IHSG Tertekan Sentimen Global dan Domestik, Analis Ingatkan Risiko

Ilustrasi IHSG terus mengalami tekanan (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 05 Juni 2026 | 14:45:43 WIB

JAKARTA – Pasar saham Indonesia saat ini masih menghadapi tekanan berat di tengah kondisi ketidakpastian global maupun domestik. Analis Phintraco Sekuritas menilai bahwa volatilitas pasar berpotensi terus berlanjut seiring dengan bertahannya suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), pelemahan nilai tukar rupiah, serta berbagai sentimen kebijakan di dalam negeri.

Dalam laporan strategi bulanan yang dirilis pada Rabu (3/6/2026), Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa kondisi ekonomi global sejauh ini masih cukup tangguh meskipun harus dibayangi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan aktivitas di Selat Hormuz. Ketahanan ekonomi global tersebut ditopang oleh harga minyak yang relatif stabil, aktivitas ekonomi AS yang tetap kuat, serta membaiknya data sektor manufaktur dan jasa. Di sisi lain, tekanan inflasi di AS meningkat akibat kenaikan biaya energi, namun pasar tenaga kerja yang tetap solid membuat risiko resesi mereda.

"Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer dalam waktu dekat," tulis Phintraco, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di dalam negeri, ekonomi Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga yang kuat, peningkatan belanja pemerintah, serta pemulihan aktivitas manufaktur menjadi penopang utama pertumbuhan. Namun, sejumlah tantangan masih membayangi perekonomian domestik.

Pelemahan rupiah yang menyentuh level terendah Rp18.049 per USD pada Kamis (4/6/2026), arus keluar modal asing, dan melebarinya defisit neraca pembayaran menjadi sumber tekanan utama. Di saat yang sama, kenaikan inflasi dan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Tekanan tersebut tercermin pada pergerakan pasar saham. Phintraco mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 32,46 persen sepanjang tahun berjalan hingga berada di level 5.839,78 pada Kamis (4/6), di kisaran level terendah sejak Mei 2021. Menurut Phintraco, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor, mulai dari depresiasi rupiah, kenaikan BI Rate, dampak rebalancing indeks MSCI dan FTSE Russell, hingga ketidakpastian terkait beberapa kebijakan pemerintah.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati sejumlah agenda penting, antara lain hasil MSCI Market Accessibility Review Indonesia, rebalancing FTSE Russell, implementasi kebijakan ekspor, serta rencana revisi tarif royalti sektor pertambangan. Meski demikian, Phintraco masih melihat prospek IHSG pada 2026 tetap ditopang oleh potensi pertumbuhan laba emiten. Untuk strategi investasi, Phintraco merekomendasikan investor mencermati saham-saham di sektor perbankan, minyak dan gas, makanan dan minuman, pertambangan logam, serta semen.

Terkait MSCI, indeks global ini dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review pada sekitar 18 Juni dan Annual Market Classification Review pada sekitar 23 Juni untuk meninjau efektivitas reformasi pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, MSCI sempat menyampaikan kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas beberapa emiten, serta membuka kemungkinan peninjauan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market). Pada April 2026, MSCI memutuskan untuk memperpanjang masa evaluasi hingga Juni sebelum menetapkan keputusan final.

Reporter: Akbar