Pasar Saham Tertekan, BEI Pastikan 15 Perusahaan Tetap Jalankan IPO

Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan kepastian initial public offering (IPO) 15 perusahaan tetap berjalan sesuai jadwal (Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 05 Juni 2026 | 14:45:43 WIB

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan kepastian bahwa rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tetap berjalan sesuai jadwal, meskipun pasar saham domestik sedang menghadapi tekanan sejak awal tahun.

Otoritas bursa mencatat saat ini terdapat 15 perusahaan yang berada dalam antrean pencatatan saham, dan seluruh prosesnya dipantau setiap hari agar tetap berada dalam target yang telah ditentukan.

"Masih on schedule, kami ada 15, proses tentunya berjalan, kami monitor setiap hari progresnya," kata Nyoman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta pada Kamis (4/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mendorong calon emiten dan penjamin emisi untuk mempercepat penyampaian dokumen karena mayoritas perusahaan dalam pipeline menggunakan laporan keuangan audit per Desember 2025 yang memiliki batas waktu hingga Juni.

"Itu harapan kami untuk speed up prosesnya. So far masih on track," ujar Nyoman, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain mempercepat proses administrasi, BEI juga memperkuat komunikasi dengan investor institusi domestik maupun global sebagai upaya memperkuat stabilitas pasar modal dan memulihkan kepercayaan publik setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam.

"Ya kami berkomunikasi terus dengan seluruh investor, baik investor institusi domestik dan bahkan investor global," kata Jeffrey, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pejabat Sementara (PJS) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan sejumlah investor institusi besar, termasuk BPJS Ketenagakerjaan, demi mendorong partisipasi investor domestik menjadi penyangga pasar.

Tekanan pada pasar modal terlihat dari pergerakan fluktuatif IHSG yang terus berada di zona merah pada awal Juni dengan akumulasi penurunan mencapai 6,4 persen ke posisi 5.724, seiring rilis data menyempitnya surplus neraca perdagangan April 2026 menjadi US$89,1 juta.

Kondisi pasar pada kuartal I-2026 ini mendapat sorotan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, karena sepinya perusahaan yang melantai di bursa, di mana IPO pertama baru terlaksana pada 10 April 2026 oleh PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA).

"Mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi, sehinga ini masih dalam pipeline," kata Airlangga saat membuka Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Gedung BEI, Jakarta, Senin (27/4/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Airlangga menegaskan bahwa realisasi IPO perusahaan swasta sangat krusial untuk mendorong pertumbuhan indeks saham masa depan, sehingga ia meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI segera mengeksekusi rencana emiten yang masuk daftar antrean tahun ini.

Reporter: Akbar