Skema Ekosistem Bank Mandiri Percepat Penyaluran Kredit Usaha Rakyat 2026
- Rabu, 01 April 2026
JAKARTA - Percepatan penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi fokus penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam upaya meningkatkan efektivitas distribusi kredit, pendekatan berbasis ekosistem mulai diadopsi oleh sektor perbankan sebagai strategi baru yang dinilai lebih terarah dan berkelanjutan.
PT Bank Mandiri Tbk terus mendorong penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui penguatan skema pembiayaan berbasis ekosistem. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas penyaluran kredit sekaligus menjaga kualitas pembiayaan.
Baca Juga
Hingga Februari 2026, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp 7,35 triliun kepada 59.327 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Realisasi ini setara 17,92% dari target penyaluran KUR tahun 2026 yang sebesar Rp 41 triliun.
Pendekatan Closed Loop Perkuat Sinergi dalam Rantai Nilai Usaha
Direktur Consumer Banking Bank Mandiri, Saptari mengatakan, salah satu fokus utama bank adalah mengembangkan pembiayaan berbasis ekosistem melalui pendekatan closed-loop.
“Melalui strategi ini, kami mengoptimalkan sinergi antara nasabah wholesale, pelaku UMKM, dan mitra usaha dalam satu rantai nilai untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan bisnis,” ujarnya.
Dalam skema tersebut, Bank Mandiri mengintegrasikan pembiayaan UMKM dengan ekosistem bisnis yang sudah terbentuk, sehingga penyaluran kredit menjadi lebih tepat sasaran dan memiliki risiko yang lebih terukur.
Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan hubungan yang lebih kuat antara pelaku usaha kecil dengan perusahaan besar, sehingga memperluas peluang usaha sekaligus meningkatkan daya saing UMKM.
Dominasi Sektor Produksi dan Kualitas Kredit Tetap Terjaga
Dari sisi sektor, penyaluran KUR Bank Mandiri masih didominasi sektor produksi dengan porsi 61,83% atau senilai Rp 4,54 triliun. Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 2,21 triliun, diikuti jasa produksi Rp 1,65 triliun, industri pengolahan Rp 568 miliar, serta perikanan Rp 107 miliar.
Fokus pada sektor produksi menunjukkan komitmen bank dalam mendorong kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Kualitas kredit juga tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang berada di bawah 1%.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun penyaluran kredit terus ditingkatkan, manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama dalam menjaga stabilitas portofolio pembiayaan.
Perluasan Akses Layanan dan Edukasi bagi Pelaku UMKM
Selain penguatan ekosistem, Bank Mandiri juga memperluas akses layanan melalui jaringan Mandiri Agen (Agen Laku Pandai). Kanal ini dimanfaatkan untuk mendukung transaksi harian dan pembayaran angsuran debitur KUR, sekaligus mendorong inklusi keuangan di berbagai wilayah.
Bank juga aktif melakukan edukasi keuangan dan literasi digital bagi pelaku UMKM guna meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha. Bank Mandiri berkomitmen memperkuat sinergi antar entitas dalam Mandiri Group untuk mengoptimalkan penyaluran KUR berbasis ekosistem.
Langkah ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM tidak hanya dalam mendapatkan akses pembiayaan, tetapi juga dalam mengelola usaha secara lebih profesional.
Dukungan Regulasi dan Pentingnya Integrasi Rantai Pasok UMKM
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit UMKM turun 0,53% secara tahunan pada Januari 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Erdiana Rae menilai, pada dasarnya lesunya penyaluran kredit ke sektor UMKM perlu dibenahi secara menyeluruh, termasuk dengan meningkatkan literasi keuangan, pendampingan usaha, dan pemahaman terhadap produk serta layanan lembaga jasa keuangan.
Selain itu, OJK mendorong agar UMKM dapat terintegrasi dalam rantai pasok perusahaan besar, baik di skala domestik maupun global. Dian bilang ini menjadi penting untuk meningkatkan skala usaha dan keberlanjutan bisnis UMKM.
Selain itu, OJK telah mengimplementasikan komitmen tersebut dalam POJK Nomor 19 Tahun 2025, yang Dian bilang secara eksplisit mendorong kolaborasi antara UMKM dan perusahaan besar dalam ekosistem rantai pasok.
“Regulasi ini juga mewajibkan lembaga jasa keuangan menyediakan akses pembiayaan yang lebih mudah, cepat, terjangkau, dan inklusif,” ujarnya.
Sejauh ini OJK mencatat tren pembiayaan berbasis rantai pasok (supply chain financing) terus menunjukkan peningkatan, yang mencerminkan semakin kuatnya keterhubungan antara UMKM dan perusahaan besar sebagai mitra usaha.
Dengan adanya dukungan strategi dari perbankan serta regulasi yang mendorong integrasi ekosistem, diharapkan penyaluran kredit UMKM dapat terus meningkat sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Sutomo
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
XLSMART Catat Lonjakan Trafik Data Selama Lebaran 2026 Hingga 21 Persen
- Rabu, 01 April 2026
Pendapatan MPMX Turun Tipis 2025 Laba Bersih Tertekan Di Tengah Tantangan
- Rabu, 01 April 2026
Berita Lainnya
Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Global
- Rabu, 01 April 2026
Bursa Asia Menguat Pagi Ini Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Iran Global
- Rabu, 01 April 2026







.jpg)





