Bitcoin Dekati USD83.400 di Tengah Data Inflasi AS dan Tensi Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 15:33:38 WIB
ILUSTRASI, bitcoin (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin (BTC) terpantau mengalami tren penguatan hingga melewati angka USD81.000 pada akhir pekan. Hal ini terjadi seiring meningkatnya perhatian investor terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat serta perkembangan situasi geopolitik antara AS dan Iran.

Ditinjau secara teknikal, sasaran harga Bitcoin selanjutnya diprediksi mencapai kisaran USD83.400 merujuk pada proyeksi Fibonacci retracement sebagaimana dilansir dari berita sumber. Di sisi lain, indikator Relative Strength Index (RSI) mengindikasikan bahwa tenaga penguatan harga masih terus terkumpul.

Saat ini pelaku pasar sedang menantikan rentetan data ekonomi krusial dari Amerika Serikat sepanjang pekan ini. Jadwal perilisan data Indeks Harga Konsumen (CPI) akan dilakukan pada Selasa, disusul Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Rabu, dan data penjualan ritel pada Kamis. 

Ditambah lagi, laporan bulanan dari pihak OPEC akan rilis di tengah pekan, sementara Jumat menjadi masa berakhirnya jabatan Jerome Powell sebagai pimpinan Federal Reserve.

Di waktu yang bersamaan, Donald Trump selaku mantan Presiden AS kembali melontarkan kritikan tajam kepada Iran. Trump mendakwa bahwa Iran telah membuat Amerika Serikat "mengulur waktu" selama 47 tahun. 

Ia pun mengungkit kebijakan pemerintahan mantan Presiden Barack Obama yang dinilai pernah menyalurkan dana miliaran dolar ke Teheran, termasuk di dalamnya uang tunai sejumlah USD1,7 miliar.

Trump berpendapat bahwa dana tersebut menjadi "durian runtuh" bagi otoritas Iran dan memberikan dukungan finansial bagi pemerintah di sana. 

Walau demikian, Trump tidak menetapkan adanya sanksi baru atau tindakan militer susulan. Pernyataan ini mencuat saat reli Bitcoin di akhir pekan sedang menguji zona resistensi di level USD81.000, yang pada akhirnya memicu kewaspadaan pasar terhadap risiko geopolitik di sektor kripto.

Para pelaku pasar menilai bahwa publikasi data CPI pada Selasa akan menjadi penentu utama bagi ekspektasi kebijakan bunga acuan Federal Reserve. 

Angka inflasi yang lebih rendah dari prediksi biasanya memberikan sentimen positif bagi aset berisiko layaknya kripto, namun inflasi yang tinggi justru berpotensi menutup peluang pemangkasan suku bunga.

Selain CPI dan PPI, data produksi industri serta penjualan ritel di AS pada akhir pekan diprediksi bisa mengubah pandangan pasar terhadap kebijakan The Fed dalam waktu singkat. Para trader kripto pun menempatkan aspek geopolitik sebagai risiko ekstra bagi dinamika harga Bitcoin.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Jangan pernah terlalu percaya reli akhir pekan Bitcoin,” tulis Trader Killa dalam unggahan media sosialnya.

Pada sesi perdagangan terkini, Bitcoin berada di posisi USD81.269 dan masih bergerak di dalam pola ascending channel yang sudah terbentuk selama satu bulan terakhir. Harga BTC saat ini sedang mendekati area 200-day exponential moving average (EMA) pada posisi USD82.036 yang merupakan hambatan utama.

Bitcoin tercatat sudah pulih sekitar 35 persen dari titik paling rendah pada Februari di level USD60.000, yang dipicu oleh masuknya aliran dana ke produk spot Bitcoin ETF. 

Namun, indikator momentum mulai memperlihatkan sinyal yang beragam ketika Bitcoin tertahan di bawah garis tren jangka panjang yang telah menjadi area penolakan harga sejak Januari.

Posisi RSI harian Bitcoin saat ini ada di angka 65,56, sedangkan rata-rata pergerakannya di angka 61,89. Kedua indikator tersebut masih berada di atas batas netral 50, mengindikasikan bahwa pihak pembeli masih memegang kendali harga dalam jangka pendek. Meski begitu, pasar mulai bersiap menghadapi potensi kondisi jenuh beli (overbought) jika RSI melampaui angka 70.

Secara teknis, jika Bitcoin mampu menembus resistance EMA 200 hari pada USD82.036, sasaran selanjutnya adalah level Fibonacci retracement 61,8 persen di angka USD83.399. Apabila momentum terus bertahan dan pasar sanggup menyerap tekanan jual, proyeksi harga selanjutnya bisa menyentuh USD86.500 dalam kurun beberapa pekan.

Sebaliknya, batas support krusial Bitcoin ada di level USD78.915. Jika harga merosot ke bawah level tersebut, risiko koreksi menuju rentang USD74.431 hingga USD68.884 dapat terbuka kembali. Hingga saat ini, arus dana ETF masih menjadi penggerak utama pasar kripto. 

Pada akhir April, total net inflow ETF Bitcoin spot mencapai sekitar USD2,7 miliar selama sembilan periode perdagangan berturut-turut. Produk dari BlackRock (IBIT) dan Fidelity (FBTC) masih memimpin aliran dana tersebut. 

Kini, total aset produk Bitcoin spot di AS telah menembus USD100 miliar dan dianggap sebagai penyokong utama kenaikan harga Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir.

Terkini