Jumat, 27 Februari 2026

Anjuran Berbuka Puasa dengan Manis Saat Ramadan dan Penjelasan Sunnahnya

Anjuran Berbuka Puasa dengan Manis Saat Ramadan dan Penjelasan Sunnahnya
Anjuran Berbuka Puasa dengan Manis Saat Ramadan dan Penjelasan Sunnahnya

JAKARTA - Saat azan Magrib berkumandang di bulan Ramadan, banyak orang langsung teringat satu kalimat yang begitu populer: berbukalah dengan yang manis.

Anjuran ini seolah telah menjadi bagian dari tradisi yang terus diulang dari generasi ke generasi. Namun, di balik kebiasaan tersebut, terdapat penjelasan yang lebih dalam, baik dari sisi agama maupun kesehatan.

Selama berpuasa seharian penuh, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman. Aktivitas tetap berjalan seperti biasa, sehingga cadangan energi di dalam tubuh pun perlahan berkurang. Dalam kondisi ini, kadar gula darah menjadi salah satu sumber energi utama yang digunakan untuk menunjang aktivitas. Ketika cadangan tersebut menipis, seseorang bisa merasakan lemas, mengantuk, bahkan kurang fokus.

Baca Juga

7 Platform AI Terbaik 2026 dari IBM dan Amazon untuk Transformasi Bisnis Digital Modern

Karena itu, mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung rasa manis saat berbuka sering dipahami sebagai cara cepat untuk mengembalikan energi. Meski demikian, pemahaman ini tidak hanya bersumber dari pertimbangan kesehatan, tetapi juga dikaitkan dengan kebiasaan Rasulullah SAW saat berbuka puasa.

Penjelasan dari Sisi Kesehatan

Dari sudut pandang kesehatan, tubuh yang berpuasa akan terus menggunakan cadangan gula sebagai bahan bakar. Tanpa asupan selama kurang lebih 12 jam atau lebih, kadar gula darah dapat menurun. Kondisi inilah yang menyebabkan rasa lemas dan kantuk sering muncul menjelang waktu berbuka.

Maka dari itu, ketika waktu berbuka tiba, dianjurkan untuk mengisi kembali energi yang hilang tersebut. Makanan manis dinilai mampu membantu meningkatkan kadar gula darah dengan lebih cepat dibandingkan makanan berat yang membutuhkan proses pencernaan lebih lama. Energi yang kembali terisi tidak hanya berguna untuk melanjutkan ibadah di malam hari, tetapi juga sebagai bekal untuk menjalani puasa keesokan harinya.

Meski begitu, penting dipahami bahwa anjuran ini bukan berarti membebaskan diri untuk mengonsumsi makanan manis secara berlebihan. Tujuan utamanya adalah mengembalikan energi secukupnya, bukan justru menimbulkan dampak kesehatan lain akibat konsumsi gula yang tidak terkontrol.

Dasar Hadits tentang Cara Rasulullah Berbuka

Jika ditelusuri lebih jauh, kalimat “berbukalah dengan yang manis” sebenarnya tidak secara eksplisit disebutkan dalam hadits. Yang ada adalah riwayat tentang kebiasaan Rasulullah SAW ketika berbuka puasa.

Seperti hadits yang diriwayatkan oleh HR. Ahmad, Abu Dawud:

…? ????? ?????????? ??? ???? ???? ???? ???????? ?????? ???? ????????? ????? ????????? ?????? ???? ?????? ????????? ????????????? ?????? ???? ?????? ??????????? ????? ????????? ???? ????? ..?.?

Artinya: "Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab maka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr maka dengan beberapa teguk air." (HR. Ahmad, Abu Dawud).

Dalam hadits tersebut tidak disebutkan secara langsung bahwa Nabi mengonsumsi “makanan manis” secara umum. Yang disebutkan adalah kurma ruthab, kemudian kurma tamr, dan jika tidak tersedia maka cukup dengan beberapa teguk air. Kurma memang memiliki rasa manis alami, sehingga dari sinilah muncul pemahaman bahwa berbuka dengan yang manis merupakan bagian dari sunnah yang dicontohkan.

Dengan demikian, anjuran tersebut lebih tepat dipahami sebagai mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW yang memulai berbuka dengan kurma atau air, bukan sebagai kewajiban untuk selalu menyajikan aneka hidangan manis.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

Dalam perkembangannya, para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai praktik ini. Sebagian memahami bahwa karena kurma memiliki rasa manis, maka makanan manis lainnya dapat menjadi pengganti apabila kurma tidak tersedia. Pendapat ini di antaranya dijelaskan oleh Al-Hattab Ar-Ru’aini dalam kitab Mawahibul Jalil.

Pemahaman tersebut membuka ruang bahwa esensi sunnah terletak pada mengonsumsi sesuatu yang mengandung rasa manis alami sebagai pembuka puasa, sehingga makanan lain yang memiliki karakteristik serupa bisa menggantikan kurma dalam kondisi tertentu.

Namun, ada pula pandangan berbeda seperti yang disampaikan oleh Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad. Ia menekankan bahwa sunnah ini tidak bersifat memaksa. Artinya, tidak berdosa apabila seseorang tidak berbuka dengan kurma atau makanan manis lainnya. Meski demikian, mengikuti kebiasaan Nabi dengan mengonsumsi kurma dan air putih tetap dinilai sebagai pilihan yang lebih utama.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa ajaran Islam memberikan kelonggaran selama tetap berada dalam koridor tuntunan yang benar. Yang terpenting bukanlah sekadar rasa manisnya, melainkan mengikuti contoh Rasulullah SAW dengan penuh kesadaran dan tidak berlebihan.

Meneladani Sunnah dengan Bijak

Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa anjuran berbuka dengan yang manis berakar dari kebiasaan Rasulullah SAW yang memulai berbuka dengan kurma atau air. Secara kesehatan, hal ini juga sejalan dengan kebutuhan tubuh untuk segera mendapatkan asupan energi setelah seharian berpuasa.

Namun, penting untuk tetap bijak dalam memaknainya. Sunnah ini tidak dipaksakan, dan tidak ada dalil yang secara tegas memerintahkan untuk selalu mengonsumsi makanan manis dalam arti luas. Mengikuti sunnah Nabi dengan berbuka menggunakan kurma dan air putih menjadi pilihan yang lebih sesuai dengan tuntunan.

Membatasi konsumsi makanan manis lainnya juga menjadi langkah yang baik agar ibadah puasa tetap membawa manfaat, tidak hanya secara spiritual tetapi juga bagi kesehatan. Dengan pemahaman yang utuh, tradisi berbuka tidak sekadar menjadi kebiasaan, melainkan bagian dari upaya meneladani Rasulullah SAW secara proporsional dan penuh kesadaran.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Jadwal SIM Keliling Bandung Jumat 27 Februari 2026: Lokasi, Syarat, dan Biaya Terbaru

Jadwal SIM Keliling Bandung Jumat 27 Februari 2026: Lokasi, Syarat, dan Biaya Terbaru

Kata Kata Islami Hari Kesembilan Puasa Ramadhan 2026 Inspiratif Penuh Semangat

Kata Kata Islami Hari Kesembilan Puasa Ramadhan 2026 Inspiratif Penuh Semangat

Belum Mandi Junub Sampai Imsak Apakah Puasa Ramadhan Tetap Sah

Belum Mandi Junub Sampai Imsak Apakah Puasa Ramadhan Tetap Sah

Niat Puasa Ramadan Syarat Sah Lafaz dan Penjelasan Lengkap Fikih

Niat Puasa Ramadan Syarat Sah Lafaz dan Penjelasan Lengkap Fikih

Jadwal Imsak Pekanbaru 27 Februari 2026 Lengkap Niat Puasa Ramadan

Jadwal Imsak Pekanbaru 27 Februari 2026 Lengkap Niat Puasa Ramadan