jejaknya sudah dipahami oleh pemerintah, sehingga tahapan validasi tidak akan serumit agenda lelang frekuensi yang sudah-sudah.
Di lain pihak, Ranjan Sharma selaku analis dari JP Morgan memberikan penilaian bahwa capaian kinerja EXCL pada triwulan I-2026 masih berjalan selaras dengan proyeksi pasar.
Namun begitu, tekanan yang terjadi pada aspek jumlah basis pelanggan seluler dinilai tetap menjadi batu sandungan utama pasca bersatunya XL Axiata dan Smartfren, sebagaimana dilansir dari berita sumber “Seinitial merger XL-Smartfren pada kuartal II-2025, EXCL telah kehilangan 13,2 juta pelanggan.
Meskipun penurunan ini dapat dikaitkan dengan proses pembersihan pelanggan yang sedang berlangsung, skala penurunannya berpotensi menekan ekspektasi pertumbuhan ke depan,” tulis Ranjan dalam lembar risetnya.
Walau ada kendala tersebut, Ranjan menyebutkan jika pengeluaran biaya EXCL terpantau masih relatif terkendali di tengah bergulirnya proses penyatuan.
Di samping itu, tingkat pertumbuhan ARPU seluler yang berada di angka 6% secara kuartalan memperlihatkan adanya fokus dari EXCL untuk mendongkrak mutu pendapatan daripada mesti terlibat di dalam persaingan perang tarif.
Gemilang Ramadhan
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026












