JAKARTA – PT Mitra Adiperkasa (MAPI) kini menjadi fokus utama di pasar modal usai Pacific Universal Investments Pte. Ltd. resmi mengakuisisi 51 persen saham perseroan dengan nilai transaksi Rp11,81 triliun.
Informasi ini menjadi sorotan penting bagi investor karena diikuti rencana penawaran tender wajib (mandatory tender offer/MTO) pada harga Rp1.550 per saham, bertepatan dengan tren positif kinerja kuartal I 2026.
Ciptadana Sekuritas Asia, melalui riset yang dirilis 11 Mei 2026, tetap mempertahankan rekomendasi “buy” untuk saham MAPI dengan target harga Rp1.650.
Analisis mereka menyebutkan bahwa tender wajib seharga Rp1.550 berpotensi menyokong sentimen jangka pendek.
Di sisi lain, masuknya CVC dipandang sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka menengah MAPI sebagai emiten ritel gaya hidup, olahraga, hingga restoran.
Berdasarkan data keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pacific Universal menyelesaikan akuisisi 8,5 miliar saham atau sekitar 51 persen saham MAPI dari PT Satya Mulia Gema Gemilang pada harga Rp1.395 per saham. Struktur transaksi juga melibatkan CVC Capital Partners melalui Samudra (Investment) Pte. Ltd. dan Ocean Continuum Pte. Ltd. sesuai ketentuan POJK No. 9/2018 tentang pengambilalihan perusahaan terbuka."
Terkait kinerja kuartal I 2026, MAPI mencatatkan pendapatan Rp12,3 triliun atau tumbuh 32,2 persen secara tahunan. Laba bersih turut meningkat 33 persen menjadi Rp628 miliar, dengan EBIT menguat 36,7 persen ke posisi Rp1,05 triliun berkat ekspansi gerai dan terjaganya daya beli segmen premium.
Namun, margin laba kotor mengalami koreksi ke level 39,7 persen dari sebelumnya 43,9 persen. Ciptadana menilai tekanan ini disebabkan oleh pelemahan nilai tukar terhadap barang impor serta gencar dikeluarkannya biaya promosi.
Dari sisi valuasi, PER MAPI berada di level 10,2 kali dengan PBV 1,5 kali, posisi yang dinilai mendekati level masa pandemi namun dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA yang tetap sehat.
Manuver korporasi oleh Pacific Universal dan CVC Capital Partners ini menjadi salah satu aksi terbesar di sektor ritel tahun 2026.
Meski fundamental operasional tumbuh, investor tetap diingatkan untuk mengamati tekanan pada margin laba kotor akibat faktor kurs dan biaya promosi ke depan.