Harga Kopi Berbalik Turun Efek Penguatan USD, Stok ICE Makin Menipis
- Rabu, 13 Mei 2026
JAKARTA - Nilai komoditas kopi pada hari ini, 13 Mei, terpantau berbalik arah ke zona negatif seiring dengan menguatnya nilai tukar USD.
Di bursa London, sebagian besar harga kontrak mencatatkan penurunan, kecuali untuk kontrak berjangka kopi robusta Mei 2026 yang justru meningkat sebesar $90 (+2,47%) ke posisi $3.734/ton.
Sementara itu, kontrak Juli 2026 menyusut sebesar $22/ton (-0,63%) ke angka $3.482/ton, dan kontrak September 2026 melemah $19/ton (-0,56%) menjadi $3.363/ton. Nilai kontrak lainnya juga dilaporkan merosot dalam kisaran $12-14/ton.
Baca JugaMinyak WTI Tembus USD 102,18, Harga Timah Justru Melemah di LME
Situasi serupa melanda bursa New York. Kecuali kontrak kopi arabika Mei 2026 yang menanjak 8,9 sen AS/pon (+3,07%) menjadi 298,6 sen AS/pon, harga kontrak lainnya tercatat turun.
Untuk kontrak Juli 2026 terjadi penyusutan 2,15 sen AS/pon (-0,76%) ke level 280,15 sen AS/pon, dan kontrak September 2026 jatuh 2,05 sen AS/pon (-0,75%) ke angka 272,8 sen AS/pon. Adapun kontrak lainnya mengalami pelemahan sebesar 1,6-1,95 sen/pon.
Menyadur data Barchart, posisi harga kopi berada di bawah tekanan akibat fluktuasi kurs USD yang cenderung menguat selama sesi perdagangan Selasa.
Kendati demikian, koreksi harga kopi cenderung terbatas lantaran berlanjutnya pengetatan pada persediaan kopi di ICE.
Stok kopi arabika di ICE berkurang ke titik terendah dalam dua setengah bulan di angka 471.831 karung pada Selasa.
Di samping itu, persediaan kopi robusta di ICE menyentuh level paling rendah dalam dua tahun, yakni sebesar 3.664 lot pada hari yang sama. Blokade yang masih berlangsung di Selat Hormuz turut menghambat jalur pasokan kopi global dan menjadi penyangga kenaikan harga.
Penutupan akses selat tersebut memicu kelangkaan kopi akibat lonjakan biaya pengiriman global, asuransi, pupuk, serta bahan bakar, yang secara langsung menaikkan beban biaya bagi para importir dan pengolah kopi.
Faktor lain yang menyokong harga adalah merosotnya produksi kopi dari Brasil. Pada 14 April, Cecafe merilis laporan bahwa ekspor kopi hijau Brasil di bulan Maret turun 10% secara tahunan menjadi 2,65 juta karung.
Sebelumnya, pada 7 April, Kementerian Perdagangan Brasil menyebutkan bahwa ekspor kopi negara tersebut pada Maret anjlok 31% dibandingkan tahun lalu menjadi 151.000 ton.
Dalam perkembangan lainnya, Reuters mengutip laporan mingguan perusahaan pialang Brasil, Carvalhaes, menyebutkan bahwa Brasil sebagai produsen kopi terbesar di dunia diprediksi akan meraih panen melimpah tahun ini.
Meski demikian, para petani terpantau masih cukup lambat dalam menjual hasil panen mereka. Menurut pengamatan para pedagang, penguatan mata uang real Brasil yang kini berada di level tertinggi terhadap USD sejak Januari 2024 menjadi penyebab perlambatan penjualan tersebut karena mengurangi nominal mata uang lokal yang diterima petani dari hasil transaksi mereka.
Ibtihal
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026












