Sabtu, 07 Februari 2026

Rupiah Dibuka Menguat Awal Perdagangan Selasa Saat Dolar AS Masih Tertekan

Rupiah Dibuka Menguat Awal Perdagangan Selasa Saat Dolar AS Masih Tertekan
Rupiah Dibuka Menguat Awal Perdagangan Selasa Saat Dolar AS Masih Tertekan

JAKARTA - Pembukaan perdagangan pasar keuangan pada Selasa, 27 Januari 2026, membawa kabar positif bagi nilai tukar rupiah. 

Di tengah tekanan yang masih membayangi dolar Amerika Serikat, mata uang Garuda justru memulai hari dengan penguatan tipis. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar mulai bergeser, meskipun kehati-hatian tetap mendominasi menjelang agenda penting bank sentral Amerika Serikat.

Rupiah bergerak dalam rentang terbatas, mencerminkan sikap investor yang cenderung menahan diri sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter global. Walau penguatan yang terjadi relatif kecil, sinyal ini tetap dianggap penting karena menegaskan bahwa tekanan ekstrem terhadap rupiah mulai mereda secara perlahan.

Baca Juga

Mandiri Debit Gold Visa Minimal Saldo Berapa? Wajib Tahu Ini!

Rupiah Menguat Tipis di Pembukaan Perdagangan

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini. Rupiah tercatat naik 2 poin atau sekitar 0,01 persen ke level 16.780 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di 16.782 per dolar AS. Penguatan tipis ini menandai kelanjutan tren stabilisasi yang mulai terlihat sejak akhir pekan lalu.

Pergerakan rupiah yang cenderung tenang menunjukkan bahwa pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap dinamika global. Investor tampaknya memilih untuk menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil posisi agresif, terutama terkait kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

Sikap Wait and See Jelang Pertemuan FOMC

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah masih berpotensi berlanjut meski dalam ruang yang terbatas. Menurutnya, investor saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang pertemuan Federal Open Market Committee atau FOMC.

“Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS yang masih dalam tekanan namun penguatan mungkin terbatas seiring investor juga wait and see hasil FOMC besok,” ujar Lukman, dikutip dari Antara, Selasa 27 Januari 2026. Pernyataan ini mencerminkan kehati-hatian pasar dalam menyikapi ketidakpastian kebijakan moneter global.

Ekspektasi Kebijakan The Fed dan Tekanan Politik

Mengutip Anadolu, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen pada pertemuan pertama tahun 2026. Sebelumnya, FOMC telah memangkas suku bunga Fed secara bertahap dengan total 75 basis poin pada September, Oktober, dan Desember 2025.

Keputusan pemangkasan tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan politik serta perselisihan hukum yang melibatkan bank sentral AS. Presiden AS Donald Trump secara terbuka berulang kali meminta The Fed memangkas suku bunga, bahkan pemerintahannya tengah menyelidiki dugaan tindakan kriminal terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.

“Yang dinantikan investor adalah sikap atau nada dari pernyataan Kepala The Fed apakah hawkish atau dovish,” jelas Lukman. Ia menambahkan, pasar cenderung berharap The Fed bersikap dovish untuk merespons kondisi geopolitik global yang dinilai kurang kondusif. Jika itu terjadi, tekanan terhadap dolar AS bisa berlanjut dan meringankan beban rupiah.

Faktor Domestik dan Isu Independensi Bank Sentral

Selain sentimen global, faktor domestik juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Lukman menilai potensi penguatan rupiah yang terbatas salah satunya dipengaruhi oleh terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Status Thomas sebagai keponakan Presiden RI Prabowo Subianto memunculkan kekhawatiran sebagian pelaku pasar terkait independensi bank sentral.

Sebagai informasi, Thomas Djiwandono merupakan kandidat terakhir yang menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur BI. Dua kandidat lainnya, yakni Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro yang berasal dari internal BI, juga telah menyelesaikan proses serupa. Setelah uji kelayakan berakhir pada Senin sore, 26 Januari 2026, Komisi XI DPR RI memilih Thomas untuk menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026.

Penguatan Rupiah Sehari Sebelumnya dan Peran BI

Sebelumnya, pada Senin, 26 Januari 2026, rupiah juga ditutup menguat terhadap dolar AS. Kurs rupiah menguat 38 poin atau 0,23 persen ke level 16.782 per dolar AS dari posisi sebelumnya di 16.820 per dolar AS. Penguatan ini dipandang sebagai respons positif pasar terhadap komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pasar mendukung langkah Bank Indonesia yang aktif melakukan stabilisasi. “Pasar mendukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif,” ujarnya. BI diketahui melakukan intervensi melalui pasar offshore NDF, DNDF, serta pasar spot dalam jumlah besar.

Ke depan, BI meyakini kurs rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga. Cadangan devisa yang lebih dari cukup juga menjadi bantalan kuat bagi stabilitas rupiah.

Sentimen Global dan Dinamika Geopolitik

Dari sisi global, sentimen pasar masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan NATO. Hal ini mencuat setelah Presiden Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengakuisisi Greenland. Retorika tersebut dinilai memperketat hubungan transatlantik dan memicu kekhawatiran dampak diplomatik serta ekonomi yang lebih luas.

Di sisi lain, Trump juga mengancam pengenaan tarif 100 persen terhadap barang-barang asal Kanada apabila negara tersebut melanjutkan kesepakatan dagang dengan China. Ancaman ini kembali meningkatkan ketidakpastian global dan menambah tekanan pada pasar keuangan internasional.

Sejalan dengan penguatan rupiah di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.779 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.838 per dolar AS. Pergerakan ini menegaskan bahwa rupiah masih berada dalam jalur stabilisasi di tengah dinamika global yang penuh tantangan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026

Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026

Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR

Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR

Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026

Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026

Investasi EBT Triliunan Buka Peluang Asuransi Energi Hijau bagi ACA

Investasi EBT Triliunan Buka Peluang Asuransi Energi Hijau bagi ACA

BI dan Bank of Korea Perpanjang Swap Mata Uang Lokal Hingga 2031

BI dan Bank of Korea Perpanjang Swap Mata Uang Lokal Hingga 2031