Rupiah Menguat Signifikan Saat Dolar AS Melemah, Sentimen Asia Jadi Penopang
- Rabu, 28 Januari 2026
JAKARTA - Pembukaan perdagangan pasar valuta asing hari ini memberikan napas segar bagi rupiah.
Mata uang Garuda langsung menunjukkan performa positif seiring melemahnya dolar Amerika Serikat yang terus tertekan di pasar global. Kondisi tersebut membuat rupiah tampil bergairah sejak awal sesi, didukung sentimen regional Asia yang bergerak serempak menguat dan merespons cepat perubahan arah indeks dolar.
Pada perdagangan pasar spot, rupiah dibuka menguat 0,24% di level Rp16.726 per dolar AS. Penguatan ini terjadi bersamaan dengan pelemahan indeks dolar AS yang turun cukup dalam sebesar 0,27% ke posisi 95,962. Penurunan ini tercatat sebagai yang terdalam sejak awal tahun 2022 dan langsung berdampak luas terhadap pergerakan mata uang global, khususnya di kawasan Asia.
Baca JugaMandiri Debit Gold Visa Minimal Saldo Berapa? Wajib Tahu Ini!
Tekanan Dolar AS Jadi Pemicu Awal Penguatan Rupiah
Merosotnya nilai dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah pada perdagangan hari ini. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia terus tertekan dan menciptakan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak naik. Situasi ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar yang mulai mengalihkan posisi dari dolar AS ke aset berdenominasi mata uang Asia.
Pelemahan dolar AS juga dinilai mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat. Utang pemerintah AS yang berada di level sangat tinggi, yakni mencapai US$38,3 miliar, menjadi sorotan utama. Kondisi tersebut menimbulkan persepsi bahwa dolar AS berada dalam tekanan struktural yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi berlanjut dalam jangka menengah.
Mata Uang Asia Kompak Menguat Ikuti Arah Pasar
Penguatan rupiah tidak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia turut bergerak naik seiring pelemahan dolar AS yang semakin dalam. Ringgit Malaysia mencatatkan penguatan tertinggi di kawasan dengan kenaikan 0,77%. Baht Thailand dan dolar Taiwan masing-masing menguat 0,43%, menunjukkan respons positif pasar terhadap perubahan sentimen global.
Won Korea Selatan dan peso Filipina juga mengalami penguatan sebesar 0,38%. Sementara itu, yuan China tercatat menguat tipis 0,08%. Pergerakan yang relatif seragam ini menegaskan bahwa sentimen pelemahan dolar AS menjadi katalis utama penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah, pada perdagangan hari ini.
Kondisi tersebut sekaligus mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset di kawasan Asia, yang dinilai memiliki prospek lebih stabil di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Isu Utang AS Dan Peran Kebijakan Donald Trump
Pelemahan dolar AS di tengah tingginya utang pemerintah Amerika Serikat memunculkan spekulasi terkait arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Pasar menilai bahwa Trump memiliki kepentingan untuk tidak membiarkan dolar AS terlalu kuat, terutama terhadap mata uang negara-negara yang memegang porsi besar utang pemerintah AS seperti Jepang, Inggris, dan China.
Langkah menjaga dolar tetap lemah dinilai dapat membantu AS dalam mempertahankan daya saing perdagangan sekaligus menjaga stabilitas nilai utang terhadap mitra dagang utama. Oleh karena itu, pelemahan dolar AS saat ini disinyalir bukan semata-mata akibat faktor pasar, tetapi juga bagian dari dinamika kebijakan ekonomi dan geopolitik yang lebih luas.
Tak heran jika pelaku pasar melihat bahwa dolar AS memang berada dalam fase terlemahnya dalam hampir empat tahun terakhir, dan kondisi ini membuka peluang bagi mata uang lain, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih kuat.
Respons Cepat Pasar Spot Dan Perbedaan Dengan Pasar NDF
Di dalam negeri, pasar spot domestik terlihat lebih cepat merespons pelemahan dolar AS dan sentimen positif regional. Penguatan rupiah di pasar spot mencerminkan optimisme jangka pendek pelaku pasar terhadap kondisi eksternal yang sedang menguntungkan.
Namun, situasi berbeda terlihat di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore yang didominasi investor global cenderung merefleksikan ekspektasi jangka menengah terhadap risiko Indonesia. Faktor-faktor seperti prospek arus modal asing, stabilitas fiskal, serta arah kebijakan moneter pasca penetapan Deputi Gubernur Bank Indonesia yang baru menjadi perhatian utama di pasar ini.
Pada perdagangan pagi ini, nilai kontrak rupiah di pasar offshore masih diperdagangkan di level Rp16.740 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun rupiah menguat di pasar spot, pelaku pasar global masih bersikap hati-hati dalam memproyeksikan pergerakan rupiah ke depan.
Prospek Rupiah Di Tengah Dinamika Global
Dengan kondisi dolar AS yang masih tertekan dan sentimen Asia yang relatif kondusif, rupiah memiliki peluang untuk mempertahankan penguatannya dalam jangka pendek. Namun, volatilitas tetap perlu diwaspadai mengingat pasar global masih diwarnai ketidakpastian, baik dari sisi kebijakan ekonomi Amerika Serikat maupun dinamika geopolitik global.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada kesinambungan pelemahan dolar AS serta respons investor terhadap kondisi domestik Indonesia. Stabilitas fiskal, kredibilitas kebijakan moneter, dan kejelasan arah kebijakan ekonomi akan menjadi faktor penting yang menentukan daya tahan rupiah di tengah arus sentimen global yang cepat berubah.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah hari ini mencerminkan kombinasi sentimen eksternal yang positif dan respons pasar domestik yang sigap. Meski demikian, kehati-hatian tetap diperlukan karena pergerakan nilai tukar masih akan sangat dinamis dalam beberapa waktu ke depan.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026










