JAKARTA - Harga jual minyak mentah ditutup menanjak pada akhir sesi perdagangan Selasa (12/5).
Dinamika ini didorong oleh adanya ketidaksamaan visi yang mencolok antara Amerika Serikat dan Iran terkait usul penyelesaian konflik di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan gangguan pasokan minyak global.
Mengutip laporan Reuters, Rabu (13/5), harga minyak mentah Brent berjangka bertambah USD 3,56, atau 3,42 persen ke posisi USD 107,77 per barel.
Secara bersamaan, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir naik USD 4,11 persen pada posisi USD 102,18 per barel.
Sebelumnya, kedua acuan harga dunia ini juga telah mencatatkan penguatan hampir 3 persen pada perdagangan Senin.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari bahwa pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi sangat kritis.
Pernyataan itu berkaitan dengan perbedaan pendapat soal poin-poin permintaan Iran, yaitu penyelesaian perselisihan di semua sektor, pencabutan blokade laut oleh pihak AS, pembukaan kembali rute perdagangan minyak Iran, serta pembayaran kompensasi atas kerugian akibat peperangan.
Selain itu, Iran juga menegaskan kedaulatan mereka di wilayah Selat Hormuz.
“Pasar meragukan bahwa kesepakatan damai dapat segera tercapai,” kata analis StoneX, Alex Hodes.
CPO
Berdasarkan data dari situs resmi Barchart, harga CPO untuk kontrak periode Juni merekam kenaikan sebesar 0,29 persen. Hasil tersebut membuat harga CPO kini berada pada level MYR 4.494 per ton.
Batu Bara
Berlawanan arah, harga jual batu bara berjangka Newcastle justru menunjukkan pelemahan. Merujuk data Barchart, harga batu bara untuk kontrak Juni jatuh 0,44 persen ke level USD 135,80 per ton.
Nikel
Harga logam nikel juga terpantau menurun. Berdasarkan rilis London Metal Exchange, nilai nikel menyusut 1,56 persen ke posisi USD 18.952 per ton.
Timah
Nilai jual timah dilaporkan turun sebesar 1,61 persen. Sesuai dengan data London Metal Exchange, saat ini titik harga timah menempati level USD 54.812 per ton.