JAKARTA - Perum Bulog melaporkan bahwa realisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga 22 Desember 2025 baru mencapai 51,29% dari target tahunan. Artinya, tersisa sekitar 730.724 ton yang harus disalurkan sebelum akhir tahun.
Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan Perum Bulog, Epi Sulandari, menjelaskan bahwa target total penyaluran SPHP tahun ini mencapai 1,5 juta ton. Penyaluran harian rata-rata selama sepekan terakhir mencapai 4.000 hingga 5.000 ton, jauh dari target ideal per hari.
Meskipun penyaluran masih setengah jalan, Bulog terus memaksimalkan distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi menjelang akhir tahun. Upaya ini melibatkan berbagai kanal dan strategi distribusi.
Baca JugaASN Kementerian ESDM Perkuat Tata Kelola Tambang Lewat Big Data
Saluran Distribusi Beras SPHP
Beras SPHP didistribusikan melalui tujuh jenis outlet resmi. Di antaranya adalah pengecer pasar rakyat, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pemerintah daerah melalui outlet pangan binaan dan Gerakan Pangan Murah (GPM), BUMN, instansi pemerintah, Rumah Pangan Kita (RPK) Perum Bulog, serta ritel modern.
Instansi pemerintah dan GPM menjadi saluran tertinggi penyaluran beras SPHP, yakni sekitar 264 ribu ton, diikuti pengecer sebanyak 162 ribu ton. Distribusi yang terstruktur ini diharapkan mendorong stabilisasi harga di pasaran.
Bulog juga meningkatkan jaringan penjualan melalui eceran di pasar tradisional untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Monitoring harga dan penyaluran dilakukan bersama Satgas Pangan dan Bapanas agar distribusi lebih tepat sasaran.
Harga dan Stok Beras SPHP
Harga beras SPHP dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp62.500 per kemasan 5 kilogram. Panel harga Bapanas mencatat harga rata-rata beras SPHP turun sedikit menjadi Rp12.429 per kilogram, masih di bawah HET nasional.
Distribusi beras SPHP juga dibagi dalam tiga zona harga. Zona 1 dijual Rp12.144/kg, zona 2 Rp12.679/kg, dan zona 3 Rp13.178/kg. Penentuan harga ini disesuaikan dengan kondisi distribusi dan biaya logistik di masing-masing wilayah.
Selain stok SPHP, Bulog juga mencatat total Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga saat ini mencapai 3,5 juta ton. Stok ini terdiri dari 3,35 juta ton CBP dan 156.577 ton beras komersial, mayoritas beras premium, yang siap digunakan untuk stabilisasi harga maupun darurat bencana.
Hambatan dan Upaya Mempercepat Penyaluran
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut salah satu hambatan lambatnya distribusi SPHP adalah penggunaan aplikasi Klik SPHP. Beberapa pedagang atau pengecer kesulitan mengoperasikan aplikasi karena tidak terbiasa dengan smartphone.
Bulog menargetkan distribusi SPHP sebanyak 6.000 ton per hari melalui berbagai kanal. Rizal menegaskan, stok tersedia cukup dan siap didistribusikan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi hingga akhir tahun.
Selain itu, Bulog melakukan pengawasan ketat terhadap distributor agar beras tidak diselewengkan atau dijual di luar ketentuan pemerintah. Langkah ini juga melibatkan pemantauan bersama Satgas Pangan dan Bapanas untuk menjamin stabilitas harga.
Upaya Stabilitas Harga di Daerah
Pada minggu kedua Desember 2025, Epi Sulandari menyebut terdapat 80 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras medium dibandingkan November. Dari jumlah tersebut, 41 kabupaten/kota berada di atas HET.
Bulog memberikan perintah kepada kantor wilayah dan kantor cabang untuk melaksanakan SPHP atau GPM guna menekan harga beras di atas HET. Strategi ini dilakukan agar distribusi beras tetap merata di seluruh daerah, termasuk yang mengalami kenaikan harga signifikan.
Upaya stabilisasi juga mencakup monitoring langsung penyaluran beras SPHP di pasar tradisional dan ritel modern. Dengan langkah ini, Bulog berharap harga tetap terkendali dan masyarakat mendapatkan akses beras dengan harga wajar.
Peningkatan saluran distribusi dan pengawasan di lapangan menjadi kunci agar realisasi SPHP dapat mendekati target. Dengan cadangan beras yang cukup besar dan strategi distribusi yang terintegrasi, Bulog optimis dapat menutup kekurangan penyaluran sebelum akhir tahun.
Meski realisasi masih 51%, kombinasi penambahan jaringan distribusi, pemantauan harga, serta pengawasan ketat diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga. Ini penting agar masyarakat tetap dapat membeli beras dengan harga wajar menjelang akhir tahun.
Dengan seluruh langkah ini, Bulog menegaskan komitmennya untuk memastikan distribusi beras SPHP berjalan efektif. Penyaluran yang merata dan harga yang terkendali menjadi fokus utama agar program stabilisasi pangan memberi manfaat maksimal bagi masyarakat.
Enday Prasetyo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Investasi & Geopolitik: India Pangkas Pembelian Minyak Rusia, AS Siap Ambil Alih Pasar?
- Jumat, 06 Februari 2026
Teknologi Truk Listrik Otonomos China Revolusi Tambang Ramah Lingkungan
- Jumat, 06 Februari 2026
Standar Baru Industri Nikel: MMP Prioritaskan K3 dan Operasi Berkelanjutan
- Jumat, 06 Februari 2026
Prabowo-Albanese Perkuat Kemitraan Strategis Hilirisasi dan Ketahanan Pangan
- Jumat, 06 Februari 2026













