JAKARTA – Pemerintah bersama dengan self-regulatory organization (SRO) tengah mendorong agenda reformasi guna menjaga stabilitas pasar modal tanah air. Langkah strategis ini ditempuh di tengah situasi dinamika global serta dalam rangka menunggu keputusan penting terkait market accessibility review dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang direncanakan pada Juni 2026.
Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, Evita Manthovani, mengutarakan bahwa fundamen ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang kokoh dengan nilai pasar yang tetap kompetitif bagi para pemodal internasional.
Ia memaparkan bahwa beragam kebijakan strategis, seperti kenaikan free float saham dari 7,5% menjadi 15% serta penambahan proporsi saham dalam indeks RTI 45 bagi dana pensiun dan asuransi dari 8% ke 20%, telah mendapatkan respons positif dari MSCI.
“Keputusan final baru ditetapkan Juni 2026. Namun, arah penilaian mereka menunjukkan apresiasi atas langkah reformasi yang kami lakukan,” ujar Evita sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Evita menjelaskan lebih lanjut bahwa keperluan pembiayaan di Indonesia mengalami lonjakan yang cukup signifikan dari Rp 7.400 triliun menjadi Rp 9.200 triliun pada tahun 2029. Sebagian besar dari kebutuhan tersebut berasal dari sektor sosial dan masyarakat, sehingga penguatan investasi di bermacam bidang, termasuk sektor logistik, menjadi hal yang sangat krusial.
“Kami memiliki ruang sekaligus tanggung jawab untuk meyakinkan pasar global bahwa reformasi ekonomi kami konsisten dan berkelanjutan,” kata Evita sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam forum yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi (Kiki), memberikan penekanan bahwa kekuatan pasar modal pada saat ini tidak cuma bertumpu pada sentimen dunia, namun juga pada landasan investor domestik yang jumlahnya kian meningkat serta aktif. Ia memberikan penilaian bahwa poin terpenting adalah senantiasa menjaga konsistensi partisipasi dari para investor lokal, baik itu individu maupun institusi.
“Selama kami yakin fundamental ekonomi kami baik, maka kami juga yakin pasar modal akan tetap baik,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.