Suku Bunga Naik, Simak Strategi dan Rekomendasi Saham Sektor Properti

Ilustrasi Kenaikan suku bunga BI ke 5,5 persen menekan kinerja saham sektor properti di 2026. (Gambar: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 12 Juni 2026 | 14:07:15 WIB

JAKARTA – Emiten sektor properti dinilai masih prospektif pada 2026, meski dihadapkan pada era suku bunga yang kembali tinggi. Bank Indonesia (BI) diketahui telah menaikkan kembali suku bunga ke level 5,5 persen pada pekan ini.

Kondisi tersebut menjadi tantangan operasional dan memicu pelemahan pada saham sejumlah emiten properti. IDXProperties mencatat penurunan sebesar 37,13 persen secara year-to-date (YTD) sejak awal tahun.

Direktur PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), Lydia Tjio, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada berbagai biaya pembiayaan seperti bunga KPR, pinjaman, hingga harga bahan baku. Selain itu, kondisi ini juga diperberat oleh adanya konflik geopolitik serta pelemahan nilai tukar rupiah.

“Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan, kami cukup mengelola dengan prudent segala pengeluaran. Efisiensi akan kami lakukan dalam segala bidang,” ujarnya dalam paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber. Presiden Direktur Summarecon Agung, Adrianto Pitojo Adi, menambahkan bahwa pihaknya optimistis pemerintah akan kembali memberikan insentif untuk mengatasi risiko kenaikan suku bunga.

“Ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Summarecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu,” ujarnya dalam kesempatan yang sama, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menyebutkan bahwa kenaikan suku bunga kali ini diperlukan demi menjaga stabilitas rupiah.

Pelemahan rupiah yang berkelanjutan akan berdampak negatif terhadap minat pembelian rumah. Kevin menjelaskan, lesunya kinerja saham dan fundamental emiten properti saat ini juga dipengaruhi oleh tren penjualan yang cenderung lemah pada semester I setiap tahunnya.

Penjualan biasanya akan kembali meningkat pada paruh kedua tahun, sejalan dengan promosi akhir tahun dan rilis proyek perumahan baru. Saat ini, valuasi saham properti berada di level historical lows dengan diskon mencapai 85-90 persen terhadap Net Asset Value (RNAV).

Rasio price to book value (PBV) diproyeksikan berada di level 0,3-0,5 kali untuk tahun 2026. Secara fundamental, saham properti didukung oleh neraca keuangan yang kuat dengan posisi kas besar serta rasio utang yang masih dapat dikelola.

Namun, belum ada katalis positif kuat yang dapat mendorong kenaikan valuasi karena penjualan rumah yang masih landai. Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai kenaikan suku bunga memberatkan sektor properti karena cicilan KPR menjadi lebih mahal dan bank menjadi lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.

Kinerja emiten properti pada kuartal II berpotensi lebih berat dibanding kuartal I, terutama bagi emiten yang bergantung pada penjualan residensial. “Namun, dampaknya tidak merata, karena emiten dengan recurring income besar, kas kuat, dan proyek township yang sudah mature cenderung lebih tahan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ekky menambahkan bahwa sektor properti terkena tekanan tambahan karena sangat sensitif terhadap suku bunga. “Kenaikan BI Rate kembali menurunkan ekspektasi investor terhadap marketing sales, margin, dan kemampuan konsumen mengambil KPR,” paparnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai tantangan terberat pada kuartal II akan dialami oleh pengembang yang menyasar segmen kelas menengah. Tren kenaikan suku bunga dapat menekan daya beli dan memicu sikap wait-and-see dari konsumen.

Meskipun demikian, perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen sepanjang 2026 menjadi katalis positif. Emiten dengan porsi recurring income yang solid dinilai memiliki ketahanan lebih baik.

“PWON menjadi cukup menarik, karena pendapatan masih didominasi oleh recurring income yang relatif lebih resilien terhadap kenaikan suku bunga,” katanya kepada Kontan, Kamis, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kevin Halim merekomendasikan untuk membeli saham BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 1.050, Rp 1.150, Rp 580, dan Rp 520 per saham.

Ekky Topan menyarankan investor untuk mencermati saham PWON, CTRA, dan BSDE karena memiliki neraca dan arus kas yang kuat. Adrian Djie menambahkan bahwa saham emiten properti saat ini diperdagangkan pada level yang atraktif karena koreksi harga lebih disebabkan oleh tekanan pasar sistematis.

Untuk strategi jangka pendek, Adrian merekomendasikan trading buy untuk saham PWON dengan target harga Rp 270 per saham.

Reporter: Akbar