Meski Impor China Turun, Harga Batu Bara Global Menguat ke USD 136,4

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54:52 WIB
Ilustrasi Batu Bara. (Foto: CNBC Indonesia)

JAKARTA – Harga batu bara kembali mencatatkan peningkatan di tengah memanasnya harga minyak dunia. 

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara untuk kontrak Juni ditutup pada level US$136,4 per ton, menguat sebesar 1,4 persen pada perdagangan Senin (12/5/2026). 

Lonjakan ini menjadi sentimen positif setelah sebelumnya harga komoditas ini sempat melemah 0,55 persen pada Jumat pekan lalu.

Di saat yang sama, kontrak berjangka minyak juga merangkak naik. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 2,78 persen ke posisi US$98,07 per barel, sementara minyak mentah Brent naik 2,88 persen ke level US$104,20 per barel. 

Mengingat batu bara merupakan komoditas substitusi minyak, pergerakan harga keduanya cenderung saling memengaruhi.

Harga batu bara tetap melaju kencang meskipun terdapat sentimen negatif dari China. Impor batu bara China dilaporkan menurun pada April 2026 menjadi 33,08 juta ton, menyusut 12,54 persen secara tahunan. P

enurunan ini dipicu oleh tingginya harga batu bara laut, kuatnya produksi domestik China, serta peningkatan penggunaan energi bersih di negara tersebut. 

Selain itu, harga batu bara impor terpantau lebih mahal dibandingkan harga pasar dalam negeri China yang cenderung stabil.

Dari sisi suplai, dua pemasok utama China yakni Indonesia dan Rusia juga mengalami kelesuan. Indonesia menghadapi pembatasan kebijakan domestik yang menghambat ekspor, sementara pengiriman batu bara Rusia ke China anjlok 33,59 persen dibandingkan tahun lalu. 

Di internal China sendiri, tingginya stok dan rendahnya permintaan energi pada masa transisi musim membuat kebutuhan impor berkurang.

Ke depan, ketidakpastian di wilayah Timur Tengah masih berisiko mengganggu pasokan energi global. Harga minyak yang tetap tinggi diprediksi akan memengaruhi biaya produksi serta logistik di negara eksportir seperti Australia dan Indonesia. 

Di sisi lain, kenaikan permintaan dari Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa untuk pengisian stok musiman memicu persaingan ketat dalam mendapatkan batu bara berkualitas tinggi. 

Dalam situasi ini, harga batu bara impor diperkirakan akan tetap kuat, terutama dengan adanya potensi aktivitas restocking menjelang musim panas.

Terkini