BOGOR - Nilai jual daging sapi di Pasar Anyar, Kota Bogor merangkak naik ke angka Rp 145.000 per kilogram dari yang sebelumnya bertahan di harga Rp 130.000 per kilogram.
Seorang pedagang daging, Ilyas (32), memaparkan bahwa lonjakan harga ini sudah berlangsung sejak Hari Raya Idulfitri 2026.
Ia menambahkan, dirinya kerap menerima keluhan dari konsumen akibat tingginya harga tersebut hingga membuat mereka membatalkan niat untuk membeli daging.
"Itu tuh dari Lebaran Idul Fitri berarti terakhir naik. Biasanya habis Lebaran Idul Fitri biasanya kan turun, dari Rp 130.000 harganya sekarang malah Rp 145.000," kata Ilyas.
"Kemahalan, daya belinya jadi lemah. Orang jadi mikir dua kali kalau mau beli. Normalnya kan Rp 130.000, kalau normal," lanjutnya.
Ilyas biasanya menyediakan stok daging untuk dijual sebanyak 60 kg, namun lantaran adanya lonjakan harga ini ia hanya berani membawa sekitar 30 kg.
Menurut penuturannya, jika ingin mendapatkan keuntungan yang ideal, ia harus menjual seharga Rp 150.000 per kilogramnya.
Akan tetapi, Ilyas menganggap patokan harga Rp 150.000 justru akan memberatkan para konsumen dan malah berisiko tidak mendatangkan laba sama sekali.
"Kami kalau pengin untung, jualnya Rp 150.000. Cuma konsumen pada enggak mau. Jadi kalau pengin stabil, Rp 150.000 jualnya tapi konsumen terlalu berat," ujar dia.
Ia pun lebih memilih untuk mematok harga jual pada kisaran Rp 140.000 hingga Rp 145.000, dengan modal awal sebesar Rp 135.000 untuk mengambil pasokan dari Rumah Potong Hewan (RPH) Bubulak.
Ilyas mengaku beralih ke posisi dilematis lantaran harga jual yang terlampau tinggi namun profit yang didapatkan justru menipis.
"Mau gimana lagi. Kami kan ini porsinya porsi bertahan. Enggak jualan bingung, jualan juga bingung. Mending jualan dulu aja," jelasnya.
Kondisi serupa diutarakan oleh Dani (22), pedagang daging lainnya, yang menyebut lonjakan harga bermula sejak Hari Raya Idulfitri 2026 dari kisaran awal Rp 125.000 hingga Rp 130.000.
Kendati demikian, ia melanjutkan, harga jual saat ini terpaksa dikerek naik ke angka Rp 140.000 sampai Rp 145.000.
"Saya jual daging Rp 145.000, ke langganan Rp 140.000," kata Dani.
Dirinya menambahkan, setiap hari selalu ada keluhan dari para konsumen mengenai harga daging yang terus melambung tinggi.
"Pastinya sih ada aja tiap hari, 'Masa Lebarannya udah habis tapi harganya belum turun?' kayak gitu," tambahnya.
Meski kerap menerima komplain atas tingginya harga jual, Dani menyatakan tidak berniat menaikkan harga lebih tinggi lagi karena khawatir akan membuat pelanggan merasa kecewa.
"Enggak mau banding harga, takut kecewa pelanggan," ujar dia.
Disebut imbas dolar naik Sementara itu, Ilyas menjelaskan bahwa dirinya memperoleh pasokan daging dari RPH yang berlokasi di kawasan Bubulak. Komoditas tersebut berasal dari jenis Sapi BX asal Australia.
"Ini kan imbas dari dolar, kami kan belinya beli impornya dolar kan, tapi kan sapinya sapi impor kan, kalau pedagang semua pasar anyar itu, semua pasar itu, pasar tradisional jualnya sapi-sapi impor," kata Ilyas.
Pada kesempatan yang sama, Dani mengonfirmasi bahwa sapi yang dipasarkannya merupakan tipe sapi BX asal Australia dengan proses penjagalan yang dilakukan di RPH Bubulak.
"Kan ini sapi BX ya dari Australia. Kan sapinya impor, tapi pemotongannya di Indonesia, di Bubulak," ujar tambah Dani.