Harga Kedelai Dunia Rendah Namun Tahu dan Tempe di Indonesia Mahal
- Senin, 11 Mei 2026
JAKARTA – Harga tahu serta tempe di pasar domestik terpantau masih tetap tinggi walaupun harga kedelai di pasar internasional tergolong rendah. Kondisi ini memicu munculnya dugaan terdapat masalah mendalam dalam tata niaga impor kedelai nasional, mulai dari transmisi harga yang tidak maksimal hingga potensi perolehan laba yang sangat besar di tingkat importir.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai bahwa lonjakan harga di pasar dalam negeri tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor global.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menjelaskan bahwa selisih antara harga kedelai internasional dengan harga eceran di dalam negeri terlalu lebar untuk sekadar disebabkan oleh faktor logistik dan distribusi.
"Ketimpangan ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam transmisi harga dari global ke domestik," ujar Ade Holis sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Baca JugaBMRI dan BBCA Teratas Ini Saham Banyak Dijual Asing Sepekan Terakhir
Selisih harga dinilai terlalu lebar
Merujuk pada data yang dikumpulkan NEXT Indonesia Center, harga kedelai impor di tingkat eceran dalam negeri selama periode Februari 2024 hingga Februari 2026 berada pada kisaran Rp 13.300 sampai Rp 15.100 per kilogram.
Di sisi lain, harga acuan di pasar internasional hanya berkisar Rp 6.000 hingga Rp 8.100 per kilogram. Hal ini menunjukkan terdapat selisih harga sekitar Rp 5.600 sampai Rp 8.500 per kilogram.
Menurut Ade, disparitas ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan memperlihatkan tata niaga kedelai nasional yang dinilai tidak efisien serta kurang transparan.
Kajian dari NEXT Indonesia Center juga memproyeksikan bahwa para importir menikmati marjin keuntungan yang sangat besar. Pada tahun 2025, rata-rata harga kedelai dunia tercatat hanya sekitar Rp 6.800 per kilogram, namun harga eceran di dalam negeri mencapai Rp 13.900 per kilogram.
Dengan selisih sebesar Rp 7.100 per kilogram dan asumsi biaya asuransi, distribusi, serta risiko sekitar 30 persen, importir diperkirakan masih mendapatkan marjin indikatif sekitar Rp 5.060 per kilogram.
Jika melihat pada volume impor kedelai Indonesia tahun 2025 yang mencapai 2,56 juta ton, potensi keuntungan importir diprediksi melampaui Rp 12,9 triliun dalam satu tahun.
Ketergantungan impor dinilai terlalu tinggi
Ade berpendapat bahwa situasi ini disebabkan oleh struktur pasar yang tidak kompetitif. Hal tersebut memicu fenomena asymmetric price transmission, di mana harga domestik tidak bergerak selaras dengan harga global akibat posisi tawar importir yang terlalu mendominasi.
Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan kedelai impor juga dianggap sudah mencapai level yang sangat tinggi. Lebih dari 85 persen kebutuhan kedelai nasional dipenuhi melalui impor, dengan Amerika Serikat sebagai pemasok utama.
Pada rentang tahun 2016-2025, kontribusi impor kedelai dari AS mencapai 91,12 persen dari keseluruhan impor nasional. Volume pasokan dari negara tersebut bahkan secara konsisten berada di atas 2 juta ton per tahun.
Ketergantungan pada impor yang menggunakan mata uang dollar AS ini juga membuat harga kedelai domestik sangat rentan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi ini dinilai semakin memberikan beban berat bagi para perajin tahu dan tempe.
“Meski harga selangit, masyarakat terpaksa tetap membeli tahu dan tempe,” kata Ade sebagaimana dilansir dari berita sumber.
NEXT Indonesia Center mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi menyeluruh pada tata niaga kedelai. Lembaga ini menilai akses impor harus dibuka lebih luas agar pasar tidak terpusat pada segelintir pelaku usaha saja.
Selain itu, pengawasan terhadap harga domestik serta perbaikan pada rantai pasok dianggap mendesak untuk dilakukan agar harga pangan dengan bahan baku kedelai bisa lebih stabil dan terjangkau oleh masyarakat.
Gemilang Ramadhan
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Berita Lainnya
Update Harga Kripto Bitcoin Turun 0,88 Persen dan Solana Naik 1,24 Persen
- Selasa, 12 Mei 2026












