JAKARTA - Target penjualan mobil nasional tahun 2026 kembali menjadi sorotan di tengah upaya pemulihan industri otomotif Indonesia.
Setelah beberapa tahun mengalami tekanan akibat pandemi Covid-19 dan perlambatan ekonomi global, sektor ini memang mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Namun, capaian yang diharapkan masih belum sepenuhnya mengembalikan kondisi industri ke level sebelum krisis kesehatan global melanda.
Pemerintah menargetkan penjualan mobil nasional pada 2026 mencapai 850.000 unit. Angka tersebut mencerminkan optimisme yang disusun secara hati-hati, dengan mempertimbangkan kondisi pasar domestik dan tantangan yang masih dihadapi industri otomotif. Meski lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, target ini belum mampu menyamai capaian pra-pandemi yang sempat menembus lebih dari 1 juta unit per tahun.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa proyeksi tersebut bukanlah angka yang dibentuk secara berlebihan. Pemerintah memilih pendekatan realistis agar target dapat dicapai, bahkan diharapkan bisa terlampaui apabila situasi ekonomi dan pasar menunjukkan perbaikan yang lebih cepat dari perkiraan.
Target Disusun dengan Pendekatan Realistis
Dalam pembukaan Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026, Agus menyampaikan bahwa target penjualan mobil nasional 850.000 unit disusun sebagai angka konservatif. Ia berharap pendekatan tersebut justru membuka peluang agar realisasi di akhir tahun dapat melampaui proyeksi awal. “Kita memproyeksikan 850.000 unit, mudah-mudahan ini angka konservatif dan mudah-mudahan karena ini angka konservatif, maka nanti di akhir tahun apa yang saya sampaikan bisa tercapai, bahkan melebihi angka 850.000 unit,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Menurut Agus, penentuan target ini mempertimbangkan berbagai faktor yang masih membebani industri otomotif. Mulai dari daya beli masyarakat, dinamika harga komoditas, hingga ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Oleh karena itu, pemerintah tidak ingin menetapkan sasaran yang terlalu tinggi dan sulit direalisasikan.
Meski demikian, target 2026 tetap menunjukkan adanya tren pemulihan. Agus menyebut proyeksi tersebut mencerminkan pertumbuhan sekitar 5,4 persen dibandingkan realisasi penjualan sepanjang 2025. Kenaikan ini menjadi sinyal positif, meskipun belum cukup kuat untuk mengembalikan industri ke masa keemasannya.
Belum Menyamai Level Penjualan Pra-Pandemi
Agus mengakui bahwa target penjualan mobil nasional pada 2026 masih berada di bawah capaian sebelum pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, industri otomotif Indonesia mencatatkan kinerja yang sangat kuat dengan penjualan tahunan yang konsisten di atas 1 juta unit. “Walaupun meningkat sekitar 5,4 persen dibandingkan realisasi penjualan sepanjang tahun 2025. Meskipun demikian, target proyeksi yang saya sampaikan tadi 850.000 unit masih belum cukup kuat untuk menembus level 1 juta unit sebelum masa pandemi,” katanya.
Sebagai perbandingan, penjualan mobil nasional pada 2017 tercatat menembus lebih dari 1 juta unit. Tren positif tersebut berlanjut pada 2018 dengan capaian 1.152.641 unit. Pada 2019, meskipun sedikit menurun, penjualan wholesales Januari hingga Desember masih mencapai 1.030.126 unit.
Angka-angka tersebut menjadi gambaran betapa besarnya tantangan yang harus dihadapi industri otomotif untuk kembali ke level pra-pandemi. Kondisi pasar saat ini dinilai belum sepenuhnya pulih, baik dari sisi permintaan maupun distribusi.
Tekanan Penjualan Masih Terasa di 2025
Agus juga mengungkapkan bahwa tekanan terhadap industri otomotif nasional masih terasa kuat hingga 2025. Ia menyebut penjualan mobil sepanjang tahun lalu mengalami penurunan yang cukup signifikan. “Data penjualan tahun 2025 yang tadi saya sampaikan ini mengalami tekanan yang cukup signifikan, cukup signifikan, berat,” kata Agus.
Secara wholesales, penjualan mobil pada 2025 tercatat sebesar 803.000 unit. Angka ini turun 7,2 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 856.000 unit. Penurunan ini menunjukkan bahwa pemulihan industri masih berjalan lambat dan menghadapi banyak hambatan.
Tekanan juga terjadi pada sisi ritel. Pengiriman mobil dari diler ke konsumen sepanjang 2025 tercatat turun 6,3 persen, dari 889.000 unit pada 2024 menjadi 833.000 unit. Kondisi tersebut mencerminkan melemahnya permintaan di pasar domestik.
Kontraksi Terjadi pada Distribusi dan Permintaan
Menurut Agus, penurunan penjualan tersebut tidak hanya terjadi pada satu sisi saja. Ia menilai kondisi ini mengindikasikan adanya kontraksi yang terjadi secara bersamaan pada distribusi dan permintaan. “Ini tentu menunjukkan atau mengindikasikan adanya kontraksi dan pelemahan yang tidak hanya terjadi pada sisi distribusi tapi juga permintaan,” ujarnya.
Melemahnya permintaan menjadi tantangan utama bagi industri otomotif. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat keputusan pembelian kendaraan baru tertunda. Di sisi lain, pelaku industri juga harus menyesuaikan strategi distribusi agar tetap efisien di tengah penurunan volume penjualan.
Situasi ini membuat pemulihan industri otomotif tidak bisa berlangsung secara instan. Dibutuhkan waktu, konsistensi kebijakan, serta dukungan dari berbagai pihak agar pasar kembali bergairah.
Perlu Kolaborasi Seluruh Pemangku Kepentingan
Agus menegaskan bahwa upaya mengembalikan kinerja industri otomotif ke level pra-pandemi membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah, pelaku industri, asosiasi, hingga konsumen memiliki peran masing-masing dalam mendorong pemulihan sektor ini. “Sekali lagi kita harus berhubung bersama seluruh stakeholders, kita cari cara-cara yang sebaik untuk bisa kembali mengangkat kembali kinerja industri, subsektor industri yang sangat penting ini,” katanya.
Ia juga menilai pasar domestik menjadi faktor kunci dalam proses pemulihan. Penguatan konsumsi dalam negeri dinilai penting agar industri otomotif tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal. “Ini beberapa faktor, misalnya pemilihan pasar domestik menjadi penting, dan pemulihannya akan berlangsung secara bertahap,” ucap Agus.
Dengan target 850.000 unit pada 2026, pemerintah berharap industri otomotif nasional dapat terus bergerak ke arah pemulihan. Meski belum kembali ke level pra-pandemi, tren pertumbuhan yang mulai terbentuk diharapkan menjadi fondasi kuat untuk kebangkitan industri dalam beberapa tahun ke depan.