Harga Batu Bara Terkoreksi Setelah Reli Empat Hari Investor Mulai Ambil Untung
- Selasa, 03 Februari 2026
JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah mengalami koreksi pada awal pekan ini.
Penurunan tersebut terjadi usai harga komoditas energi ini mencatatkan kenaikan selama empat hari berturut-turut. Kondisi ini menandai perubahan sentimen jangka pendek, di mana investor mulai menimbang ulang posisi mereka setelah reli cukup tajam dalam beberapa hari sebelumnya.
Pada perdagangan Senin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di level US$116 per ton. Angka tersebut turun 1,28 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Koreksi ini cukup kontras jika dibandingkan dengan lonjakan signifikan yang tercatat pada perdagangan Jumat.
Baca JugaASN Kementerian ESDM Perkuat Tata Kelola Tambang Lewat Big Data
Saat itu, harga batu bara melonjak 5,14 persen hingga menyentuh US$117,5 per ton. Capaian tersebut bahkan menjadi level tertinggi dalam kurun satu tahun terakhir. Dengan lonjakan yang relatif cepat, wajar jika pasar kemudian menunjukkan tanda-tanda penyesuaian melalui aksi ambil untung.
Koreksi Setelah Kenaikan Beruntun
Sebelum mengalami pelemahan, harga batu bara memang berada dalam tren penguatan yang solid. Selama empat hari perdagangan berturut-turut, harga tercatat naik kumulatif sebesar 10,28 persen. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek batu bara, baik dari sisi permintaan maupun faktor pasokan global.
Namun, reli yang terlalu cepat sering kali memicu aksi profit taking. Investor yang telah menikmati keuntungan dalam waktu singkat cenderung memilih merealisasikan laba mereka. Hal inilah yang diyakini menjadi salah satu pemicu utama koreksi harga pada perdagangan awal pekan.
Aroma ambil untung tersebut semakin kuat mengingat posisi harga sudah berada di area tinggi. Dalam kondisi seperti ini, pasar biasanya membutuhkan katalis baru agar tren kenaikan bisa berlanjut secara berkelanjutan.
Harga Batu Bara Masih Dilirik Pasar
Meski mengalami koreksi, batu bara masih menjadi komoditas yang dilirik oleh investor. Lonjakan harga hingga menyentuh level tertinggi setahun terakhir menunjukkan bahwa minat pasar terhadap batu bara belum sepenuhnya surut. Faktor kebutuhan energi global dan dinamika pasokan masih menjadi penopang utama.
Di sisi lain, fluktuasi harga yang terjadi belakangan ini juga mencerminkan pasar yang lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek. Investor cenderung cepat merespons pergerakan harga, baik untuk masuk maupun keluar dari pasar.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga batu bara ke depan diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas. Pelaku pasar pun terus mencermati sinyal teknikal untuk menentukan arah selanjutnya.
Gambaran Analisis Teknikal Terkini
Dari sudut pandang teknikal dengan kerangka waktu harian, posisi harga batu bara sebenarnya masih berada di zona bullish. Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index atau RSI 14 hari yang berada di level 53. RSI di atas angka 50 umumnya mengindikasikan kecenderungan bullish.
Namun demikian, jarak RSI yang belum terlalu jauh dari level 50 membuat posisinya terkesan cenderung netral. Artinya, meski masih berada di area positif, kekuatan tren kenaikan belum sepenuhnya dominan.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI 14 hari berada di level 34. Posisi ini menunjukkan area jual atau short yang cukup kuat. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa tekanan koreksi masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
Peluang Koreksi Lanjutan
Dengan mempertimbangkan indikator teknikal yang ada, harga batu bara pada perdagangan Selasa (3/2/2026) diperkirakan masih memiliki peluang untuk melemah. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan koreksi yang terjadi bisa cukup dalam jika tekanan jual berlanjut.
Target support terdekat yang menjadi perhatian pasar berada di kisaran US$109 per ton. Level ini menjadi area penopang awal yang berpotensi menahan laju penurunan harga. Apabila level tersebut berhasil ditembus, maka support berikutnya diperkirakan berada di rentang US$108 hingga US$106 per ton.
Pergerakan menuju area support ini akan sangat bergantung pada sentimen pasar harian serta intensitas aksi ambil untung dari investor. Jika tekanan jual mereda, koreksi bisa tertahan lebih cepat.
Skenario Jika Harga Kembali Bangkit
Di sisi lain, peluang pemulihan harga tetap terbuka apabila sentimen pasar kembali positif. Jika harga batu bara mampu bangkit dari tekanan koreksi, level US$118 per ton diperkirakan menjadi area resisten terdekat yang cukup krusial.
Penembusan di atas level tersebut berpotensi membuka ruang kenaikan lanjutan. Dalam skenario ini, harga batu bara berpeluang bergerak ke kisaran US$119 hingga US$123 per ton. Rentang tersebut menjadi target berikutnya yang akan diperhatikan oleh pelaku pasar.
Dengan demikian, arah pergerakan harga batu bara dalam waktu dekat masih akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara aksi ambil untung dan minat beli baru. Investor pun disarankan tetap mencermati perkembangan teknikal serta sentimen global agar dapat mengambil keputusan yang lebih terukur.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Investasi & Geopolitik: India Pangkas Pembelian Minyak Rusia, AS Siap Ambil Alih Pasar?
- Jumat, 06 Februari 2026
Teknologi Truk Listrik Otonomos China Revolusi Tambang Ramah Lingkungan
- Jumat, 06 Februari 2026
Standar Baru Industri Nikel: MMP Prioritaskan K3 dan Operasi Berkelanjutan
- Jumat, 06 Februari 2026
Prabowo-Albanese Perkuat Kemitraan Strategis Hilirisasi dan Ketahanan Pangan
- Jumat, 06 Februari 2026












