Pendapatan ABM Investama Turun 13,5 Persen Akibat Tekanan Harga Batu Bara Global
- Sabtu, 28 Maret 2026
JAKARTA - Kinerja perusahaan pertambangan masih menghadapi tantangan sepanjang 2025.
Tekanan harga komoditas global membuat sejumlah emiten harus menyesuaikan strategi bisnis. Salah satunya dialami PT ABM Investama Tbk yang mencatat penurunan pendapatan tahunan. Kondisi ini dipengaruhi pelemahan harga batu bara serta faktor operasional eksternal.
Sepanjang 2025, ABMM membukukan pendapatan sebesar USD1,04 miliar. Angka tersebut turun 13,5 persen secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan kondisi pasar batu bara yang tidak stabil. Meski demikian, perusahaan tetap menjaga kinerja operasional.
Baca JugaHarga BBM Naik 28 Maret 2026, Daftar Lengkap Terbaru Seluruh Indonesia Hari Ini
Di tengah tekanan tersebut, EBITDA tercatat sebesar USD339,3 juta. Sementara laba bersih perusahaan mencapai USD70,6 juta. Hasil ini menunjukkan ABMM masih mampu mempertahankan profitabilitas. Strategi efisiensi menjadi faktor penopang utama.
Kinerja ini juga menggambarkan dinamika industri energi global. Harga batu bara yang melemah berdampak langsung pada pendapatan. Namun perusahaan tetap berupaya menjaga fundamental bisnis.
Penurunan Aktivitas Operasional Pertambangan
Dari sisi operasional, aktivitas pertambangan mengalami penurunan sepanjang tahun. Volume pengupasan lapisan penutup atau overburden removal turun 12,9 persen. Totalnya menjadi 235,4 juta bcm dibandingkan periode sebelumnya.
Volume pengambilan batu bara atau coal getting juga terkoreksi. Penurunan mencapai 12,4 persen secara tahunan. Total produksi tercatat sebesar 34,5 juta ton.
Meski aktivitas tambang menurun, lini perdagangan bahan bakar tetap mencatatkan kinerja. Volume penjualan bahan bakar mencapai 357,4 juta liter. Angka ini menjadi kontribusi penting bagi pendapatan.
Penurunan produksi menunjukkan dampak langsung dari harga komoditas. Perusahaan menyesuaikan operasional agar tetap efisien. Strategi ini dilakukan untuk menjaga profitabilitas.
Kinerja Lini Logistik Dan Fabrikasi
Segmen logistik menunjukkan performa yang cukup stabil. Tingkat ketepatan waktu pengiriman mencapai 94,5 persen. Hal ini menunjukkan operasional logistik berjalan optimal.
Di sisi lain, bisnis jasa dan fabrikasi mencatat peningkatan. Tingkat on-time-in-full meningkat menjadi 83,8 persen. Perbaikan ini memperkuat layanan kepada pelanggan.
Peningkatan performa di segmen non-tambang menjadi penopang penting. Diversifikasi bisnis membantu menjaga stabilitas pendapatan. Hal ini juga mengurangi ketergantungan pada batu bara.
Sinergi antar unit usaha menjadi strategi utama. ABMM berupaya meningkatkan efisiensi operasional. Langkah ini dilakukan untuk menghadapi volatilitas pasar.
Strategi Perusahaan Menjaga Fundamental
Direktur ABMM, Hans Manoe, menilai kinerja perusahaan mencerminkan strategi yang konsisten. Ia menekankan fokus pada keunggulan operasional. Selain itu, pengelolaan keuangan dilakukan secara disiplin.
“Kinerja Perseroan pada tahun ini mencerminkan hasil dari pelaksanaan strategi yang kami jalankan secara konsisten di seluruh unit usaha," kata Hans Manoe.
"Dengan berfokus pada keunggulan operasional serta pengelolaan keuangan yang disiplin, kami telah memperkuat fundamental Perseroan dan menjaga daya saing serta kinerja di tengah persaingan industri melalui optimalisasi aset operasional dan pengelolaan investasi strategis secara efektif guna mendukung pertumbuhan jangka panjang," lanjutnya.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen perusahaan. Strategi jangka panjang tetap menjadi prioritas. Optimalisasi aset dilakukan secara berkelanjutan.
Ekspansi Tambang Baru Tahun 2026
Memasuki 2026, ABMM mulai mengakselerasi ekspansi operasional. Salah satunya melalui pengembangan tambang batu bara di Aceh. Tambang tersebut telah mencatatkan penjualan perdana pada Februari 2026.
Tambang baru tersebut ditargetkan mencapai produksi stabil. Produksi bulanan diharapkan menopang kinerja tahun berjalan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pertumbuhan.
Selain itu, aset tambang baru di Kalimantan Tengah sedang dalam proses perizinan. Targetnya mulai beroperasi secara komersial pada kuartal III 2026. Pengembangan ini memperluas portofolio perusahaan.
Dalam seluruh aktivitasnya, perusahaan menerapkan Good Mining Practices. Prinsip ini dijalankan di setiap lokasi operasional. Komitmen terhadap praktik tambang berkelanjutan terus dijaga.
Diversifikasi Pendapatan Non Batu Bara
Ke depan, ABMM berencana memperkuat diversifikasi pendapatan. Fokus diarahkan pada segmen logistik dan fabrikasi. Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.
Strategi diversifikasi dilakukan melalui ekspansi non-organik. Perusahaan akan mengembangkan bisnis yang berdekatan. Tujuannya menciptakan sinergi dalam ekosistem usaha.
Pendekatan ini diharapkan memperkuat posisi perusahaan. ABMM ingin menjadi pemain rantai nilai pertambangan terkemuka. Diversifikasi juga meningkatkan daya tahan bisnis.
"Perseroan senantiasa waspada terhadap perubahan lingkungan eksternal dan berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi penciptaan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan," pungkas Hans.
Dengan strategi tersebut, ABMM berupaya menjaga pertumbuhan jangka panjang. Diversifikasi menjadi kunci menghadapi volatilitas pasar. Perusahaan tetap optimistis menghadapi 2026.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Harga Pangan Depok Pasca Lebaran Stabil, Cabai Rawit Masih Rp120 Ribu Kilogram
- Sabtu, 28 Maret 2026
Pendapatan ABM Investama Turun 13,5 Persen Akibat Tekanan Harga Batu Bara Global
- Sabtu, 28 Maret 2026
Berita Lainnya
Harga Pangan Depok Pasca Lebaran Stabil, Cabai Rawit Masih Rp120 Ribu Kilogram
- Sabtu, 28 Maret 2026









