JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa setiap produk BBM baru, termasuk Bobibos, harus melalui serangkaian prosedur ketat sebelum dipasarkan.
Tujuannya adalah untuk memastikan perlindungan konsumen.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan bahwa proses ini panjang dan komprehensif. “Yang jelas harus lewat prosedur. Tujuannya untuk melindungi konsumen pada akhirnya. Panjang prosesnya,” ujar dia.
Baca JugaProgram Bedah Rumah PKP 2026, Ini Syarat dan Kriteria Penerimanya
Tahap Uji Fisika dan Kompatibilitas
Tahap awal mencakup uji fisika untuk menentukan spesifikasi produk dan jenis BBM yang sesuai. Selanjutnya, produk diuji kompatibilitas dan penyimpanan, termasuk uji stabilitas selama tiga bulan untuk melihat perubahan karakteristik.
Setelah itu, dilakukan uji kinerja (performance test) untuk membandingkan performa produk baru dengan BBM eksisting, yang mencakup kendaraan roda 2 maupun roda 4, terutama di daerah dengan populasi kendaraan tinggi.
Uji Ketahanan dan Perjalanan Lapangan
Produk BBM baru juga akan melewati uji ketahanan di laboratorium selama 1.000 jam, diikuti uji jalan sejauh 50.000 km. “Minimal itu setengah dari warranty-nya, yaitu 100 ribu km. Jadi memang panjang prosesnya, butuh waktu kurang lebih 8 bulan,” jelas Anggia.
Setelah melewati tahap laboratorium dan uji lapangan, produk harus disertifikasi oleh Ditjen Migas sebelum mengurus izin niaga. Proses panjang ini memastikan kualitas, keamanan, dan kinerja BBM sesuai standar.
Bobibos Siapkan Dua Jenis BBM
Founder Bobibos, M Ikhlas Thamrin, menjelaskan bahwa perusahaan menyiapkan dua jenis produk: pengganti bensin yang disebut biogasoline dan pengganti solar yang masih dalam pembahasan dengan tim EBTKE Kementerian ESDM.
Penentuan istilah dan klasifikasi terkait erat dengan penyusunan standar teknis sebagai dasar pengujian. Karena parameter untuk biogasoline belum tersedia, diperlukan forum diskusi melibatkan produsen mesin, regulator, akademisi, dan pengembang teknologi.
Kesiapan dan Kolaborasi Teknis
Menurut Ikhlas, penentuan parameter teknis membutuhkan komunikasi lintas pemangku kepentingan. Forum teknis atau FGD akan membantu menetapkan standar biogasoline yang jelas dan dapat diterapkan di seluruh industri.
Kolaborasi ini menjadi bagian penting agar produk BBM baru tidak hanya inovatif, tetapi juga memenuhi standar keselamatan dan kualitas, serta dapat diterima di pasar secara legal dan aman bagi konsumen.
Wildan Dwi Aldi Saputra
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Pilihan 3 Tempat Makan Keluarga Terfavorit di Semarang Nyaman dan Ramah Anak
- Sabtu, 04 April 2026
Resep Cumi Bakar Jimbaran Rumahan dengan Rasa Autentik Ala Chef Devina
- Sabtu, 04 April 2026
Waktu Makan Malam Ideal Ternyata Kunci Penting Menjaga Kesehatan Tubuh
- Sabtu, 04 April 2026
Rekomendasi Rute Kuliner Blok M Paling Efisien untuk Long Weekend Santai
- Sabtu, 04 April 2026
Langkah Mudah Mengatur Menu Makanan untuk Penyerapan Zat Besi Lebih Optimal
- Sabtu, 04 April 2026
Berita Lainnya
Harga Minyak Dunia Terus Naik Terdorong Krisis Timur Tengah dan WTI Menguat Tajam
- Selasa, 31 Maret 2026
Pertamina Klarifikasi Isu Kenaikan BBM Nonsubsidi Ditengah Dinamika Pasar Energi Global
- Selasa, 31 Maret 2026












