Harga Minyak Dunia Belum Sentuh 200 Dollar AS Meski Pasokan Seret
JAKARTA – Dalam kurun waktu berpuluh-puluh tahun, para pengamat industri energi senantiasa mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi melahirkan petaka hebat bagi perekonomian sejagat.
Jalur pelayaran yang memegang peranan sebagai urat nadi perdagangan energi internasional tersebut sepanjang ini memasok kisaran seperlima dari total cadangan minyak dunia.
Walau demikian, setelah melewati waktu lebih dari tiga bulan lintasan tersebut terhambat akibat konflik di area Teluk, nilai jual minyak global rupanya belum melonjak setinggi yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan.
Menyadur dari Bloomberg, nominal minyak mentah terpantau masih tertahan di bawah level 100 dollar AS per barel, berbanding terbalik dari estimasi sejumlah analis yang pada mulanya memproeksikan nilai jual sanggup menembus angka 200 dollar AS hingga 300 dollar AS per barel.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump bahkan mengulas keadaan tersebut pada Jumat (5/6/2026). "Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk. Hari ini saya melihat harga minyak sekitar 96 dollar AS per barrel, padahal banyak yang memperkirakan bisa mencapai 300 dollar AS," ujar Trump.
Berdasarkan kacamata para pelaku pasar, perpaduan dari bermacam elemen ikut mereduksi dampak atas hilangnya lebih dari 10 juta barel per hari stok minyak dari area Timur Tengah.
Faktor-faktor tersebut di antaranya yaitu melonjaknya pengapalan minyak dari AS, menyusutnya tingkat penyerapan minyak oleh China yang terjadi lebih dalam dari estimasi, serta masih mengalirnya sebagian sirkulasi minyak yang berhasil keluar melintasi Selat Hormuz.
Di samping itu, kondisi pasar pun terbantu oleh adanya fenomena surplus pasokan sebelum konflik tersebut meletus.
Meski begitu, fokus publik kini tertuju pada seberapa lama bantalan pelindung tersebut mampu bertahan dan kapan distribusi minyak lewat Selat Hormuz bisa pulih seperti sedia kala.
Salah satu kejutan paling masif datang dari China yang memegang status selaku negara pengimpor minyak terbesar di dunia. Data dari Vortexa Ltd memperlihatkan aktivitas impor minyak China pada Mei 2026 menyusut hampir 40 persen disandingkan dengan rata-rata tahun kemarin.
Penurunan itu diproyeksikan dapat mengompensasi sekitar seperlima hingga sepertiga stok yang raib akibat perang.
Bukan hanya itu, China juga menyetop ritme penumpukan cadangan strategis minyak yang selama beberapa tahun belakangan terus digenjot.
Kebutuhan minyak di negara tersebut ikut tertekan oleh peralihan bahan baku sektor petrokimia dari minyak menuju batu bara serta kian tumbuhnya pemakaian kendaraan listrik yang memotong pemakaian bensin.
Institusi riset Kpler dan Energy Aspects memprediksi tingkat pengolahan pabrik kilang minyak China pada Mei dan Juni hanya berkisar 13 juta barrel per hari.
Angka itu mendekati posisi yang terakhir kali terlihat pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020 serta berada jauh di bawah rata-rata sebesar 14,8 juta barrel per hari sepanjang tahun kemarin.
Kepala Strategi Komoditas ING di Singapura, Warren Patterson, berpendapat susutnya pembelian minyak oleh China memegang peranan krusial dalam menyeimbangkan pasar global.
"Penurunan permintaan dari China membantu membatasi kenaikan harga minyak dan besarnya dampak tersebut mengejutkan banyak pelaku pasar," kata Patterson.
Di sudut lain, Amerika Serikat tampil sebagai penyuplai penyeimbang utama bagi bursa minyak bumi pasca meluncurkan gempuran ke Iran pada akhir Februari.
Pengiriman minyak mentah dan bahan bakar AS pada Mei dibukukan lebih dari 2 juta barrel per hari di atas rata-rata sepanjang tahun kemarin.
Output minyak AS sendiri sudah menyentuh rekor paling tinggi dalam kurun beberapa tahun belakangan berkat lompatan shale oil yang mengubah negara itu menjadi eksportir bersih untuk minyak mentah maupun produk turunan olahannya.
Pemerintah AS pun menggelontorkan 172 million barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) selaku bagian dari langkah bersama negara-negara maju demi menutupi defisit pasokan global.
Kecepatan pelepasan cadangan itu bahkan melompati estimasi banyak pelaku pasar.
Pada salah satu minggu di bulan kemarin, tabungan SPR berkurang hingga 1,4 juta barrel per hari. Hampir separuh dari volume yang digelontorkan dikirim ke Eropa serta bermacam negara lainnya.
Perpaduan dari ekspor AS yang melesat tinggi dan lesunya permintaan China menjadi pemantik utama mengapa harga patokan fisik minyak dunia kembali melorot ke bawah 100 dollar AS per barrel sehabis sempat menyentuh rekor di atas 140 dollar AS per barrel pada tahapan awal perang.
Kendati kondisi pasar relatif tenang, sejumlah pengamat mewanti-wanti bahwa ruang untuk bergerak kian sempit. Stok minyak komersial di Amerika Serikat pada pekan lalu merosot ke level paling rendah dalam lebih dari dua dekade.
Tabungan darurat pun terus tergerus, sementara cadangan bahan bakar mendapati tekanan mendekati puncak musim mudik musim panas.
Greg Sharenow, Kepala Tim Investasi Komoditas Pacific Investment Management Co. (Pimco), memaparkan bahwa tatanan pasar minyak bumi global kian ketat dari minggu ke minggu.
"Setiap minggu sistem kehilangan sekitar 70 juta hingga 80 juta barel. Kondisi seperti ini tidak bisa berlangsung selamanya," ujarnya.
Sesuai penuturan Sharenow, dalam beberapa bulan ke depan bursa berpotensi kehilangan kelonggaran lantaran stok penyangga terus dikuras.
Ia pun menilai pengiriman minyak AS pada posisi saat ini bakal sulit dipertahankan dalam jangka panjang sebab stok di pusat penampungan utama Cushing, Oklahoma, sudah mendekati ambang batas operasional paling minimal.
Pada waktu yang bersamaan, kilang-kilang domestik AS menggenjot tingkat operasional demi mencukupi keperluan bahan bakar, sehingga ikut memperebutkan pasokan minyak mentah yang tersedia.
Rusia dan Jalur Alternatif Selat Hormuz Kabinet Trump juga menempuh sederet tindakan lain demi mengawal ketenangan pasar, tidak terkecuali memberi kelonggaran bagi sebagian minyak Rusia yang mulanya terjerat sanksi.
Kebijakan ini memudahkan kilang-kilang India memperbanyak transaksi pembelian minyak Rusia. Pada Mei, pasokan minyak Rusia ke India menyentuh rata-rata 1,76 juta barel per hari atau melonjak 63 persen bila disandingkan dengan Februari.
Sementara itu, negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk Persia memanfaatkan bermacam rute alternatif untuk mengalirkan ekspornya.
Arab Saudi bertumpu pada jaringan pipa East-West menuju Laut Merah, sedangkan Uni Emirat Arab menyalurkan minyaknya ke pelabuhan Fujairah yang berlokasi di luar Teluk Persia.
Sebagian kapal tanker pun terpantau masih melintasi Selat Hormuz walaupun dihadapkan pada risiko yang tinggi. Namun, volume lalu lintas kapal tetap merosot tajam jika disandingkan sebelum terjadinya pertikaian.
Data pelacakan rute laut menunjukkan jumlah kapal yang lewat hanya berkisar dua sampai tiga armada saja per hari, berbanding terbalik dengan hampir 100 kapal per hari sebelum pecah perang.
Walau begitu, otoritas yang memahami aktivitas Komando Pusat AS menuturkan terdapat hampir 1.000 kapal komersial yang telah mengarungi Selat Hormuz dalam dua bulan belakangan.
Pengamat Raymond James, Pavel Molchanov, berpendapat pemulihan yang berarti baru bisa terwujud andai terdapat pakta damai yang jangka panjang antara AS dan Iran.
Walau nilai minyak belum meroket secara ekstrem, kondisi pasar tetap berada dalam posisi yang rentan.
Stok global terus menyusut dengan tempo yang cepat sehingga kendala pasokan yang terhitung kecil sekalipun punya potensi memicu lonjakan harga yang tajam.
Di luar faktor-faktor fundamental, harapan pasar atas potensi tercapainya pakta damai antara AS dan Iran pun ikut menekan kenaikan harga.
Fluktuasi yang tinggi memicu banyak investor memangkas modal mereka di bursa minyak. Posisi terbuka (open interest) pada kontrak berjangka Brent bahkan anjlok ke level paling rendah sejak Agustus.
Kepala Vitol Bahrain, Tom Baker, menyebutkan banyak pelaku pasar masih menaruh asa bahwa jalan keluar diplomasi akan segera terwujud.
Namun, menurut pandangannya, meskipun output minyak bisa dipulihkan dalam tempo cepat, pasar tetap dihadapkan pada defisit stok yang masif.
"Pada akhirnya masih ada lubang besar dalam pasokan minyak dunia. Jika dihitung, sekitar satu billion barel minyak masih hilang dari pasar," kata Baker.