Minim Bermain di Manchester United Mason Mount Tetap Raup Cuan Lewat Bisnis
- Selasa, 27 Januari 2026
JAKARTA - Sorotan terhadap Mason Mount di Manchester United lebih sering tertuju pada kontribusinya yang terbatas di lapangan.
Cedera dan ketatnya persaingan membuat gelandang asal Inggris itu belum sepenuhnya menunjukkan kapasitas terbaiknya bersama Setan Merah. Namun di luar stadion, kisah Mount justru berjalan jauh lebih positif.
Di tengah kritik dan tekanan publik, Mount diam-diam mencatatkan keberhasilan besar lewat aktivitas bisnis keluarga. Ketika menit bermainnya minim, aliran pendapatan dari sektor nonsepak bola justru terus meningkat. Kondisi ini menempatkannya sebagai contoh pemain modern yang cermat mengelola masa depan finansial.
Baca Juga
Didatangkan Manchester United dengan nilai transfer mencapai 60 juta paun pada musim panas 2023, Mount meninggalkan Chelsea satu tahun sebelum kontraknya berakhir. Keputusan United membayar mahal tetap diambil meski secara teori sang pemain bisa direkrut gratis pada musim berikutnya.
Ekspektasi besar pun mengiringi kedatangannya ke Old Trafford. Sayangnya, realita di lapangan belum sesuai harapan, membuat perjalanan Mount di Manchester United menjadi bahan perdebatan sejak musim pertamanya.
Karier di Lapangan Tak Sesuai Ekspektasi
Musim debut Mason Mount bersama Manchester United berjalan jauh dari ideal. Cedera yang datang silih berganti membuatnya kesulitan menemukan ritme permainan. Di sisi lain, persaingan dengan Bruno Fernandes membuat posisinya di lini tengah semakin sulit.
Sepanjang kompetisi Liga Inggris, Mount hanya mencatatkan 521 menit bermain. Total penampilannya di semua ajang berhenti di angka 20 laga, sebuah catatan yang dianggap tidak sepadan dengan banderol transfernya.
Kondisi tersebut memicu kritik dari sebagian pendukung. Tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan klub mengeluarkan dana besar untuk pemain yang jarang tampil. Bahkan, muncul desakan agar manajemen mempertimbangkan opsi menjualnya kembali.
Meski demikian, masih ada pendukung yang menilai Mount tetap menunjukkan etos kerja dan profesionalisme tinggi. Ia dinilai tidak pernah setengah hati dalam proses pemulihan dan latihan.
Cedera dan Tekanan Publik
Masalah cedera menjadi faktor utama yang menghambat konsistensi Mount. Data Transfermarkt mencatat ia telah absen dalam 54 pertandingan sejak pindah dari Chelsea ke Manchester United pada 2023. Angka ini menunjukkan betapa berat tantangan yang ia hadapi.
Absennya Mount dalam banyak laga membuat perannya sulit berkembang. Setiap kali kembali bermain, ia harus memulai lagi dari awal, baik secara fisik maupun mental. Tekanan publik pun semakin meningkat seiring waktu.
Nama Sir Jim Ratcliffe ikut terseret dalam diskusi fans yang menuntut evaluasi transfer. Mount kerap dijadikan contoh rekrutan mahal yang belum memberi dampak signifikan bagi tim.
Namun di balik semua itu, Mount tetap menikmati stabilitas finansial dari gaji sepak bolanya. Dengan bayaran sekitar 150 ribu paun per pekan, ia masih berada di jajaran pemain dengan pendapatan tinggi.
Bisnis Keluarga Jadi Penopang Utama
Di luar lapangan, Mason Mount menunjukkan sisi berbeda. Bersama sang ayah, Tony Mount, ia mengelola perusahaan bernama Stone Elite. Perusahaan ini menjadi payung bagi berbagai aktivitas bisnis yang dijalankan keluarga Mount.
Stone Elite bergerak sebagai perusahaan induk yang membawahi bisnis properti dan pengelolaan aset. Mount tidak hanya berperan sebagai wajah publik, tetapi juga terlibat dalam strategi pengembangan usaha.
Langkah ini menunjukkan kesadaran Mount akan pentingnya diversifikasi pendapatan. Ia tidak sepenuhnya bergantung pada karier sepak bola yang rentan cedera dan fluktuasi performa.
Di usia 27 tahun, Mount sudah memikirkan stabilitas jangka panjang. Pendekatan ini membuatnya tetap “cuan” meski kontribusinya di lapangan tengah disorot negatif.
Aset Stone Elite Terus Meningkat
Laporan keuangan terbaru yang diajukan ke Companies House pekan ini mengungkap pertumbuhan signifikan Stone Elite. Pada Juni 2025, total aset perusahaan tersebut mencapai 5,7 juta paun atau sekitar Rp130,5 miliar.
Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 4,4 juta paun. Kenaikan tersebut menunjukkan bisnis keluarga Mount berjalan sangat sehat di tengah situasi kariernya yang naik turun.
Bahkan, laporan tersebut menyebutkan potensi keuntungan Stone Elite bisa meningkat hingga sepuluh kali lipat pada laporan keuangan berikutnya. Proyeksi ini memperkuat posisi Mount sebagai atlet dengan manajemen finansial matang.
Keberhasilan ini membuat Mount relatif aman dari tekanan finansial yang sering menghantui pemain ketika performa menurun. Ia memiliki fondasi ekonomi kuat di luar sepak bola.
Kontras Antara Lapangan dan Rekening
Kondisi Mason Mount menghadirkan kontras menarik. Di satu sisi, ia masih berjuang membuktikan diri di Manchester United. Di sisi lain, rekening bisnisnya terus bertambah tanpa terpengaruh hasil pertandingan.
Situasi ini menunjukkan bahwa karier pemain profesional tidak lagi semata ditentukan oleh performa di lapangan. Manajemen aset dan bisnis kini menjadi bagian penting dari kehidupan atlet modern.
Bagi Manchester United, Mount tetap menjadi aset yang perlu dimaksimalkan. Klub masih berharap cedera berhenti mengganggu dan sang gelandang bisa menunjukkan kualitasnya seperti saat membawa Chelsea juara Liga Champions.
Sementara itu, bagi Mount sendiri, keberhasilan bisnis menjadi penyangga mental di tengah tekanan publik. Ia tetap punya ruang untuk bangkit di lapangan, tanpa dihantui kekhawatiran masa depan finansial.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gen Z Jangan FOMO! Ini Risiko Ambil KPR Tanpa Hitung Daya Beli di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Bank Jateng Perluas KPR Subsidi di Batang: Gandeng 40 Pengembang untuk Hunian MBR
- Jumat, 06 Februari 2026
Analisis Saham Sektor Konsumsi: Strategi Investasi ICBP, SIDO, dan CMRY di Tahun 2026
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Hansi Flick Ungkap Strategi Barcelona Raih Gelar Liga Champions Musim Ini
- Jumat, 06 Februari 2026
Hector Souto Tanggapi Keraguan Asing Usai Indonesia Tembus Final Piala Asia
- Jumat, 06 Februari 2026
Lamine Yamal Jadi Ancaman Utama Barcelona dengan Dribel Paling Efektif Liga Spanyol
- Jumat, 06 Februari 2026













