Likuiditas Ekonomi Indonesia Tumbuh Positif: Uang Beredar Naik 5,9 Persen pada Januari 2025
- Jumat, 28 Februari 2025
JAKARTA– Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa likuiditas perekonomian Indonesia mencatat tren pertumbuhan positif pada awal 2025. Berdasarkan laporan BI, uang beredar dalam arti luas (M2) pada bulan Januari 2025 mencapai Rp 9.232,8 triliun, menunjukkan pertumbuhan mencapai 5,9 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan yang lebih baik dibandingkan bulan Desember 2024 yang mencatat pertumbuhan 4,8 persen.
Dorongan Tinggi dari Pertumbuhan M1 dan Uang Kuasi
Pertumbuhan positif likuiditas ini didorong oleh peningkatan signifikan pada komponen uang beredar sempit (M1) yang naik sebesar 7,2 persen, serta pertumbuhan uang kuasi sebesar 2,2 persen. Direktur Eksekutif Departemen Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit yang stabil dan aktiva luar negeri bersih yang mengalami kenaikan.
"Perkembangan M2 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih," ujar Ramdan dalam keterangan resmi yang diterima media pada Senin, 24 Februari 2025. Penyaluran kredit tetap kuat dengan pertumbuhan 9,6 persen (yoy), sedikit turun dari bulan Desember yang mencapai 9,7 persen. Ini menunjukkan stabilitas dalam siklus penyaluran kredit meskipun ada dinamika ekonomi yang terjadi.
Aktiva Luar Negeri Bersih Meningkat
Dalam hal aktiva luar negeri bersih, data menunjukkan peningkatan yang signifikan, tumbuh sebesar 2,4 persen pada Januari 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya 0,8 persen. Faktor ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap likuiditas keseluruhan dalam perekonomian.
Pengaruh Tagihan Bersih kepada Pemerintah
Sementara itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) masih mengalami kontraksi sebesar 14,3 persen (yoy). Meskipun demikian, ini merupakan perbaikan dibandingkan bulan Desember 2024, di mana kontraksi mencapai 17,5 persen. "Penurunan kontrak ini menunjukkan adanya perbaikan dalam pengelolaan keuangan negara, meski belum sepenuhnya pulih," tambah Ramdan.
Implikasi bagi Kebijakan Moneter
Pertumbuhan yang terukur dalam penyaluran kredit dan peningkatan aktiva luar negeri bersih menggambarkan kestabilan perekonomian Indonesia di tengah berbagai tantangan global. BI diharapkan akan terus memonitor kondisi ini dengan seksama untuk menyesuaikan kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Peningkatan ini tidak hanya berdampak pada level makroekonomi namun juga diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi di level mikro dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. "Dengan indikator likuiditas yang positif, kita dapat berharap pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ke depannya," jelas Ramdan.
Wahyu
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Pink Moon April 2026 Muncul Rabu Malam, BRIN Jelaskan Waktu dan Cara Melihatnya
- Selasa, 31 Maret 2026
Ditjenpas Siap Terapkan WFH Sesuai Regulasi Pemerintah Pusat Secara Bertahap
- Selasa, 31 Maret 2026
Garuda Indonesia Setop Rute Jakarta Bengkulu, Ini Alasan Resmi Kemenhub
- Selasa, 31 Maret 2026
Berita Lainnya
Belanja Online Ramadan 2026: Fashion Menjadi Primadona dan Produk Premium
- Selasa, 31 Maret 2026
Bank Jatim Catat Pertumbuhan Kinerja dan Laba Menguat Sepanjang Tahun 2025
- Selasa, 31 Maret 2026
5,5 Juta Wajib Pajak Belum Lapor SPT, Ini Panduan dan Contoh Isi Coretax
- Selasa, 31 Maret 2026













.jpg)