Broadcom Mengecewakan, Investor Wall Street Beralih ke Saham Tradisional
NEW YORK – Aksi jual melanda sektor teknologi setelah para investor mengalihkan dana mereka ke saham ekonomi lama pada Kamis waktu Amerika Serikat, menyusul rilis laporan laba Broadcom Inc yang dinilai menghambat reli pasar kecerdasan buatan (AI).
Penurunan tersebut terekam dalam penutupan bursa, di mana indeks Nasdaq 100 merosot 0,5 persen di New York. Sebaliknya, indeks S&P 500 menguat 0,4 persen dan berada di jalur kenaikan mingguan kesepuluh secara beruntun, sementara Dow Jones Industrial Average yang ditopang oleh saham tradisional seperti JPMorgan Chase & Co. dan Coca-Cola Co. mencetak rekor tertinggi baru. Kondisi pasar modal dipengaruhi oleh kinerja keuangan salah satu produsen chip utama yang tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.
"Laporan laba Broadcom yang lebih lemah dari perkiraan meredam perdagangan semikonduktor yang ‘panas’, karena Wall Street mempertanyakan apakah belanja modal yang besar di bidang AI akan membenarkan kenaikan tajam saham-saham teknologi," kata José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kekecewaan pasar langsung berdampak pada harga saham Broadcom yang anjlok 13 persen akibat proyeksi pendapatan chip AI yang berada di bawah target investor. Sentimen negatif ini semakin diperparah oleh pernyataan dari produsen chip global lain, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), yang menyebutkan bahwa pasokan komponen dunia saat ini belum mampu memenuhi tingginya permintaan AI.
"Masalah utama pada sektor teknologi adalah ekspektasi yang sangat tinggi," kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Koreksi pasar saham ini dinilai terjadi bukan karena kinerja emiten yang buruk secara fundamental, melainkan akibat standar penilaian yang sudah terlanjur melambung tinggi pasca lonjakan harga dalam beberapa minggu terakhir.
"Tidak ada laporan laba dalam beberapa hari terakhir yang “secara fundamental ‘bad’, namun standar ekspektasi menjadi terlalu tinggi setelah beberapa pekan kenaikan parabolik dan psikologi pasar yang euforia," terang Crisafulli, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di luar sektor teknologi, dinamika politik domestik AS turut memanas setelah DPR AS yang dikuasai Partai Republik melakukan pemungutan suara pada Rabu lalu untuk menghentikan perang dengan Iran, sebuah langkah yang berseberangan dengan kebijakan Presiden Donald Trump. Pemungutan suara dengan hasil 215-208 tersebut mencerminkan kekhawatiran internal partai pemerintah terhadap potensi perluasan wilayah konflik, di tengah eskalasi bersenjata yang turut menyeret wilayah Kuwait serta Bahrain.
"Meskipun resolusi tersebut kemungkinan besar tak akan langsung memengaruhi operasi militer, karena masih memerlukan persetujuan Senat, pemungutan suara ini menunjukkan meningkatnya penolakan terhadap perang yang berkepanjangan," kata tim strategi Saxo, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, upaya diplomasi juga belum menunjukkan titik terang setelah Teheran mengonfirmasi mandeknya dialog damai terkait kesepakatan sementara. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Rabu malam bahwa “tidak ada kemajuan nyata yang dicapai dalam proses negosiasi” dengan AS, menurut kantor berita Tasnim.
Selain ketegangan geopolitik, pelaku pasar kini mencermati sektor tenaga kerja AS setelah klaim tunjangan pengangguran baru meningkat ke level tertinggi sejak Februari, ditambah laporan PHK massal terbesar di sektor teknologi dalam dua tahun terakhir.
"Konflik AS-Iran dan AI terus mendominasi narasi di pasar, namun laporan ketenagakerjaan besok tetap sangat penting bagi pasar karena pasar tenaga kerja yang kuat merupakan penyeimbang kritis bagi kami di tengah inflasi tinggi," jelas Tom Essaye dari Sevens Report, sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Pasar tenaga kerja yang ‘terlalu ketat’ berisiko meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed lebih cepat dari yang diperkirakan."
Para pelaku pasar saat ini sedang mengantisipasi rilis data resmi laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang dijadwalkan terbit pada hari Jumat.