Prediksi IHSG Jelang Review MSCI dan Dampak Bobot Saham Indonesia

Selasa, 12 Mei 2026 | 15:25:58 WIB
Ilustrasi Hubungan IHSG dan MSCI dalam Pergerakan Harga Saham (Gambar: idntimes.com)

JAKARTA – Pelaku pasar tengah bersiap mengantisipasi potensi gejolak baru di pasar saham domestik menjelang pengumuman hasil review indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 12 Mei 2026.

Kekhawatiran utama muncul dari potensi pengurangan bobot (underweight) Indonesia serta peluang keluarnya beberapa saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks tersebut.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia berpendapat bahwa pasar sebenarnya sudah lebih dulu mengantisipasi potensi sentimen negatif ini melalui aksi jual investor asing dalam beberapa pekan terakhir.

“Menurut kami, asing sudah jualan dari kemarin-kemarin. Jadi mungkin besok masih volatil, tapi kalau besar-besaran sampai di bawah 6.800 kayaknya enggak,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (11/5/2026).

Liza menjelaskan bahwa tekanan tidak hanya datang dari potensi keluarnya saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dari indeks MSCI, namun juga akibat pengurangan bobot saham Indonesia secara menyeluruh dalam portofolio global. Kondisi ini dinilai mencerminkan memburuknya persepsi investor global terhadap prospek pasar domestik untuk jangka pendek.

“Yang menjadi concern itu saham-saham lain yang juga di-underweight. Jadi di indeks MSCI itu kan saham Indonesia bukan cuma BREN dan DSSA, ada saham lain juga yang porsinya dikurangi,” lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Liza menilai investor asing cenderung hanya menjaga posisi pada saham-saham berkapitalisasi besar untuk mempertahankan fleksibilitas keluar-masuk pasar Indonesia. Namun, dengan minimnya katalis positif, arus modal asing dianggap masih sulit untuk masuk kembali secara agresif.

“Sayangnya, katalis yang berkembang sekarang semuanya negatif. Jadi agak sulit berharap asing masuk lagi ke Indonesia dalam jangka pendek,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Liza juga membantah anggapan mengenai adanya arus dana asing besar yang masuk ke pasar saham domestik pekan ini. Menurutnya, nilai transaksi besar mencapai Rp12 triliun yang sempat tercatat lebih banyak bersumber dari transaksi negosiasi terkait corporate action PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), dan bukan merupakan murni inflow asing di pasar reguler.

Di sisi lain, tekanan eksternal masih membayangi pasar, mulai dari pelemahan rupiah yang bertahan di atas Rp17.400 per dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, hingga ketidakpastian geopolitik global. Situasi ini membuat IHSG rawan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, terutama menjelang libur panjang akhir pekan.

Liza memproyeksikan level 6.800 sebagai area psikologis penting bagi IHSG. Jika level tersebut tertembus, dikhawatirkan tekanan jual akan semakin besar. “Kalau di bawah 6.800, alarmnya sudah nyala banget,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walaupun demikian, Liza masih melihat adanya peluang teknikal rebound pada sejumlah saham yang valuasinya mulai murah, khususnya saham perbankan dan emiten tertentu yang berpotensi mendapat sentimen positif sektoral.

Salah satu yang diperhatikan adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) seiring rencana pemerintah menghapus bea keluar produk plastik menjadi 0%. “Kalau memang bea keluar plastik jadi 0%, mungkin bisa jadi momentum untuk TPIA. Tapi problemnya bercampur dengan sentimen MSCI,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk proyeksi jangka menengah, Kiwoom merevisi target IHSG kuartal II/2026 menjadi di kisaran 7.300. Menurut Liza, pemulihan pasar baru berpotensi terjadi jika tensi geopolitik global mereda dan harga minyak mulai melandai sehingga tekanan terhadap fiskal serta nilai tukar Indonesia berkurang.

Terkini