Visi Ketahanan Pangan: Bupati Bogor Resmikan Operasional Pasar Petani Garuda
- Selasa, 03 Februari 2026
JAKARTA - Pemerintah Kabupaten Bogor secara resmi mulai mengoperasionalkan Pasar Petani Garuda sebagai strategi memperkuat ekonomi kerakyatan dan ketahanan pangan daerah.
Langkah ini diambil untuk memberikan wadah langsung bagi para petani lokal dalam memasarkan produk unggulan mereka kepada konsumen tanpa melalui rantai distribusi yang panjang.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, meninjau langsung operasional perdana pasar ini yang juga bertepatan dengan gelaran Festival Buah oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) pada Jumat, 30 Januari 2026.
Baca JugaASN Kementerian ESDM Perkuat Tata Kelola Tambang Lewat Big Data
Pasar Petani Garuda Sebagai Proyek Percontohan
Meskipun saat ini progres pembangunan fisik baru mencapai sekitar 50%, Pemerintah Kabupaten Bogor memutuskan untuk menjadikannya sebagai pilot project pengembangan sentra petani. Fasilitas penunjang seperti toilet, musala, dan penambahan lapak akan terus dikebut penyelesaiannya sepanjang tahun 2026.
Bupati Rudy menegaskan bahwa potensi pertanian Bogor sangat luas dan tidak hanya terpusat di satu titik.
Manajemen Transparan dan Pencegahan Jual Beli Lapak
Untuk menjaga ketertiban dan keberpihakan kepada petani asli, Pemkab Bogor menerapkan sistem administrasi yang ketat namun terjangkau:
Biaya Administrasi: Petani hanya dikenakan Rp100.000 per tahun.
Tujuan: Mencegah praktik jual beli lapak oleh pihak ketiga dan memastikan pedagang terdata resmi di Distanhorbun.
Kapasitas: Saat ini telah tersedia 71 lapak dari total target 150 lapak yang direncanakan.
Legalitas: Seluruh pedagang diikat melalui perjanjian kerja sama (PKS) resmi.
Program Strategis: Desa Sentra Buah dan Pemanfaatan Lahan Tidur
Selain infrastruktur pasar, Pemkab Bogor juga meluncurkan program Desa Sentra Buah yang mencakup 416 desa dan 19 kelurahan. Program ini bertujuan agar setiap desa memiliki potensi unggulan dan ketahanan pangan mandiri melalui pemberian stimulus dan perlombaan desa.
Pemerintah juga berkomitmen memaksimalkan lahan tidur milik pemda untuk kepentingan publik, seperti:
Hutan Kota: Revitalisasi dan pembangunan hutan kota untuk penghijauan serta mitigasi banjir.
Prioritas Produk Lokal: Tanaman dan bibit untuk kebutuhan taman kota akan diambil langsung dari petani lokal.
Distribusi Bibit: Penyaluran bibit gratis kepada masyarakat untuk mendukung gerakan penghijauan.
Produk Unggulan: Dari Tanaman Hias Hingga Alpukat Bersertifikat
Pasar Petani Garuda menawarkan ragam komoditas berkualitas dengan harga kompetitif. Selain tanaman koleksi bernilai tinggi, salah satu primadona yang ditampilkan adalah varietas alpukat khas Kabupaten Bogor yang telah mengantongi sertifikasi resmi dari Kementerian Pertanian. Kehadiran pasar ini diharapkan menjadi simbol kebangkitan petani Bogor di tengah tantangan ekonomi global.
Regan
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Investasi & Geopolitik: India Pangkas Pembelian Minyak Rusia, AS Siap Ambil Alih Pasar?
- Jumat, 06 Februari 2026
Teknologi Truk Listrik Otonomos China Revolusi Tambang Ramah Lingkungan
- Jumat, 06 Februari 2026
Standar Baru Industri Nikel: MMP Prioritaskan K3 dan Operasi Berkelanjutan
- Jumat, 06 Februari 2026
Prabowo-Albanese Perkuat Kemitraan Strategis Hilirisasi dan Ketahanan Pangan
- Jumat, 06 Februari 2026












