Mobil Listrik Murah Belum Tarik Pembeli Pertama Meski Banyak Pilihan di Indonesia
- Kamis, 19 Februari 2026
JAKARTA - Saat ini pilihan mobil listrik murah cukup beragam di Indonesia, dari Seres E1, VinFast VF 3, Changan Lumin, Wuling Air EV sampai BYD Atto 1, semua hadir untuk menggoda pasar otomotif domestik. Pilihan itu semakin menarik setelah diberikan insentif oleh pemerintah pada periode 2025, sehingga diharapkan dapat menggaet banyak pembeli. Namun realitas di lapangan menunjukkan tren yang berbeda dari ekspektasi awal industri otomotif nasional.
Ketersediaan Banyak Model EV Murah Tidak Otomatis Menjamin Permintaan Tinggi
Munculnya berbagai model EV murah di Indonesia seharusnya membuka peluang bagi konsumen dari segmen entry level atau pembeli pertama (first car buyer) untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil (internal combustion engine/ICE) ke kendaraan listrik. Secara teori, hadirnya produk beragam dari berbagai merek menawarkan lebih banyak pilihan fitur, ukuran, dan desain, sehingga konsumen bisa menyesuaikan dengan kebutuhan harian mereka, entah itu untuk komuter harian, perjalanan jauh, atau penggunaan di daerah banjir.
Baca JugaPetani Gunungkidul Diimbau Tingkatkan Panen Berkualitas untuk Dukung MBG
Namun hingga awal 2026, fenomena yang terjadi justru memperlihatkan bahwa mobil listrik murah belum mampu menggoda konsumen yang belum pernah punya mobil sebelumnya. Kendati insentif membuat harga jual awal menjadi lebih kompetitif dibandingkan mobil listrik premium atau varian listrik dari merek internasional, penjualan di segmen terjangkau ini tidak melaju sesuai prediksi.
Menurut pengamat otomotif dan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, banyak dari pembeli mobil listrik entry level sebenarnya sudah memiliki mobil berbahan bakar bensin sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa konsumen yang sudah familiar dengan kendaraan pribadi lebih cepat mengadopsi teknologi EV murah—bukan pembeli pertama seperti yang diharapkan.
Perilaku Konsumen EV Entry Level: Lebih Banyak yang Sudah Punya Mobil ICE
“Data di lapangan menunjukkan mayoritas pembeli EV entry level adalah mereka yang garasinya sudah berisi mobil-mobil ICE,” kata Yannes Martinus Pasaribu kepada KatadataOTO. Pernyataan ini penting untuk memahami struktur permintaan pasar saat ini di Indonesia. Banyak konsumen yang beralih ke mobil listrik murah sesungguhnya sudah memiliki pengalaman dengan mobil konvensional, sehingga mereka lebih siap menghadapi risiko dan perubahan perilaku berkendara yang dibutuhkan untuk adaptasi terhadap EV.
Fenomena ini bisa dijelaskan dari sisi psikologis dan perilaku konsumen. Pemilik mobil ICE yang sudah mapan cenderung melihat EV murah sebagai alternatif kedua, bukan pengganti utama kendaraan mereka. Dalam banyak kasus, kendaraan listrik dipilih bukan untuk kebutuhan utama keluarga, melainkan sebagai kendaraan tambahan yang memberi keuntungan tertentu, seperti bisa terhindar dari aturan ganjil-genap di kota besar, atau untuk sekadar merasakan pengalaman berkendara dengan teknologi baru.
Di kawasan metropolitan seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), adopsi EV murah seringkali didorong oleh keinginan untuk mengelola biaya operasional lebih efisien. Konsumen yang sudah memiliki mobil ICE melihat bahwa berbasis listrik dapat mengurangi pengeluaran bulanan untuk bahan bakar, meskipun mereka tetap mempertahankan mobil bensin sebagai kendaraan utama untuk kebutuhan jauh atau aktivitas keluarga besar.
Insentif Pemerintah dan Realitas Pasar EV Murah di Indonesia
Pemerintah Indonesia memberikan insentif untuk mobil listrik dalam upaya mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan. Kebijakan ini termasuk pembebasan atau pengurangan pajak tertentu untuk kendaraan listrik yang diimpor atau dirakit lokal. Dukungan fiskal ini diharapkan bisa membuat harga jual EV murah lebih kompetitif dibandingkan kendaraan conventional gasoline engine (CGE).
Namun, menurut pengamatan praktisi otomotif, insentif yang ada tampaknya belum cukup besar atau tepat sasaran untuk menarik first car buyer yang secara finansial lebih sensitif terhadap depresiasi nilai kendaraan dan biaya operasional jangka panjang. Ketika kendaraan listrik murah masuk ke pasar tanpa insentif besar pada periode tertentu, realitas pasar yang sesungguhnya mulai terlihat: konsumen entry level masih lebih memilih kendaraan yang mereka anggap lebih stabil dari sisi harga jual kembali dan biaya perawatan.
Yannes menegaskan bahwa pembeli pertama di segmen entry level membutuhkan mobil yang tidak hanya murah pada saat pembelian, tetapi juga bisa memenuhi kebutuhan kerja harian, perjalanan mudik jauh, menghadapi banjir, serta memiliki harga jual kembali yang stabil. Ini adalah kriteria yang dipenuhi oleh banyak mobil ICE konvensional di segmen low cost green car (LCGC) yang sudah lama beredar di pasar Indonesia dan memiliki jaringan layanan purna jual yang luas.
Tantangan Tambahan dalam Adopsi EV Murah oleh Konsumen Pertama
Selain isu harga dan nilai jual kembali, ada tantangan lain yang memperlambat adopsi EV oleh first car buyer di Indonesia. Infrastruktur pengisian daya masih terbatas, terutama di luar kawasan metropolitan besar. Konsumen yang tinggal di daerah pedesaan atau kota kecil seringkali menghadapi keterbatasan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), yang membuat mereka mempertimbangkan kembali keputusan beralih ke mobil listrik.
Ketidakpastian terkait teknologi baterai—misalnya soal daya tahan, biaya penggantian, dan nilai sisa kendaraan di pasar bekas—juga menjadi faktor yang membuat pembeli pertama lebih berhati-hati. Banyak konsumen EV entry level yang masih khawatir bahwa harga baterai akan turun drastis atau bahwa teknologi baru akan membuat model saat ini cepat usang, sehingga memengaruhi nilai jual kembali di masa depan.
Masa Depan Mobil Listrik Murah di Indonesia: Pergeseran Perilaku dan Adopsi Teknologi
Meskipun tren saat ini menunjukkan bahwa pembeli utama mobil listrik murah adalah mereka yang sudah memiliki mobil sebelumnya, momentum adopsi EV di Indonesia tetap menunjukkan potensi jangka panjang. Seiring berkembangnya infrastruktur pengisian daya, penurunan biaya baterai, dan semakin banyak model EV yang menarik secara fitur dan harga, konsumen entry level mungkin akan mulai mempertimbangkan EV sebagai pilihan pertama mereka.
Perubahan perilaku ini tidak akan terjadi dalam semalam. Dibutuhkan kombinasi antara insentif pemerintah yang efektif, edukasi konsumen tentang manfaat jangka panjang kendaraan listrik, serta jaminan layanan purna jual yang kuat dari produsen dan jaringan dealer. Jika semua elemen ini bisa berjalan seiring, mobil listrik murah berpeluang menjadi pilihan utama bagi first car buyer di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan demikian, perspektif konsumen terhadap mobil listrik murah akan terus berkembang, dan pemahaman yang lebih dalam tentang karakter konsumen ini menjadi kunci bagi pelaku industri untuk merancang strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran serta inovatif.
Fery
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Hadir Dengan Baterai 6500 Mah OPPO K14x Jadi Jawaban Pengguna Mobilitas Tinggi
- Kamis, 19 Februari 2026
Daya Tarik Utama Mengapa iPhone 16 Pro Terbaru 2026 Banyak Sekali Diburu
- Kamis, 19 Februari 2026
Daftar Harga iPhone Hari Ini 19 Februari 2026 Promo Hemat Jutaan Rupiah
- Kamis, 19 Februari 2026
Berita Lainnya
VinFast Gandeng Mitra Strategis Sediakan 400 Limo Green untuk Armada Mobil Listrik
- Kamis, 19 Februari 2026
Cek Harga BBM Hari Ini 19 Februari 2026 Awal Puasa, Stok Shell Mulai Langka di SPBU
- Kamis, 19 Februari 2026
Tarif Listrik PLN per kWh Tetap Berlaku Mulai 19 Februari 2026, Ini Daftar Lengkapnya
- Kamis, 19 Februari 2026
Harga Pangan Awal Ramadan 2026: Cabai Rawit Merah Pagi Ini Terpantau Turun
- Kamis, 19 Februari 2026
Terpopuler
1.
2.
Tiket Kereta Api Lebaran 2026 Sudah Dijual Lebih 1,3 Juta Terpesan
- 19 Februari 2026
3.
Prabowo Tegaskan Ingin Kehadiran Amerika Serikat Kuat Di Indonesia
- 19 Februari 2026
4.
Indonesia Bangkit Prabowo Tegaskan Bukan Lagi Raksasa Tertidur
- 19 Februari 2026




.jpg)







