Naik 7 Persen Lebih, Harga Batu Bara Dunia Dekati USD150 per Ton

Ilustrasi Batu Bara. (Sumber Gambar: net)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 07 Juni 2026 | 10:17:37 WIB

JAKARTA - Banderol harga batu bara di pasar internasional melonjak tajam sepanjang pekan ini dan semakin mendekati level US$147,5 per ton. Angin segar dari China muncul menjadi motor penggerak utama bagi pergerakan nilai jual komoditas si "emas hitam" tersebut.

Berdasarkan data kompilasi Refinitiv per Jumat (5/6/2026), harga batu bara global untuk kontrak pengiriman dua bulan mendatang tercatat pada posisi US$147,5 per ton, atau mengalami kenaikan tipis sebesar 0,31% jika dikomparasikan dengan hari sebelumnya.

Posisi harga ini menjadi yang tertinggi sejak tanggal 30 Maret 2026, yang pada saat itu sempat bertengger di level US$148,6 per ton.

Dalam akumulasi waktu satu pekan, nilai jual batu bara dunia melesat hingga 7,8% sekaligus menorehkan pencapaian mingguan paling impresif sejak pekan pertama Maret 2026 (17,45%).

Sentimen positif dari Negeri Tirai Bambu tersebut memicu harga komoditas batu bara terangkat hingga 6,87% hanya dalam waktu satu hari perdagangan pada hari Senin (1/6/2026), yang sekaligus memberikan kontribusi besar terhadap performa gemilang sepanjang minggu ini.

Lonjakan harga tersebut meletus setelah pelaksanaan forum keselamatan kerja di provinsi lumbung energi, Shanxi, memperkuat kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi seretnya ketersediaan stok akibat penghentian sementara kegiatan operasional di beberapa lokasi tambang pasca kecelakaan fatal bulan lalu.

Pemerintah daerah Shanxi yang terletak di kawasan China bagian utara menggelar rapat khusus pada hari Sabtu guna membahas gerakan pembenahan risiko keselamatan serta potensi bahaya laten di dalam area tambang batu bara, berdasarkan laporan media resmi setempat pada hari Minggu.

Aparat keamanan di wilayah produsen batu bara terbesar di China itu berkomitmen menegakkan prinsip "tanpa ampun" demi menindak tegas segala bentuk aktivitas ilegal seperti pembuatan lorong bawah tanah rahasia, manipulasi instrumen monitoring keselamatan, hingga aktivitas penambangan tanpa izin di luar wilayah konsesi resmi.

Menjelang penutupan Mei lalu, kecelakaan tambang yang sangat mematikan di situs penambangan Liushenyu, Shanxi, mengakibatkan hilangnya nyawa sedikitnya 82 orang.

Tragedi ini memicu pelaksanaan inspeksi keselamatan secara masif dan menyeluruh, yang berimplikasi pada pembekuan operasional sejumlah tambang serta menimbulkan kecemasan pasar atas tersendatnya arus pasokan barang.

Sejumlah analis menilai skala dan dampak kefatalan dari insiden tersebut tergolong sangat besar, sehingga peluang untuk mempercepat pemulihan kegiatan operasional dalam waktu dekat menjadi sangat terbatas.

Meskipun begitu, volume produksi domestik China terpantau masih sangat besar, dan cadangan stok batu bara di area pelabuhan maupun fasilitas pembangkit listrik terus merangkak naik sehingga berfungsi sebagai pengerem laju kenaikan harga komoditas batu bara tersebut. 

Ditambah lagi, tingkat konsumsi listrik domestik dinilai belum terlalu kuat untuk menyerap limpahan pasokan yang melimpah itu.

Pihak otoritas China sebelumnya memang memacu peningkatan kapasitas produksi batu bara nasional demi menjamin ketahanan sektor energi pasca terjadinya krisis kelistrikan beberapa tahun silam. 

Dampaknya, persediaan batu bara lokal melimpah ruah dan menekan level harga jual di pasar domestik.

Di sisi lain, aktivitas impor batu bara oleh China juga mulai menunjukkan perlambatan akibat para pembeli komoditas lebih memprioritaskan pasokan dalam negeri yang dipatok dengan harga lebih kompetitif. 

Kondisi inilah yang membuat harga batu bara termal di tingkat produsen kehilangan daya untuk merangkak naik lebih tinggi.

Reporter: Ibtihal