Breaking

Rupiah Tembus 18.020 per Dolar AS, RANC dan MIDI Sesuaikan Harga Jual

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 05 Juni 2026
Rupiah Tembus 18.020 per Dolar AS, RANC dan MIDI Sesuaikan Harga Jual
ILUSTRASI, Produk di Supermarket (Sumber Gambar : sentrarak.com)

JAKARTA – Sejumlah pelaku usaha ritel menyampaikan bahwa mereka telah melakukan penyesuaian terhadap kenaikan harga produk-produk yang memiliki kandungan bahan baku impor di tingkat konsumen. Langkah ini diambil seiring dengan masih terus berlangsungnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data dari TradingView, nilai tukar rupiah terpantau mengalami koreksi yang kian mendalam hingga melewati level Rp18.020 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026).

Direktur Finance PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) Suantopo Po menjelaskan bahwa komoditas ritel yang memakai unsur impor seperti susu, kacang hijau, hingga kedelai menjadi produk yang paling rentan terkena dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah tersebut.

Menurut penjelasannya, jika terjadi peningkatan harga dari pihak produsen akibat depresiasi rupiah, maka pihak peritel pun mau tidak mau akan menyesuaikan harga jualnya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia menyampaikan, “Contohnya seperti susu atau bahkan kacang hijau atau kedelai, impor pasti. Produk yang menggunakan bahan baku tersebut pasti akan mengalami [kenaikan biaya]. Pada prinsipnya apabila ada kenaikan harga, ya pasti otomatis kami akan menaikkan harga juga,” ujarnya pada Kamis (4/6/2026).

Meski begitu, ia memberikan penegasan bahwa peritel pada hakikatnya hanya bertindak sebagai rantai distribusi yang mengikuti regulasi harga yang dikeluarkan oleh pihak penyuplai.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia menambahkan, “Kami adalah retailer. Jadi mungkin ada atau tidak ada kenaikan harga kembali tergantung pada pabrikan,” ucapnya.

Di tengah situasi tekanan ekonomi tersebut, MIDI menyatakan tetap optimis menatap prospek bisnis pada tahun ini. Pihak perseroan melihat bahwa sektor ritel yang bergerak di bidang kebutuhan pokok harian masih mempunyai sifat defensif, sehingga relatif lebih tangguh dalam melewati berbagai macam guncangan ekonomi.

Selain berfokus mengekspansi jaringan bisnisnya, Perseroan juga terus memperkuat ekosistem digitalnya lewat pengembangan aplikasi belanja daring bernama Midi Kriing agar menjadi semakin ramah pengguna (user-friendly).

Sampai dengan akhir tahun 2025, total jumlah anggota Alfamidi sudah menembus angka 7,02 juta pelanggan, yang memberikan kontribusi mencapai 49,8% dari total keseluruhan penjualan Perseroan.

Dalam melewati situasi pasar yang kian kompetitif, Alfamidi pun menerapkan strategi optimalisasi jaringan gerai lewat analisis preferensi dari para pelanggan.

Hal ini dilakukan demi menyesuaikan ketersediaan barang, menyajikan program promosi yang relevan, serta memberikan sebuah pengalaman berbelanja yang jauh lebih personal untuk para konsumen.

Penyesuaian Harga Ranch Market Sikap yang senada juga diutarakan oleh manajemen pengelola Ranch Market, yakni PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC). Pihak perseroan membenarkan bahwa langkah penyesuaian harga memang sudah mulai diterapkan pada sebagian besar produk yang disalurkan oleh vendor.

Direktur RANC Hady Purnama memaparkan bahwa lonjakan harga jual tersebut sejatinya bermula dari para pemasok yang sudah lebih dahulu melakukan penyesuaian harga akibat beban biaya operasional yang mereka tanggung.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia menjelaskan, “Sebagian besar sudah ada penyesuaian, karena pihak vendornya sendiri sudah melakukan penyesuaian harga,” tuturnya.

Pihak perseroan pun memantapkan pilihan untuk lebih fokus dalam mengawal pertumbuhan penjualan dengan cara mendongkrak daya tarik gerai serta memperkuat skema promosi mereka. Strategi ini diaplikasikan di tengah situasi daya beli masyarakat yang masih lesu disertai nilai tukar rupiah yang terus-menerus tertekan.

Pihak manajemen memproyeksikan bahwa kesuksesan dalam menjaga stabilitas angka kunjungan pelanggan akan menjadi instrumen yang sangat krusial dalam mengejar target pendapatan di tahun ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia mengatakan, “Kami akan terus berusaha dengan kondisi daya beli masyarakat yang lemah dan nilai rupiah yang terus turun. Bagaimana caranya bisa memberikan penawaran produk yang menarik, promo yang tepat sasaran, kondisi toko yang menyenangkan, pengalaman berbelanja yang lebih dari sekadar belanja, sehingga bisa menarik trafik pelanggan ke toko kami,” ungkapnya.

Berdasarkan pandangannya, kualitas operasional toko adalah kunci utama guna mempertahankan loyalitas dari para pelanggan di tengah situasi kompetisi industri ritel yang kian ketat saat ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia memungkasi, “Harapannya dengan proses operasional yang baik, customer kami tetap setia dan tetap berbelanja di kami, sehingga target pendapatan yang kami letakkan untuk tahun ini bisa dicapai,” pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua