JAKARTA - Pasar energi global kembali menunjukkan dinamika menjelang akhir pekan, ketika pelaku pasar bersiap menghadapi jeda perdagangan yang lebih panjang di Amerika Serikat.
Momentum ini dimanfaatkan investor untuk melakukan penyesuaian strategi, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan isu pasokan yang masih membayangi pergerakan harga minyak dunia.
Penguatan harga minyak pada perdagangan Jumat mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar global. Banyak investor memilih menutup posisi jual mereka, menghindari risiko fluktuasi yang berpotensi terjadi selama libur panjang. Situasi ini membuat pasar bergerak lebih defensif, meski sentimen global belum sepenuhnya pulih.
Baca JugaASN Kementerian ESDM Perkuat Tata Kelola Tambang Lewat Big Data
Dinamika Pasar Menjelang Libur Panjang
Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat menjelang libur panjang tiga hari di Amerika Serikat. Kondisi ini terjadi ketika investor menutup posisi short dan mencermati kembali risiko pasokan yang masih menjadi perhatian utama pasar global.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik 37 sen atau 0,58 persen ke level US$ 64,13 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate menguat 25 sen atau 0,42 persen menjadi US$ 59,44 per barel.
Kenaikan tersebut bukan semata didorong oleh permintaan fisik, melainkan lebih kepada faktor teknikal dan strategi jangka pendek pelaku pasar. Menjelang libur Martin Luther King di Amerika Serikat, likuiditas pasar cenderung menurun sehingga investor memilih mengamankan posisi mereka lebih awal.
Aksi Investor Menutup Posisi Jual
Analis menilai pergerakan harga pada akhir pekan ini lebih banyak dipicu oleh aksi pelaku pasar yang tidak ingin terjebak dalam posisi short selama libur panjang. Ketika pasar tutup, potensi munculnya sentimen mendadak dari geopolitik atau kebijakan menjadi risiko yang ingin dihindari investor.
Penutupan posisi jual ini memberikan dorongan sementara terhadap harga minyak. Meski kenaikannya relatif terbatas, sentimen tersebut cukup untuk mengangkat harga di tengah kondisi pasar yang sebelumnya tertekan.
Langkah investor ini mencerminkan kehati-hatian yang masih tinggi. Pasar energi global belum menemukan katalis kuat untuk mendorong tren naik berkelanjutan, sehingga pergerakan harga masih sangat sensitif terhadap berita dan spekulasi jangka pendek.
Bayang Bayang Risiko Geopolitik
Selain faktor teknikal, pasar juga terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran tetap menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi pasokan minyak global, terutama jika eskalasi meningkat.
Armada kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln diperkirakan akan tiba di Teluk Persia pada pekan depan setelah menjalani operasi di Laut China Selatan. Kehadiran armada ini menambah perhatian pasar terhadap stabilitas kawasan tersebut.
Namun demikian, kekhawatiran pasar sempat mereda setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan meredanya kerusuhan di Iran. Sebelumnya, situasi ini sempat mendorong harga minyak melonjak lebih dari empat persen sebelum akhirnya kembali turun tajam.
Pasokan Global dan Proyeksi Harga
Di sisi lain, potensi peningkatan pasokan dari Venezuela juga menjadi faktor yang menahan laju kenaikan harga minyak. Hingga saat ini, pasokan dari negara tersebut belum menunjukkan lonjakan besar seperti yang sebelumnya diperkirakan oleh pasar.
Analis pasar menilai bahwa meskipun risiko geopolitik tetap ada, fundamental pasokan global masih relatif kuat. Kondisi ini membuat ruang kenaikan harga minyak dalam waktu dekat menjadi terbatas.
Brent diperkirakan akan bergerak dalam kisaran US$ 57 hingga US$ 67 per barel untuk beberapa waktu ke depan. Pergerakan di luar rentang tersebut dinilai baru akan terjadi jika permintaan dari China pulih secara signifikan atau muncul gangguan pasokan fisik yang serius.
Dengan kombinasi faktor teknikal, geopolitik, dan fundamental pasokan, pasar minyak dunia masih berada dalam fase konsolidasi. Investor cenderung bersikap selektif, menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil posisi besar.
Situasi ini menunjukkan bahwa penguatan harga minyak jelang libur panjang lebih bersifat sementara. Ke depan, arah pergerakan harga akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan negara produsen, serta pemulihan permintaan global yang hingga kini masih belum merata.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Investasi & Geopolitik: India Pangkas Pembelian Minyak Rusia, AS Siap Ambil Alih Pasar?
- Jumat, 06 Februari 2026
Teknologi Truk Listrik Otonomos China Revolusi Tambang Ramah Lingkungan
- Jumat, 06 Februari 2026
Standar Baru Industri Nikel: MMP Prioritaskan K3 dan Operasi Berkelanjutan
- Jumat, 06 Februari 2026
Prabowo-Albanese Perkuat Kemitraan Strategis Hilirisasi dan Ketahanan Pangan
- Jumat, 06 Februari 2026













