Jumat, 15 Mei 2026

Bitcoin Jadi Safe Haven Saat Inflasi AS Melonjak dan Nasdaq Anjlok

Bitcoin Jadi Safe Haven Saat Inflasi AS Melonjak dan Nasdaq Anjlok
Ilustrasi Bitcoin (Gambar: lintas.net.id)

JAKARTA – Di tengah besarnya tekanan pada berbagai instrumen berisiko serta melonjaknya inflasi Amerika Serikat (AS) ke level tertinggi dalam tiga tahun, Bitcoin justru menunjukkan dinamika yang menarik perhatian.

Pada saat yang bersamaan, inflasi konsumen Amerika Serikat (CPI) tercatat meroket hingga 3,8% secara tahunan pada April 2026, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2023, dengan kenaikan bulanan sebesar 0,6% yang melampaui prediksi Wall Street.

Kenaikan harga energi sebesar 17,9% secara year-on-year menyumbang lebih dari 40% dari total kenaikan CPI, sementara harga bensin meningkat 28,4% dalam setahun.

Baca Juga

Jadwal Dividen CITA Rp 351 Per Saham dengan Yield 10,06 Persen

Harga bahan makanan rumah tangga juga naik 0,7% dalam sebulan, yang menjadi lompatan terbesar sejak Agustus 2022. Di tengah situasi tersebut, upah riil para pekerja di AS justru mengalami penurunan sebesar 0,5%.

Fahmi Almuttaqin, selaku Analis Reku, mengamati bahwa reaksi pasar segera terasa. Indeks Nasdaq merosot hampir 2% sebelum akhirnya rebound, sementara S&P 500 terkoreksi 0,4% dari rekor tertingginya.

Saham-saham perusahaan penambangan kripto mengalami kejatuhan paling dalam, yakni MARA -5%, CleanSpark -5,8%, dan Riot -3,2%. Namun, pada Kamis (14/5/2026) pukul 16.30 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 79.787,3 atau menguat 6,6% dalam satu bulan terakhir.

Menurut pandangan Fahmi, kondisi ini mengindikasikan bahwa modal tidak keluar dari ekosistem kripto, melainkan bergeser dari aset altcoin ke Bitcoin sebagai safe haven internal.

"Bitcoin sempat swing higher sesaat setelah data CPI dirilis, bergerak searah dengan yield Treasury, bukan searah dengan Nasdaq. Ini menyoroti perilaku harga yang semakin relevan untuk diperhatikan sebagai instrumen diversifikasi dan growth engine dalam portofolio investor," jelas Fahmi dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lebih lanjut, dipaparkan bahwa pekan ini terdapat tiga katalis yang berpotensi menggerakkan pasar secara signifikan. Pada Kamis, 14 Mei pukul 21:30 WIB, Senate Banking Committee AS dijadwalkan melaksanakan markup hearing CLARITY Act, yaitu RUU yang akan menetapkan status hukum Bitcoin sebagai komoditas di AS.

Pada Jumat, 15 Mei, Jerome Powell resmi mengakhiri masa jabatannya dan digantikan oleh Kevin Warsh, yang akan menjadi Ketua Fed pertama dalam sejarah yang secara terbuka berinvestasi di aset kripto.

Sementara itu, Trump tengah melakukan negosiasi dengan Xi Jinping di Beijing terkait masalah perdagangan dan teknologi AI.

Bagi para investor di Indonesia, inflasi energi sebesar 17,9% di AS menandakan bahwa tekanan harga minyak dunia belum akan mereda. Nilai tukar rupiah telah melemah melampaui level Rp 17.500 per dolar AS, di mana pelemahan ini bahkan sudah mulai terjadi beberapa jam sebelum data inflasi AS dipublikasikan.

Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan BBM, sehingga setiap kenaikan harga minyak Brent akan memperlebar defisit APBN dan menekan daya beli serta pertumbuhan bisnis domestik.

Apabila The Fed menunda pemotongan suku bunga hingga tahun 2027, dolar AS berpotensi terus menguat dan semakin membebani mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah.

Fahmi menggarisbawahi bahwa dalam situasi ini, Bitcoin baru saja membuktikan kemampuannya untuk bertahan saat inflasi melonjak dan pasar saham berada dalam tekanan.

"Meskipun ini bukan jaminan, data menunjukkan posisi Bitcoin yang semakin strategis, baik sebagai inflation hedge maupun reserve asset di tengah erosi daya beli mata uang fiat," tutup Fahmi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Akbar

Akbar

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Saham CITA Bagi Dividen Rp 35.100 Per Lot Saat Harga Turun 21 persen

Saham CITA Bagi Dividen Rp 35.100 Per Lot Saat Harga Turun 21 persen

UMKM Wajib Geber Transaksi Digital demi Perkuat Ekonomi Nasional

UMKM Wajib Geber Transaksi Digital demi Perkuat Ekonomi Nasional

Aksi Jual Saham CEO Cigna David Cordani Capai 59,1 Juta Dolar AS

Aksi Jual Saham CEO Cigna David Cordani Capai 59,1 Juta Dolar AS

Saham SHIP Ambles 37 Persen, Inilah Daftar 10 Saham Top Losers Sepekan

Saham SHIP Ambles 37 Persen, Inilah Daftar 10 Saham Top Losers Sepekan

Peluang Trading Saham RATU, ELSA, dan ADMR di Tengah Tekanan Pasar

Peluang Trading Saham RATU, ELSA, dan ADMR di Tengah Tekanan Pasar