JAKARTA - Optimisme pelaku pasar kembali terlihat sejak awal perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 19 februari 2026.
Menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung dibuka di zona hijau dengan dorongan kuat dari saham-saham berkapitalisasi besar. Sentimen menanti arah kebijakan moneter domestik membuat investor cenderung bersikap antisipatif, namun tetap selektif dalam menempatkan dana.
Sejak menit awal perdagangan, pergerakan indeks mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan suku bunga dan ketahanan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal global masih membayangi.
IHSG Menguat Sejak Pembukaan Perdagangan
Berdasarkan data RTI Business pukul 09.01 WIB, IHSG tercatat naik 0,47% atau bertambah 39,38 poin ke level 8.349,61. Sepanjang awal sesi, indeks bergerak dalam rentang 8.346 hingga 8.364, menandakan adanya konsolidasi sehat di tengah sentimen positif.
Total volume transaksi tercatat mencapai 1,11 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp632,32 miliar dan frekuensi transaksi sebanyak 91.184 kali. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 319 saham menguat, 103 saham melemah, dan 233 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia mencapai Rp15.155 triliun.
Komposisi pergerakan tersebut menunjukkan dominasi minat beli investor, terutama pada saham-saham unggulan yang dinilai defensif menjelang kepastian arah kebijakan suku bunga.
Saham Big Caps Jadi Penopang Penguatan
Penguatan IHSG pagi ini ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar yang bergerak solid di zona hijau. Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) menjadi salah satu kontributor utama dengan kenaikan 4,28% atau 40 poin ke level Rp975 per saham.
Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) juga mencatatkan penguatan signifikan sebesar 4,46% atau 35 poin ke posisi Rp820 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turut bergerak naik 0,69% atau 50 poin ke level Rp7.325 per saham.
Di sisi lain, tidak semua saham besar bergerak searah. Saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) tercatat melemah 0,47% ke level Rp5.250 per saham, sementara saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) terkoreksi 1,02% menuju Rp1.945 per saham. Pergerakan yang beragam ini mencerminkan selektivitas investor dalam merespons sentimen yang berkembang.
Deretan Top Gainers Pagi Ini
Di luar saham-saham unggulan, sejumlah emiten mencatatkan lonjakan tajam dan masuk dalam daftar top gainers pagi ini. Saham PT RMK Energy Tbk. (RMKO) memimpin penguatan dengan lonjakan 19,75% atau naik 160 poin ke level Rp970 per saham.
Saham PT Sinar Oto Sentosa Tbk. (SOTS) juga mencuri perhatian setelah melonjak 19,15% atau 360 poin ke posisi Rp2.240 per saham. Tidak kalah impresif, saham PT Indospring Tbk. (INDS) terbang 15,94% atau 440 poin ke level Rp3.200 per saham.
Lonjakan saham-saham tersebut mencerminkan adanya sentimen spesifik emiten yang dimanfaatkan investor untuk meraih peluang jangka pendek, di tengah fokus pasar yang lebih luas pada kebijakan makroekonomi.
Fokus Pasar Tertuju pada Keputusan RDG BI
Sebelumnya, IHSG diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (19/2/2026) dengan target pengujian resistance di kisaran 8.350–8.400. Optimisme ini didorong oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diumumkan hari ini.
Tim riset Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa perhatian utama investor tertuju pada keputusan suku bunga acuan. Konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, dengan Deposit Facility Rate sebesar 3,75% dan Lending Facility Rate di 5,50%.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 8.350-8.400,” tulis tim riset Phintraco Sekuritas, Kamis (19/2/2026).
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menanti rilis data pertumbuhan kredit Januari 2026 yang diproyeksikan stabil di kisaran 9,6% secara tahunan (YoY). Stabilitas kredit dinilai menjadi indikator penting bagi prospek sektor perbankan dan daya tahan konsumsi domestik.
Sentimen Global Masih Bayangi Pasar
Dari sisi eksternal, sentimen global masih menjadi faktor yang diperhitungkan investor. Pasar merespons risalah rapat Federal Reserve yang membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila inflasi belum sepenuhnya terkendali. Risalah tersebut menunjukkan hampir seluruh peserta FOMC sepakat mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% pada akhir Januari.
Meski demikian, sebagian pejabat bank sentral AS masih membuka opsi pengetatan lanjutan jika inflasi bertahan di atas target. Di sisi lain, data inflasi konsumen (CPI) Januari yang lebih rendah dari perkiraan memberikan ruang optimisme terbatas.
Investor global kini menanti rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada Jumat mendatang sebagai indikator utama arah inflasi Amerika Serikat. Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan harga komoditas, serta sikap hati-hati bank sentral AS berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Dalam kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas menilai saham-saham yang patut dicermati pelaku pasar antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), serta PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB).