Penjualan SIDO Turun 19 Persen Kuartal I 2026 Tetap Optimis
- Selasa, 12 Mei 2026
JAKARTA – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) membukukan penurunan kinerja pada kuartal I/2026, mencakup aspek pendapatan hingga laba bersih. Walaupun begitu, perusahaan menganggap prospek industri herbal di tanah air tahun ini tetap positif seiring tingginya kesadaran publik pada kesehatan dan penggunaan produk herbal.
Menilik laporan keuangan hingga 31 Maret 2026, pendapatan SIDO berada di angka Rp640,5 miliar, mengalami pelemahan sampai 19% jika dikomparasikan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp789,105 miliar.
Laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk SIDO turut mengalami penyusutan dari Rp232,94 miliar pada kuartal I/2025 menjadi Rp147,213 miliar di kuartal I/2026.
Baca Juga
Direktur Utama SIDO David Hidayat menyampaikan bahwa penurunan kinerja di awal tahun ini mayoritas disebabkan oleh langkah normalisasi stok pada level distributor supaya lebih sehat dan selaras dengan permintaan nyata konsumen.
“Selain faktor tersebut, kinerja perseroan juga terdampak normalisasi harga essential oil yang sebelumnya berada pada level tinggi tahun lalu.
Pembatasan logistik selama periode lebaran yang berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya juga turut memengaruhi distribusi produk,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (11/5/2026).
Meski demikian, pihak manajemen meyakini bahwa minat terhadap produk-produk herbal Sido Muncul tetap tinggi. Produk Tolak Angin diklaim masih mendominasi pasar herbal domestik dengan raihan pangsa pasar berkisar 72%.
Di tengah hambatan jangka pendek ini, Sido Muncul tetap menaruh harapan besar pada masa depan industri herbal sepanjang 2026. Perusahaan melihat bahwa tren konsumsi herbal di tanah air bakal terus meningkat.
“Prospek industri herbal tetap positif. Katalis utamanya adalah meningkatnya kesadaran kesehatan, perubahan cuaca, mobilitas masyarakat, dan kuatnya budaya konsumsi herbal di Indonesia,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Namun, terdapat sejumlah rintangan yang masih membayangi sektor herbal tahun ini. Hal itu mencakup daya beli warga yang semakin selektif hingga kenaikan beban operasional seperti biaya kemasan, energi, logistik, serta fluktuasi global.
Dalam rangka memperkuat kinerja tahun ini, Sido Muncul telah merancang beberapa taktik. Perusahaan akan memperkokoh pasar dalam negeri lewat peluncuran kanal edukasi herbal bernama Sido HerbalPedia. Kanal ini ditujukan untuk memupuk kesadaran, rasa percaya, serta keterlibatan konsumen pada khasiat herbal Indonesia.
Bukan hanya itu, Sido Muncul juga terus memperdalam riset ilmiah pada produk-produknya. Selain berkonsentrasi di pasar lokal, perusahaan juga menyasar ekspansi global, terutama di wilayah Asean dan Afrika yang dianggap punya potensi pertumbuhan pasar herbal yang lumayan besar.
Dalam aspek efisiensi, Sido Muncul akan menjalankan optimalisasi di berbagai sektor, mulai dari produksi, kemasan, pengaturan pemasok, belanja iklan promosi, hingga rantai pasok.
Hal serupa diungkapkan pemilik herbal merek Kutus-Kutus, Fazli Hasniel Sugiharto, yang menilai tren wellness berbasis herbal mulai tumbuh lewat komunitas keluarga dan kalangan ibu muda. Menurut pandangannya, kemajuan bisnis herbal sangat bertumpu pada hubungan personal dan metode pendekatan komunitas.
Hadirnya komunitas wellness berbasis herbal tersebut dianggap sebagai sinyalemen positif atas meningkatnya ketertarikan warga terhadap produk herbal lokal.
“Dengan dukungan kekayaan biodiversitas Indonesia dan tren hidup sehat yang terus berkembang, industri herbal nasional diproyeksikan memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun mendatang,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional termasuk herbal mengalami pertumbuhan 8,35% sepanjang 2025.
Selain itu, kegiatan ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah tanah air juga naik dari kisaran US$222,8 juta pada 2012 menjadi US$291,8 juta pada 2023.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar sebelumnya menyatakan bahwa peluang kemajuan industri herbal nasional masih terbuka sangat lebar.
Ia memaparkan bahwa pasar obat asli Indonesia punya potensi menembus Rp350 triliun per tahun. Akan tetapi, hingga 2025 realisasi nilai ekonomi sektor tersebut baru mencapai hampir Rp2 triliun.
Situasi ini menandakan bahwa ruang ekspansi industri herbal dan wellness domestik masih sangat luas, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun kebutuhan ekspor.
Gemilang Ramadhan
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026












