JAKARTA - PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), pengelola Hypermart, kembali melakukan langkah strategis dengan membeli sejumlah gedung dan lahan senilai total Rp780 miliar.
Aksi korporasi ini menarik perhatian karena dilakukan di tengah kondisi keuangan perusahaan yang masih mencatat rugi berturut-turut.
Corporate Secretary MPPA Mirtha Sukanti menilai penandatanganan perjanjian jual beli ini akan memberikan dampak positif terhadap kegiatan usaha, sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham perseroan. “Seluruh penyelesaian transaksi tersebut masih tunduk pada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi para pihak sebagaimana diatur dalam masing-masing perjanjian,” jelas Mirtha, Kamis.
Baca Juga
Meskipun berada dalam periode kerugian, langkah ini menunjukkan orientasi jangka panjang MPPA. Pembelian aset strategis diyakini dapat mendukung ekspansi operasional serta memperkuat posisi perseroan di sejumlah kota besar di Indonesia.
Manajemen menyebut bahwa aksi akuisisi lahan dan gedung ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi aset, yang diharapkan mampu memberikan fondasi lebih kuat bagi pertumbuhan bisnis di masa depan.
Rincian Pembelian Aset dan Nilai Transaksi
Berdasarkan keterbukaan informasi, MPPA melakukan akuisisi enam aset utama. Pertama, gedung pusat perbelanjaan Plaza Gresik dengan luas tanah 6.704 m² dan bangunan 15.848 m² dari PT Panca Megah Utama senilai Rp134,5 miliar.
Kedua, Sinar Matahari Bogor dengan luas tanah 2.056 m² dan bangunan 1.659 m² dari PT Surya Asri Lestari (SAL), dengan total nilai transaksi Rp49,5 miliar. Ketiga, Mega M Kedung Badak Bogor, juga dari SAL, memiliki luas tanah 8.001 m² dan bangunan 26.657 m² senilai Rp122 miliar.
Keempat, Gedung Merah ex Matahari Malioboro seluas 5.382 m² dari PT Nusa Malioboro Indah (NMI) senilai Rp68 miliar, beserta tambahan tanah 1.658 m² dari pemilik yang sama. Kelima, rumah susun seluas 16.138,06 m² di Kelurahan Dukuh Menanggal, Kecamatan Gayungan, dibeli dari PT Citra Cito Perkasa (CCP) senilai Rp351,5 miliar.
Keenam, MPPA membeli lahan 38.169 m² di Kelurahan Sukamurni dan Tobat, Kecamatan Balaraja, senilai Rp54,5 miliar dari PT Balaraja Sentosa. Transaksi ini menegaskan fokus MPPA pada pengembangan aset properti strategis di berbagai lokasi kunci.
Kinerja Keuangan 2025 Tetap Tertekan
Pembelian aset dilakukan setelah MPPA mengumumkan kinerja keuangan 2025. Perseroan mencatat rugi bersih Rp152,21 miliar, meningkat dari Rp118,1 miliar pada 2024. Kondisi ini menandai tahun ke-9 berturut-turut MPPA mencatat kerugian sejak 2017, dan membuat perseroan mengalami defisit ekuitas.
Rugi berturut-turut menunjukkan tekanan operasional yang belum teratasi meskipun perusahaan tetap melakukan ekspansi. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen fokus pada strategi jangka panjang, termasuk penguatan aset dan diversifikasi usaha.
MPPA terakhir mencetak laba bersih pada 2016 sebesar Rp38,48 miliar. Sejak saat itu, perseroan menghadapi tantangan pasar ritel yang kompetitif dan perubahan perilaku konsumen, terutama pergeseran ke e-commerce.
Alasan di Balik Akuisisi Aset Besar
Meskipun berada dalam kondisi rugi, MPPA menilai pembelian lahan dan gedung memberikan nilai tambah strategis. Aset properti yang diakuisisi diyakini bisa mendukung ekspansi gerai, meningkatkan kapasitas operasional, dan menjadi sumber pendapatan jangka panjang.
Mirtha menegaskan bahwa semua transaksi masih tunduk pada persyaratan perjanjian, sehingga implementasinya akan diawasi secara cermat. Fokus manajemen tetap pada pemenuhan nilai strategis dari setiap aset yang dibeli, bukan sekadar ekspansi nominal.
Langkah ini sejalan dengan strategi jangka panjang Grup Lippo untuk memperkuat portofolio properti di sektor ritel dan komersial. Keputusan ini diharapkan mampu mengoptimalkan nilai aset dan memperkuat posisi MPPA di pasar domestik.
Pandangan Investor dan Prospek Masa Depan
Investor mungkin menilai kombinasi rugi beruntun dengan akuisisi besar sebagai risiko, tetapi manajemen menekankan perspektif jangka panjang. Aset strategis dianggap sebagai fondasi yang akan mendukung pertumbuhan dan kestabilan keuangan di masa mendatang.
Dengan dukungan properti dan lokasi yang strategis, MPPA berharap mampu meningkatkan efisiensi operasional serta memperluas penetrasi pasar. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan untuk mempertahankan relevansi dalam industri ritel modern yang dinamis.
Manajemen juga memandang bahwa meski kinerja keuangan saat ini masih negatif, penguatan aset dan strategi diversifikasi akan menjadi faktor kunci dalam pemulihan dan pertumbuhan berkelanjutan perseroan di tahun-tahun mendatang.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kinerja Cashlez Worldwide Indonesia Tertekan 2025 Strategi Pemulihan 2026
- Kamis, 19 Februari 2026
DAMRI Hadirkan Perjalanan Mewah Jakarta-Bali dengan Armada Premium Terbaru
- Kamis, 19 Februari 2026
Berita Lainnya
Kinerja Cashlez Worldwide Indonesia Tertekan 2025 Strategi Pemulihan 2026
- Kamis, 19 Februari 2026
DAMRI Hadirkan Perjalanan Mewah Jakarta-Bali dengan Armada Premium Terbaru
- Kamis, 19 Februari 2026
DAMRI Resmikan Layanan Bus AKAP Jakarta-Bali dengan Armada Premium Terbaru
- Kamis, 19 Februari 2026
Jadwal Kapal Pelni Rute Sorong-Kalabahi Maret 2026, Cek KM Sirimau
- Kamis, 19 Februari 2026
Terpopuler
1.
2.
3.
Freeport Setujui 12 Persen Saham PTFI Dialihkan Gratis Indonesia
- 19 Februari 2026
4.
RI Gandeng AS Bangun Industri Semikonduktor Jumbo di Batam
- 19 Februari 2026
5.
Prabowo Klaim Hemat Anggaran Rp303 Triliun di Business Summit AS
- 19 Februari 2026








