Rabu, 11 Februari 2026

Nadi Transportasi yang Terlelap: Menakar Peluang Reaktivasi Jalur KA Kalisat–Panarukan

Nadi Transportasi yang Terlelap: Menakar Peluang Reaktivasi Jalur KA Kalisat–Panarukan
Nadi Transportasi yang Terlelap: Menakar Peluang Reaktivasi Jalur KA Kalisat–Panarukan

JAKARTA - Setelah lebih dari dua dekade membisu tanpa deru mesin lokomotif, secercah harapan kini muncul bagi jalur kereta api legendaris yang menghubungkan Kalisat, Bondowoso, hingga Panarukan. Jalur yang pernah menjadi urat nadi distribusi hasil bumi dan mobilitas warga di ujung timur Pulau Jawa ini secara resmi masuk dalam radar serius pemerintah untuk dihidupkan kembali. Langkah ini bukan sekadar upaya romantisme sejarah, melainkan sebuah strategi konkret untuk memecah kepadatan lalu lintas di jalur darat sekaligus membangkitkan potensi ekonomi yang sempat meredup sejak jalur ini dinonaktifkan pada tahun 2004.

Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya telah menyatakan komitmen penuhnya untuk mendorong proses reaktivasi lintas nonaktif ini. Sinyal positif tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat Bondowoso dan sekitarnya yang merindukan moda transportasi massal yang efisien dan bebas macet. Dalam sebuah pertemuan strategis dengan wakil rakyat setempat, otoritas perkeretaapian menegaskan bahwa jalur ini memiliki nilai strategis yang tak ternilai, terutama dalam mendukung sektor pariwisata internasional dan integrasi logistik kelautan.

Penyelesaian Survei Identifikasi Desain sebagai Pijakan Awal Proyek

Baca Juga

Pelni Siapkan Armada 15 Kapal Layani Angkutan Lebaran 2026 di Jawa Timur dengan Proyeksi 44.440 Penumpang

Keseriusan pemerintah dalam menggarap proyek ini dibuktikan dengan tuntasnya tahap awal berupa Survei Identifikasi Desain (SID). Kepala BTP Surabaya, Denny Michels Adlan, menjelaskan bahwa pihaknya telah merampungkan pemetaan mendalam pada lintas Kalisat–Bondowoso–Panarukan tepat di awal tahun ini. Survei intensif yang berlangsung selama sepekan tersebut bertujuan untuk mendapatkan data akurat mengenai kondisi fisik jalur yang telah lama ditinggalkan.

“Setelah masa posko Natal dan Tahun Baru, kami melaksanakan survei dan telah memetakan keseluruhan jalur pada lintas Kalisat hingga Bondowoso,” ujar Denny saat menerima kunjungan kerja Komisi 3 DPRD Kabupaten Bondowoso. Data yang dikumpulkan pada Selasa tersebut mencakup kondisi trase rel, kekuatan struktur jembatan, hingga status bangunan stasiun lama. Penggunaan teknologi GPS dan pemetaan digital menjadi standar untuk memastikan bahwa perencanaan tahap berikutnya berpijak pada data eksisting yang sangat presisi.

Tantangan Teknis Jembatan dan Alih Fungsi Lahan Stasiun

Meski peluang terbuka lebar, hasil survei lapangan tidak menutup mata terhadap berbagai hambatan teknis yang ada. Selama 22 tahun vakum, banyak infrastruktur yang mengalami degradasi fungsi. Denny membeberkan bahwa tim teknis harus melakukan analisis mendalam terhadap sejumlah jembatan yang tersebar di sepanjang lintasan. Meskipun ada beberapa struktur yang masih tampak kokoh secara visual, standar keselamatan kereta api modern menuntut evaluasi teknis ulang yang sangat ketat.

“Ada jembatan yang masih bisa diperbaiki, ada yang perlu diganti, bahkan dibangun ulang jika kondisinya sudah rusak berat,” ungkap Denny. Selain masalah jembatan, kondisi stasiun-stasiun bersejarah di lintas ini juga menjadi perhatian karena sebagian besar telah beralih fungsi. Revitalisasi bangunan stasiun agar sesuai dengan standar operasional masa kini tanpa menghilangkan nilai historisnya menjadi salah satu poin perencanaan yang cukup kompleks dalam daftar kerja BTP Surabaya ke depan.

Dinamika Sosial: Penataan Permukiman dan Akses Warga di Jalur Rel

BTP Surabaya menyadari bahwa tantangan terbesar dalam reaktivasi jalur nonaktif seringkali muncul dari aspek sosial. Selama dua dekade rel tidak digunakan, batasan lahan kereta api secara alami mulai menyatu dengan aktivitas masyarakat. Banyak titik di sepanjang jalur yang kini menjadi sangat dekat dengan permukiman padat penduduk, bahkan beberapa jembatan kereta api telah berubah fungsi menjadi akses utama kendaraan warga sehari-hari.

Menanggapi hal ini, Denny menegaskan pentingnya koordinasi yang harmonis antara pemerintah dan warga terdampak. Penertiban lahan harus dilakukan dengan pendekatan yang manusiawi, termasuk menyiapkan solusi akses alternatif bagi masyarakat yang selama ini memanfaatkan aset kereta api. “Perlu koordinasi dengan warga dan para pemangku kepentingan. Selain penertiban, juga harus disiapkan alternatif akses bagi masyarakat sekitar,” jelasnya. Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso sangat krusial untuk menjembatani persoalan lahan dan studi dampak sosial ini agar tidak menghambat progres proyek.

Potensi Strategis Integrasi Pelabuhan Panarukan dan Wisata Ijen

Di balik segala tantangan teknis dan sosial, visi besar reaktivasi ini menyimpan potensi keuntungan ekonomi yang luar biasa. Jalur KA Kalisat–Panarukan dirancang untuk menjadi pilar utama integrasi antarmoda di Jawa Timur bagian timur. Ujung lintas di Panarukan berpeluang besar terkoneksi langsung dengan Pelabuhan Panarukan, menciptakan sistem logistik yang efisien. Selain itu, jalur ini akan menjadi pintu gerbang utama bagi wisatawan yang ingin menuju Ijen Geopark, sebuah destinasi wisata unggulan yang kini tengah naik daun.

Dukungan politik pun mengalir deras dari gedung legislatif daerah. Sutriyono, Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, menyambut baik inisiatif ini sebagai solusi atas meningkatnya beban di jalan raya nasional dan provinsi. Menurutnya, kereta api adalah jawaban atas kemacetan yang mulai menghantui Bondowoso pada jam-jam sibuk. “Bukan hanya soal pariwisata atau integrasi antarmoda. Di jam-jam sibuk, kondisi jalan di Bondowoso mulai padat,” papar Sutriyono, menegaskan urgensi kehadiran kembali kereta api.

Menengok Sejarah Staatsspoorwegen dan Harapan Operasional Masa Depan

Secara historis, jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan adalah warisan berharga dari perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen, yang diresmikan pada tahun 1897. Kejayaannya sempat meredup hingga akhirnya berhenti beroperasi total pada tahun 2004 karena berbagai faktor. Namun, studi kelayakan yang sempat dilakukan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa kerinduan masyarakat Jember, Bondowoso, dan Situbondo terhadap kereta api tetaplah tinggi.

Rampungnya tahap SID ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi Pemerintah Pusat dan Daerah untuk segera melangkah ke tahap konstruksi atau pembersihan jalur. Jika rencana ini berjalan mulus, jalur kereta api ini akan kembali menjadi simbol kemajuan ekonomi dan mobilitas berkelanjutan bagi masyarakat Jawa Timur. Kehadiran kembali si "ular besi" di tanah Bondowoso bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah masa depan yang sedang dipetakan secara akurat demi kesejahteraan rakyat banyak.

David

David

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PTPP Tegaskan Peran pada Transportasi Berkelanjutan lewat Sosialisasi Rute Baru TransJabodetabek Grand Kamala Lagoon ke Dukuh Atas

PTPP Tegaskan Peran pada Transportasi Berkelanjutan lewat Sosialisasi Rute Baru TransJabodetabek Grand Kamala Lagoon ke Dukuh Atas

PTPP Sosialisasi Rute Baru Transjakarta Terapkan Prinsip Infrastruktur Berkelanjutan Nasional

PTPP Sosialisasi Rute Baru Transjakarta Terapkan Prinsip Infrastruktur Berkelanjutan Nasional

PTPP Tuntaskan Pembangunan Gedung FISIP UPN Veteran Jawa Timur Senilai Rp219 Miliar

PTPP Tuntaskan Pembangunan Gedung FISIP UPN Veteran Jawa Timur Senilai Rp219 Miliar

PTPP Rampungkan Gedung FISIP UPN Veteran Jawa Timur Senilai Rp219 Miliar: Fokus Baru Pembangunan Fasilitas Akademik Modern

PTPP Rampungkan Gedung FISIP UPN Veteran Jawa Timur Senilai Rp219 Miliar: Fokus Baru Pembangunan Fasilitas Akademik Modern

KAI Buka Penjualan Tiket Kereta Api Tambahan Lebaran 2026 Mulai 11 Februari, Cek Jadwal Lengkap Keberangkatannya

KAI Buka Penjualan Tiket Kereta Api Tambahan Lebaran 2026 Mulai 11 Februari, Cek Jadwal Lengkap Keberangkatannya