Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS Hari Ini, Simak Proyeksi dan Sentimen Pekan Depan
- Jumat, 03 April 2026
JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar keuangan pada awal April 2026.
Mata uang Garuda tercatat melemah dan menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, sebuah titik yang sering menjadi acuan penting bagi pelaku pasar.
Pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11% secara harian ke Rp17.002 per dolar AS, mengutip data Bloomberg. Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga mengalami pelemahan sebesar 0,07% secara harian ke Rp17.015 per dolar AS.
Baca JugaUpdate Harga Emas Antam Hari ini, 3 April 2026 Turun Rp65.000 Hari Ini, Cek Rinciannya Lengkap
Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global dan berbagai sentimen eksternal yang memengaruhi pasar keuangan.
Geopolitik Timur Tengah Jadi Sentimen Utama Pergerakan Rupiah
Analis Mata Uang, Ibrahim menilai bahwa pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir sangat dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran pasar.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan oleh AS serta adanya serangan rudal terhadap Israel.
Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan untuk menghadapi invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan menunjukkan adanya pengerahan ribuan pasukan Amerika ke kawasan tersebut. Meski demikian, Gedung Putih menyebutkan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan berjalan dengan baik.
“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujar Ibrahim.
Ketidakpastian geopolitik ini mendorong pelaku pasar global untuk mencari aset yang lebih aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan dari Defisit APBN dan Harga Minyak Dunia
Selain faktor eksternal, rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi domestik, khususnya terkait dengan potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah memperkirakan defisit akan meningkat seiring naiknya harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel diperkirakan akan menambah beban defisit sebesar Rp6 triliun. Sebelumnya, target defisit APBN ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, jika harga minyak dunia bertahan di level US$100 per barel sepanjang tahun, defisit APBN berpotensi melebar hingga 2,9% terhadap PDB. Meski demikian, pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk mengantisipasi kondisi tersebut, mengingat harga minyak yang masih berfluktuasi.
Pemerintah sendiri menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) berada di level US$70 per barel.
Faktor Global dan Kebijakan The Fed Jadi Penentu Arah Rupiah
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor global yang cukup dominan.
Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), termasuk perkembangan suku bunga acuan. Selain itu, rilis data ekonomi Amerika Serikat seperti Nonfarm Payrolls (NFP) dan inflasi juga akan menjadi perhatian utama.
Tidak hanya itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga komoditas, khususnya minyak, turut menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen pasar dan arus modal ke negara berkembang.
Dari sisi domestik, penurunan inflasi Indonesia ke level 3,48% secara year on year (YoY) pada Maret memberikan sinyal meredanya tekanan harga. Namun demikian, dampaknya terhadap penguatan rupiah dinilai masih terbatas.
“Kebijakan Bank Indonesia melalui instrumen seperti SVBI dan SUVBI diharapkan dapat menjaga stabilitas dan likuiditas valas, namun dalam jangka pendek pergerakan rupiah masih akan lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika eksternal,” ujar Amru.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Pekan Depan
Dengan berbagai faktor yang memengaruhi, para analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan berada dalam tekanan, meskipun relatif stabil.
Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.980 hingga Rp17.120 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Sementara itu, Amru memperkirakan rentang pergerakan yang sedikit berbeda, yakni Rp16.950 hingga Rp17.100 per dolar AS.
Secara umum, pergerakan rupiah diperkirakan akan cenderung stabil dengan bias melemah terbatas. Hal ini disebabkan oleh dominasi tekanan eksternal, terutama dari sisi geopolitik dan kebijakan global.
Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka apabila sentimen global membaik, seperti meredanya konflik di Timur Tengah atau adanya sinyal kebijakan moneter yang lebih akomodatif dari bank sentral Amerika Serikat.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global dan domestik secara cermat, mengingat fluktuasi nilai tukar masih sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal yang sulit diprediksi.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Rekomendasi Kuliner Malam Klaten dengan Hidangan Legendaris Wajib Dicoba
- Jumat, 03 April 2026
Paskah 2026: Produk Cokelat Ukuran Kecil Semakin Digemari Semua Kalangan
- Jumat, 03 April 2026
Berita Lainnya
Harga Buyback Emas Perhiasan Di Rajaemas Stabil Hari Jumat 3 April 2026
- Jumat, 03 April 2026












