Breaking

Bukit Asam Tebar Dividen Rp 1,32 Triliun, Simak Yield dan Prospeknya

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 12 Juni 2026
Bukit Asam Tebar Dividen Rp 1,32 Triliun, Simak Yield dan Prospeknya
Ilustrasi PT Bukit Asam membagikan dividen tunai Rp 1,32 triliun untuk tahun buku 2025. (Foto: NET)

JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 senilai Rp 1,32 triliun. Angka tersebut mewakili 45 persen dari total laba bersih PTBA pada tahun 2025 yang berjumlah Rp 2,93 triliun.

Keputusan ini menandai berkurangnya dividend payout ratio (DPR) PTBA jika dibandingkan dengan tahun 2024 lalu yang berada di level 75 persen. Sisa laba bersih sebesar Rp 1,61 triliun atau 55 persen ditetapkan sebagai saldo laba ditahan untuk mendukung pengembangan usaha dan menjaga keberlanjutan bisnis.

Nantinya, para pemegang saham PTBA akan menerima dividen tunai dengan nominal Rp 114 per saham. Nominal tersebut mengindikasikan yield dividen sebesar 4,33 persen jika mengacu pada harga saham PTBA saat penutupan perdagangan Kamis (11/6) di level Rp 2.630 per saham.

Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menyatakan bahwa seluruh keputusan RUPST mencerminkan komitmen perusahaan untuk menyeimbangkan pemberian nilai tambah kepada pemegang saham, penguatan permodalan, serta pengembangan usaha.

"Di tengah dinamika industri pertambangan dan energi, PTBA terus berupaya menjaga kinerja operasional yang optimal, meningkatkan efisiensi, memperkuat hilirisasi batu bara, serta mengembangkan berbagai inisiatif bisnis yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ungkap Eko dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa penurunan DPR PTBA dapat menjadi sorotan bagi sebagian investor, terutama bagi pemburu dividen. Namun, ia menilai kebijakan ini perlu dilihat secara komprehensif karena mencerminkan komitmen manajemen dalam menjaga arus kas di tengah kebutuhan investasi jangka panjang.

“Investor harus bisa melihat ini sebagai peluang investasi jangka panjang, karena perusahaan berkomitmen menjaga keberlanjutan bisnis,” kata dia, Kamis (11/6), sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kendati DPR turun, yield dividen yang ditawarkan PTBA dinilai masih cukup kompetitif dibandingkan dengan emiten batu bara lainnya.

Prospek kinerja PTBA ke depan diprediksi cukup stabil dengan potensi pertumbuhan moderat pada 2026. Salah satu keunggulan utama perusahaan adalah porsi penjualan batu bara yang tinggi di pasar domestik, yang berfungsi sebagai penyangga kinerja saat permintaan ekspor tertekan.

PTBA juga memiliki keunggulan berupa struktur biaya produksi yang relatif lebih efisien berkat integrasi infrastruktur seperti jaringan kereta api dan dermaga bongkar muat. “Efisiensi operasional akan menjadi kunci utama pertumbuhan PTBA di sisa tahun 2026,” imbuh dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nafan merekomendasikan membeli saham PTBA dengan target harga di level Rp 3.670 per saham. Di sisi lain, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyampaikan bahwa secara teknikal pergerakan saham PTBA masih berada di fase downtrend dengan tekanan jual yang cukup kuat.

Indikator Moving Average 20 (MA20) belum mampu ditembus oleh pergerakan harga PTBA. Selain itu, indikator MACD masih melandai di area negatif dengan Stochastic yang rawan dead cross di area netral.

Herditya menyarankan investor untuk wait and see terhadap saham PTBA dengan titik support di level Rp 2.560 per saham dan resistance di level Rp 2.690 per saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua