Kamis, 19 Februari 2026

SMGR Hadapi Jatuh Tempo Obligasi Rp 714 Miliar pada Mei 2026

SMGR Hadapi Jatuh Tempo Obligasi Rp 714 Miliar pada Mei 2026
SMGR Hadapi Jatuh Tempo Obligasi Rp 714 Miliar pada Mei 2026

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia atau PT Pemeringkat Efek Indonesia menyampaikan informasi terbaru terkait kewajiban utang PT Semen Indonesia Persero Tbk. 

Peringatan tersebut berkaitan dengan obligasi yang akan memasuki masa jatuh tempo pada Mei 2026. Informasi ini menjadi perhatian pelaku pasar yang mencermati profil likuiditas dan strategi pendanaan emiten pelat merah tersebut.

Obligasi yang dimaksud adalah Obligasi Berkelanjutan I tahap II tahun 2019 seri B dengan peringkat idAAA. Instrumen utang itu diterbitkan oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SMGR sebagai bagian dari skema pendanaan jangka menengah perseroan. Peringkat tertinggi tersebut menunjukkan kapasitas perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya.

Baca Juga

Ari Askhara Mundur Dari GTSI Usai Ditunjuk Pimpin HUMI

“Obligasi Berkelanjutan I tahap II tahun 2019 seri B (peringkat idAAA) sebesar Rp 714 miliar yang diterbitkan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) akan jatuh tempo pada 28 Mei 2026,” ujar Yogie Perdana & Jono Syafei, Analis Pefindo dalam keterangan resmi, Rabu.

Penyampaian tersebut menjadi sinyal bagi investor untuk memantau kesiapan perusahaan dalam melunasi kewajiban yang akan datang. Dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah, instrumen ini merupakan bagian penting dari struktur utang jangka panjang perseroan.

Strategi Pelunasan Mengandalkan Dana Internal

Manajemen perusahaan telah menyiapkan langkah antisipatif untuk memastikan kewajiban tersebut terpenuhi tepat waktu. Perusahaan berencana untuk melunasi instrumen utang yang jatuh tempo menggunakan dana internal. Strategi ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan arus kas dan likuiditas yang dimiliki.

Per 30 September 2025, SMGR memiliki saldo kas sebesar Rp 3,9 triliun. Posisi kas tersebut dinilai cukup memadai untuk menutup kewajiban obligasi yang akan jatuh tempo pada Mei 2026. Dengan cadangan kas yang solid, risiko pembiayaan ulang atau refinancing relatif dapat diminimalkan.

Langkah penggunaan dana internal juga mencerminkan kehati-hatian perusahaan dalam mengelola struktur permodalan. Dengan tidak bergantung pada penerbitan utang baru, perusahaan berpotensi menjaga rasio leverage tetap terkendali. Hal ini dapat memperkuat persepsi positif investor terhadap kinerja keuangan perseroan.

Kebijakan tersebut sekaligus menunjukkan disiplin manajemen dalam merencanakan kebutuhan likuiditas jangka menengah. Dalam konteks industri semen yang kompetitif, stabilitas keuangan menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan operasional dan ekspansi usaha.

Profil Obligasi dan Ketentuan Penerbitan

Seperti diketahui, Obligasi Berkelanjutan I tahap II tahun 2019 seri B (peringkat idAAA) diterbitkan pada 28 Mei 2019 dengan tenor 7 tahun. Instrumen ini menjadi bagian dari program obligasi berkelanjutan yang dirancang untuk mendukung kebutuhan pendanaan perusahaan. Skema tersebut memberi fleksibilitas dalam penarikan dana sesuai kebutuhan.

Obligasi tersebut memiliki kupon 9,1 persen per tahun. Tingkat kupon ini mencerminkan kondisi pasar obligasi pada saat penerbitan dilakukan. Dengan tenor tujuh tahun, obligasi ini memberikan kepastian imbal hasil bagi investor hingga masa jatuh tempo.

Peringkat idAAA yang disematkan oleh Pefindo menunjukkan kualitas kredit yang sangat kuat. Dalam skala pemeringkatan domestik, idAAA merupakan kategori tertinggi yang mengindikasikan risiko gagal bayar yang sangat rendah. Hal ini menjadi faktor penting dalam menarik minat investor institusi maupun ritel.

Dengan struktur kupon tetap, perusahaan memiliki kewajiban pembayaran bunga secara periodik hingga pelunasan pokok pada akhir tenor. Konsistensi pembayaran kupon selama periode berjalan turut menjadi indikator kesehatan arus kas perusahaan.

Dampak Terhadap Struktur Keuangan Perseroan

Jatuh tempo obligasi senilai Rp 714 miliar ini akan menjadi salah satu agenda keuangan utama pada semester pertama 2026. Meski demikian, dengan posisi kas yang mencapai Rp 3,9 triliun, tekanan terhadap likuiditas relatif terbatas. Perusahaan memiliki ruang yang cukup untuk memenuhi kewajiban tersebut tanpa mengganggu operasional.

Pelunasan obligasi menggunakan dana internal berpotensi menurunkan total liabilitas jangka panjang perseroan. Setelah kewajiban tersebut dibayarkan, struktur utang perusahaan dapat menjadi lebih ringan. Hal ini dapat berdampak positif terhadap rasio utang terhadap ekuitas maupun indikator solvabilitas lainnya.

Di sisi lain, keputusan tidak melakukan refinancing menunjukkan manajemen percaya diri terhadap kondisi keuangan saat ini. Langkah ini juga bisa mengurangi beban bunga di masa mendatang, terutama jika perusahaan tidak mengganti obligasi tersebut dengan instrumen baru.

Bagi pasar obligasi nasional, informasi jatuh tempo ini menjadi bagian dari dinamika rutin emiten besar. Investor akan mencermati perkembangan hingga mendekati 28 Mei 2026 untuk memastikan proses pelunasan berjalan sesuai rencana. Dengan dukungan likuiditas yang kuat dan peringkat kredit tertinggi, SMGR dinilai berada pada posisi yang solid dalam menghadapi kewajiban tersebut.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

VinFast Gandeng Mitra Strategis Pasok 400 Unit Limo Green

VinFast Gandeng Mitra Strategis Pasok 400 Unit Limo Green

MPPA Borong Gedung dan Lahan Rp780 Miliar Meski Rugi Beruntun

MPPA Borong Gedung dan Lahan Rp780 Miliar Meski Rugi Beruntun

DAMRI Hadirkan Perjalanan Mewah Jakarta-Bali dengan Armada Premium Terbaru

DAMRI Hadirkan Perjalanan Mewah Jakarta-Bali dengan Armada Premium Terbaru

DAMRI Resmikan Layanan Bus AKAP Jakarta-Bali dengan Armada Premium Terbaru

DAMRI Resmikan Layanan Bus AKAP Jakarta-Bali dengan Armada Premium Terbaru

Jadwal Kapal Pelni Rute Sorong-Kalabahi Maret 2026, Cek KM Sirimau

Jadwal Kapal Pelni Rute Sorong-Kalabahi Maret 2026, Cek KM Sirimau