RI Kembangkan Listrik dari Sampah Lewat Skema Investasi Asing
- Jumat, 27 Februari 2026
JAKARTA - Upaya Indonesia mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat pasokan energi kini memasuki babak baru.
Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara memastikan proyek Waste to Energy (WTE) akan segera direalisasikan. Program ini tidak hanya berfokus pada produksi listrik, tetapi juga mewajibkan adanya transfer teknologi dari mitra asing kepada tenaga kerja lokal.
Direktur Investments Danantara Investment Management (DIM) Fadli Rahman menegaskan bahwa pihaknya mewajibkan mitra asing melakukan transfer teknologi sebagai bagian dari syarat kerja sama. Hal ini diwujudkan melalui pelibatan dan pelatihan tenaga kerja lokal.
Baca JugaKemenekraf Dorong UMKM Lhokseumawe Tembus Pasar Nasional Lewat Bazar Ramadan
"Harus dong ada transfer teknologi. Syaratnya dari mana? Dari jumlah orang lokal yang bekerja di situ. Itu penting. Orang lokal yang di-training. Pemerintah daerah di sana akan di-training juga, dibawa ke Cina atau ke Jepang atau ke Eropa untuk belajar ini caranya gimana begitu," kata dia.
Transfer Teknologi Jadi Syarat Utama
Kewajiban transfer teknologi menjadi fondasi utama dalam kerja sama proyek WTE ini. Danantara memastikan bahwa setiap pengembang asing tidak hanya menanamkan modal, tetapi juga membagikan pengetahuan dan keahlian teknis kepada sumber daya manusia Indonesia.
Pelatihan tenaga kerja lokal menjadi indikator konkret dalam skema tersebut. Tidak hanya pekerja teknis, pemerintah daerah setempat juga akan mendapatkan kesempatan belajar langsung ke luar negeri, seperti ke Cina, Jepang, atau Eropa. Tujuannya agar daerah mampu mengelola sistem secara mandiri di masa depan.
Dengan pendekatan ini, proyek tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik, melainkan mendorong peningkatan kapasitas nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi modern.
Bukan Sekadar Bakar Sampah
Ia lantas menegaskan bahwa proyek WTE bukan sekadar membakar sampah menjadi listrik. Namun demikian, proyek ini juga dirancang sebagai transformasi sistem manajemen sampah di daerah.
"Karena proyek Waste to Energy itu bukan proyek membakar sampah menjadi listrik, bukan. Ini adalah proyek manajemen sampah yang menjadi katalis untuk transformasi pengelolaan sampah di daerah tersebut," ujarnya.
Penegasan ini menunjukkan bahwa orientasi proyek lebih luas daripada sekadar menghasilkan energi. Sistem pengelolaan sampah terpadu diharapkan dapat memperbaiki tata kelola limbah, mengurangi penumpukan di tempat pembuangan akhir, serta meningkatkan efisiensi pengolahan.
Nilai Investasi dan Kota Tahap Awal
Lebih lanjut, Fadli membeberkan bahwa kebutuhan investasi untuk proyek WTE pada tahap pertama rata-rata berkisar antara US$150-170 juta per lokasi. Adapun, tahap awal pengembangan mencakup empat kota yaitu Bekasi, Denpasar, Yogyakarta, dan Bogor.
"Total investasi batch pertama jadi rata-rata investasi itu antara US$150-170 juta per lokasi. Katakan US$150 juta lah biar gampang, total investasinya berarti US$600 juta di batch pertama aja empat daerah begitu," kata Fadli.
Dengan estimasi tersebut, total investasi awal untuk empat kota mencapai sekitar US$600 juta. Nilai ini mencerminkan skala proyek yang cukup besar dan menuntut kesiapan infrastruktur serta koordinasi lintas pihak.
Empat kota yang dipilih pada tahap awal dinilai memiliki kebutuhan mendesak dalam pengelolaan sampah sekaligus potensi untuk pengembangan sistem energi berbasis limbah.
Skema Pendanaan dan Dominasi FDI
Menurut Fadli dari sisi pendanaan, Danantara menetapkan skema pembiayaan dengan komposisi 70% debt dan 30% equity. Sementara, untuk struktur kerja sama memungkinkan mitra asing memegang porsi saham mayoritas.
"Kita Danantara tuh megang 30%, 70% tuh yang megang mitra asingnya, ya kan? Jadi ini funding-nya ya dari luar semua. Jadi ini adalah Foreign Direct Investment (FDI) nih," tambahnya.
Skema tersebut menunjukkan bahwa proyek WTE sangat mengandalkan pendanaan eksternal dalam bentuk Foreign Direct Investment. Dengan komposisi kepemilikan mayoritas di tangan mitra asing, Danantara tetap menjaga porsi strategis melalui kepemilikan 30 persen.
Model ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek tanpa membebani anggaran dalam negeri secara berlebihan. Di sisi lain, kewajiban transfer teknologi menjadi instrumen penting agar manfaat investasi asing tidak hanya berhenti pada aspek finansial.
Melalui kombinasi investasi besar, kewajiban alih teknologi, serta penguatan kapasitas daerah, proyek Waste to Energy diposisikan sebagai langkah strategis dalam menjawab dua tantangan sekaligus persoalan sampah dan kebutuhan energi.
Jika berjalan sesuai rencana, inisiatif ini berpotensi menjadi model pengelolaan sampah modern yang terintegrasi di berbagai kota Indonesia.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Oppo Reno15 Series Resmi Meluncur Bawa Kamera Selfie 50MP dan Teknologi AI
- Jumat, 27 Februari 2026
Oppo A6t Pro 5G Resmi Meluncur Andalkan Baterai Raksasa Serta Layar Mulus
- Jumat, 27 Februari 2026
Xiaomi Pad 8 Segera Rilis di Indonesia Dengan Chipset Snapdragon 8s Gen 4
- Jumat, 27 Februari 2026
Update Daftar Harga HP Xiaomi Februari 2026 Xiaomi 15T Dibanderol Rp7 Jutaan
- Jumat, 27 Februari 2026
Bodi BYD Atto 1 Tetap Utuh Meski Ditimpa Lengan Baja Ekskavator 22 Ton
- Jumat, 27 Februari 2026
Berita Lainnya
BP Tapera Laporkan Penyaluran Rumah Subsidi Meningkat Signifikan Hingga Februari
- Jumat, 27 Februari 2026












