JAKARTA – Pasar kopi internasional menunjukkan prospek positif pada perdagangan hari ini, 12 Mei 2026.
Secara spesifik, harga kopi Robusta di bursa London melonjak tajam di semua lini, di mana kontrak berjangka Mei 2026 naik sebesar $90/ton dan diperdagangkan pada level $3.734/ton.
Sementara itu, kontrak berjangka Januari 2027 juga meningkat tajam sebesar $87/ton hingga mencapai $3.234/ton.
Kondisi serupa terjadi di bursa New York pagi ini, di mana harga kopi Arabika mencatatkan sesi perdagangan positif.
Kontrak Mei 2026 melonjak 8,9 sen/lb menjadi 298,6 sen/lb, yang diikuti peningkatan kontrak Maret 2027 sebesar 6,85 sen/lb ke posisi 264,85 sen/lb.
Di bursa Brasil, pergerakan harga Arabika juga menunjukkan penguatan tajam, dengan kontrak Mei 2026 naik 11,75 sen/lb menjadi 378,9 sen/lb.
Melansir Reuters, harga kopi Arabika telah pulih dengan kuat setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dalam 18 bulan terakhir.
Para pedagang mencatat bahwa penguatan tajam mata uang Brasil terhadap dolar AS menjadi salah satu pemicu perlambatan penjualan.
Hal ini disebabkan oleh berkurangnya jumlah mata uang lokal yang diterima petani dari transaksi ekspor, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Berbeda dengan pasar global, harga kopi di pasar domestik pada 12 Mei terpantau stabil tanpa fluktuasi baru. Di wilayah Dataran Tinggi Tengah, harga berkisar antara 86.300 hingga 87.000 VND/kg.
Harga di Dak Lak dan Gia Lai tidak berubah dari hari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi di seluruh negeri. Sebaliknya, harga terendah berada di Lam Dong yang diperdagangkan pada level 86.300 VND/kg.
Pedagang domestik memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, harga kopi domestik akan tetap stabil di bawah 89.000 VND/kg. Meskipun masih terdapat prospek tren kenaikan, fluktuasinya diprediksi tidak akan signifikan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Berdasarkan data Kantor Statistik Umum, harga ekspor kopi pada empat bulan pertama tahun ini mencapai kisaran US$4.556 per ton, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Alasan utamanya berasal dari meningkatnya tekanan pasokan di pasar dunia, terutama karena negara-negara penghasil utama memasuki musim panen mereka, yang memberikan tekanan ke bawah pada harga kopi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada April 2026, volume ekspor tercatat sebesar 220.000 ton dengan harga rata-rata sekitar 4.255 USD/ton yang menunjukkan tren penurunan dibanding bulan-bulan sebelumnya.