Rupiah Menguat Tajam Akhir Januari 2026 Benarkah Prediksi Purbaya Terbukti Akurat
- Selasa, 27 Januari 2026
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah di akhir Januari 2026 menarik perhatian pelaku pasar keuangan.
Setelah sempat tertekan hebat dan hampir menembus batas psikologis Rp17.000 per dolar AS, rupiah justru menunjukkan pembalikan arah yang cukup signifikan. Penguatan yang terjadi secara beruntun ini menimbulkan pertanyaan, apakah pemulihan tersebut murni faktor teknikal pasar atau memang sesuai dengan prediksi yang sebelumnya disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam beberapa pekan terakhir, dinamika rupiah terbilang ekstrem. Tekanan global, penguatan dolar AS, serta sentimen risk-off sempat membuat mata uang Garuda berada di bawah tekanan berat. Namun, menjelang akhir Januari, situasi mulai berubah. Rupiah perlahan bangkit dan kembali mencatatkan apresiasi yang konsisten, memunculkan optimisme baru di pasar valuta asing domestik.
Baca JugaMandiri Debit Gold Visa Minimal Saldo Berapa? Wajib Tahu Ini!
Tekanan Awal Tahun dan Rekor Pelemahan Rupiah
Mengacu pada data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan awal tahun pada level Rp16.670 per dolar AS pada 2 Januari 2026. Posisi tersebut sebenarnya masih relatif stabil. Namun, tekanan mulai meningkat seiring berjalannya waktu. Memasuki pertengahan Januari, rupiah beberapa kali mencatatkan rekor penutupan terlemah sepanjang masa baru.
Puncak tekanan terjadi pada Selasa, 20 Januari 2026. Pada hari tersebut, rupiah sempat menyentuh level Rp16.985 per dolar AS secara intraday. Angka ini hanya terpaut tipis dari ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS, yang selama ini dianggap sebagai batas krusial bagi stabilitas nilai tukar. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar akan potensi pelemahan lanjutan.
Pembalikan Arah dan Penguatan Beruntun Rupiah
Menariknya, setelah menyentuh titik terlemah tersebut, rupiah justru mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah. Penguatan dimulai pada Rabu, 21 Januari 2026. Pada penutupan perdagangan hari itu, rupiah menguat 0,09% ke level Rp16.930 per dolar AS. Pergerakan ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan mulai mereda.
Tren positif berlanjut pada Kamis, 22 Januari 2026. Rupiah kembali menguat dan ditutup di posisi Rp16.880 per dolar AS, atau naik sekitar 0,30%. Penguatan semakin terasa pada Jumat, 23 Januari 2026, ketika rupiah melonjak 0,41% dan ditutup di level Rp16.810 per dolar AS. Konsistensi ini memperkuat persepsi bahwa pasar mulai kembali percaya diri.
Penguatan Hingga Penutupan Pekan Terakhir Januari
Rupiah masih melanjutkan penguatan pada penutupan perdagangan terakhir, Senin, 26 Januari 2026. Pada hari tersebut, rupiah terapresiasi 0,24% dan ditutup di level Rp16.770 per dolar AS. Dengan demikian, sejak menyentuh level terlemah intraday Rp16.985 per dolar AS pada 20 Januari hingga penutupan 26 Januari 2026, rupiah telah menguat sekitar 1,27%.
Tidak berhenti di situ, pada pembukaan perdagangan pagi hari Selasa, 27 Januari 2026, rupiah kembali dibuka menguat di posisi Rp16.760 per dolar AS. Pergerakan ini semakin menegaskan bahwa fase tekanan ekstrem yang sempat terjadi di pertengahan Januari mulai mereda secara nyata.
Prediksi Purbaya Soal Rupiah Mulai Terbukti
Penguatan rupiah ini sebelumnya telah diprediksi oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Saat ditemui wartawan pada Rabu, 14 Januari 2026, Purbaya menyampaikan keyakinannya bahwa rupiah berpeluang kembali menguat dalam dua minggu ke depan. Salah satu faktor utama yang ia sebutkan adalah potensi kembalinya aliran dana asing ke aset domestik.
Purbaya menegaskan bahwa kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada dalam kewenangan Bank Indonesia. Namun, ia melihat bahwa perbaikan kondisi ekonomi akan diikuti oleh pulihnya kepercayaan investor asing. Menurutnya, ketika prospek ekonomi membaik, modal asing cenderung kembali masuk ke negara yang menawarkan pertumbuhan lebih tinggi.
"Modal-modal asing akan masuk. Mereka masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Purbaya saat itu.
Optimisme Pertumbuhan Ekonomi dan Arus Modal
Purbaya juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 akan mencapai 5,45%. Angka tersebut dinilainya sebagai fondasi kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah 6% pada tahun 2026. Dengan fundamental ekonomi yang dinilai solid, ia meminta pelaku pasar untuk tidak terlalu khawatir terhadap gejolak jangka pendek.
"Kita akan dorong ke arah sana. Jadi kalau itu mereka udah yakin. Jadi Anda gak usah takut. Fondasi kita kuat," paparnya. Pernyataan ini menegaskan keyakinan pemerintah terhadap daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dana Domestik dan Faktor Psikologis Pasar
Selain aliran dana asing, Purbaya juga menyinggung potensi kembalinya dana milik warga Indonesia yang sebelumnya ditempatkan di luar negeri. Ia meyakini dana tersebut akan kembali masuk ke dalam negeri seiring membaiknya prospek ekonomi domestik.
"Rupiah akan kuat karena modal akan masuk ke sini. Dan orang Indonesia yang naro uangnya di sana, ke luar negeri juga akan balik," ujarnya. Bahkan, ia menambahkan keyakinannya bahwa keterbatasan ruang berbisnis di luar negeri akan mendorong dana tersebut kembali ke Tanah Air.
Dengan patokan waktu dua minggu yang disampaikan Purbaya, tenggat prediksi tersebut jatuh pada Rabu, 28 Januari 2026. Menjelang tanggal tersebut, pergerakan rupiah memang sudah menunjukkan sinyal kuat bahwa prediksi tersebut mulai terbukti.
Rupiah tidak hanya menjauh dari level psikologis Rp17.000 per dolar AS, tetapi juga membuka peluang lanjutan bagi fase pemulihan seiring meningkatnya optimisme terhadap masuknya kembali aliran modal ke aset domestik.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026










