Rabu, 11 Maret 2026

Harga Batu Bara Global Tertekan Usai Minyak Dunia Anjlok

Harga Batu Bara Global Tertekan Usai Minyak Dunia Anjlok
Harga Batu Bara Global Tertekan Usai Minyak Dunia Anjlok

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas energi dunia kembali menunjukkan dinamika tajam dalam beberapa hari terakhir. 

Setelah sempat menguat selama beberapa hari, harga batu bara tiba-tiba mengalami tekanan besar di pasar global.

Perubahan tersebut tidak lepas dari gejolak yang terjadi di pasar minyak dunia. Fluktuasi harga minyak sering kali memengaruhi pergerakan harga komoditas energi lainnya, termasuk batu bara.

Baca Juga

Menekraf Sebut Sport Tourism Bisa Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Daerah

Situasi ini membuat pasar energi global kembali menghadapi ketidakpastian. Investor dan pelaku industri kini mencermati berbagai faktor yang dapat memengaruhi arah harga komoditas dalam waktu dekat.

Harga batu bara ambruk setelah harga minyak jatuh.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 131,1 per troy ons atau jatuh 8,8% pada perdagangan Selasa (10/3/2026).

Pelemahan ini memutus reli batu bara yang menguat 8,2% selama tiga hari beruntun sebelumnya.

Penurunan tajam tersebut terjadi setelah harga minyak dunia mengalami tekanan besar di pasar global.

Harga batu bara jeblok seiring ambruknya harga minyak dunia.

Harga minyak jatuh 11% pada Selasa setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan perang akan berakhir.

Batu bara adalah substitusi minyak sehingga harganya saling memengaruhi.

Ketika harga minyak mengalami penurunan signifikan, harga batu bara sering ikut tertekan karena perubahan persepsi pasar terhadap kebutuhan energi.

Kondisi ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara komoditas energi di pasar internasional.

Pengaruh Permintaan Energi Global Terhadap Batu Bara

Meski mengalami tekanan harga, pasar batu bara global tetap dipengaruhi oleh dinamika permintaan energi dari negara-negara besar.

Salah satu negara yang menjadi perhatian utama pasar adalah China.

Harga batu bara tetap ambruk meskipun ada kabar baik dari China.

Impor batu bara China pada Januari-Februari 2026 mencapai rekor tertinggi untuk periode tersebut sepanjang sejarah.

Kondisi ini bertentangan dengan perkiraan sebelumnya bahwa impor akan menurun karena pasokan domestik melimpah.

Data impor dua bulan biasanya digabung karena efek libur Tahun Baru Imlek.

Perayaan tersebut sering mengganggu aktivitas perdagangan pada salah satu bulan sehingga data biasanya dihitung secara bersamaan.

Beberapa faktor membuat impor batu bara China tetap kuat meskipun produksi dalam negeri cukup besar.

Arbitrase harga masih terbuka untuk beberapa jenis batu bara impor.

Hal ini membuat pembeli di China tetap tertarik untuk membeli batu bara dari pasar internasional.

Selain itu, permintaan dari pembangkit listrik dan sektor industri juga masih stabil pada awal tahun.

Kontrak jangka panjang dan pengiriman yang telah dijadwalkan sebelumnya juga terus tiba di pelabuhan China.

Lonjakan impor ini terjadi di tengah produksi batu bara domestik yang tinggi dan stok yang cukup besar.

Situasi tersebut sempat memicu pertanyaan mengenai arah permintaan energi di negara tersebut.

Potensi Perubahan Pola Permintaan Batu Bara China

Meski impor batu bara China sempat mencetak rekor pada awal tahun, sejumlah analis memperkirakan tren tersebut tidak akan bertahan lama.

Pasokan batu bara domestik yang melimpah mulai memberikan tekanan pada pasar impor.

Banyak analis sebelumnya memperkirakan impor akan melemah karena harga domestik China mulai turun.

Dalam kondisi tersebut, utilitas listrik cenderung beralih menggunakan batu bara dari dalam negeri.

Meskipun awal tahun mencetak rekor, beberapa analis memperkirakan pertumbuhan impor dapat melambat dalam beberapa bulan berikutnya.

Hal ini dipicu oleh tingginya stok batu bara di pelabuhan serta harga domestik yang semakin kompetitif.

Selain itu, margin impor juga mulai menyempit sehingga membuat pembelian dari luar negeri menjadi kurang menarik.

China adalah importir batu bara terbesar dunia.

Karena itu, perubahan kecil dalam permintaan China dapat memberikan dampak besar terhadap pasar global.

Negara pemasok seperti Indonesia, Australia, Rusia, dan Mongolia sangat bergantung pada permintaan dari China.

Perubahan arah kebijakan energi di negara tersebut dapat langsung memengaruhi harga batu bara di pasar internasional.

Kondisi ini membuat pasar batu bara global sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi China.

Persaingan Harga Impor dan Batu Bara Domestik

Di tengah meningkatnya produksi domestik, pasar batu bara China mulai menunjukkan pergeseran preferensi.

Pembangkit listrik di sejumlah wilayah pesisir mulai mempertimbangkan penggunaan batu bara domestik.

Kendati impor naik, pasar batu bara termal domestik China diperkirakan akan mengalami pergeseran permintaan secara bertahap dari batu bara impor ke batu bara domestik.

Perubahan ini terutama terjadi pada sejumlah pembangkit listrik di wilayah pesisir.

Pergeseran tersebut dipicu oleh perbedaan harga antara batu bara impor dan domestik.

Selisih harga antara batu bara impor dan domestik mencapai level tertinggi dalam sekitar empat tahun.

Kondisi tersebut membuat batu bara impor menjadi kurang kompetitif.

Harga batu bara termal di wilayah tambang utama Shaanxi (Yulin) pada 10 Maret turun tipis CNY 2 per ton menjadi CNY 598 ton.

Penurunan ini menunjukkan adanya tekanan ringan pada pasar domestik batu bara China.

Perusahaan utilitas listrik di pesisir China mulai beralih ke batu bara domestik karena selisih harga yang semakin besar.

Kenaikan selisih harga tersebut membuat batu bara impor kehilangan daya saing.

Akibatnya, pembangkit listrik lebih memilih membeli pasokan dari tambang dalam negeri.

Permintaan impor batu bara seaborne ke China berpotensi melemah.

Hal ini terutama terjadi pada utilitas pesisir yang biasanya menjadi pembeli utama batu bara impor.

Jika tren ini berlanjut, pasar batu bara ekspor Asia dapat menghadapi tekanan tambahan.

Negara pemasok seperti Indonesia dan Australia kemungkinan akan merasakan dampaknya.

Karena harga batu bara impor menjadi jauh lebih mahal dibandingkan batu bara domestik, utilitas listrik China mulai mengurangi pembelian impor dan beralih ke pasokan lokal.

Ketika spread harga impor dan domestik melebar, pembangkit listrik biasanya mengurangi pembelian batu bara seaborne.

Hal tersebut dapat menekan permintaan impor China dari pemasok utama.

Jika tren tersebut terus berlanjut, pasar batu bara internasional berpotensi menghadapi tekanan harga yang lebih besar.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kementerian P2MI Luncurkan KUR Penempatan untuk Calon Pekerja Migran

Kementerian P2MI Luncurkan KUR Penempatan untuk Calon Pekerja Migran

Pertamina Pastikan Pasokan BBM Aman Hadapi Lonjakan Mudik

Pertamina Pastikan Pasokan BBM Aman Hadapi Lonjakan Mudik

Industri Batu Bara Hadapi Tantangan Meski Harga Global Menguat

Industri Batu Bara Hadapi Tantangan Meski Harga Global Menguat

Produksi Listrik Panas Bumi PGEO Meningkat Sepanjang Tahun

Produksi Listrik Panas Bumi PGEO Meningkat Sepanjang Tahun

Rekomendasi Rumah Subsidi Murah Terbaik di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur

Rekomendasi Rumah Subsidi Murah Terbaik di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur