JAKARTA – Dampak dari gejolak ekonomi global kini mulai dirasakan secara nyata oleh para pelaku usaha peternakan di dalam negeri. Para peternak ayam menyampaikan keluhan mereka terkait kenaikan harga pakan yang terjadi secara bertahap sejak April 2026 dan diprediksi akan kembali meningkat dalam waktu dekat.
Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia, Kusnan, mengungkapkan bahwa sejumlah pabrik pakan telah memberikan informasi mengenai penyesuaian harga baru yang akan berlaku mulai pekan depan.
“Iya, harga pakan bulan ini akan mengalami kenaikan kembali setelah sebelumnya juga naik. Pabrik pakan sudah mengumumkan, Senin infonya akan naik lagi,” ujar Kusnan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut penjelasannya, harga pakan pada April lalu telah mengalami kenaikan sekitar Rp 200 per kilogram. Kenaikan serupa kembali terjadi pada Mei sebesar Rp 200 per kilogram. Bahkan, salah satu produsen besar disebut akan memberlakukan kenaikan tambahan hingga Rp 250 per kilogram.
“Khusus Comfeed katanya Mei ini akan naik lagi Rp 250. Pabrik pakan lain juga menghubungi saya, Senin depan naik lagi, hanya angkanya belum disampaikan,” ungkap Kusnan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kusnan memberikan penilaian bahwa kenaikan harga pakan ini dipicu oleh tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku serta tekanan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sekitar 70 persen bahan baku pakan, seperti soybean meal dan sebagian jagung, masih bergantung pada pasokan impor dan sangat mengikuti pergerakan kurs dollar AS.
“Begitu rupiah melemah, harga pakan langsung ikut terdampak. Kondisi geopolitik global juga menghantam biaya impor bahan baku nasional,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain faktor tersebut, kenaikan biaya logistik dan distribusi turut memperberat tekanan harga. Harga solar industri serta bahan baku plastik untuk kemasan pakan juga ikut merangkak naik. Kusnan turut menyoroti struktur industri pakan yang didominasi oleh pemain-pemain besar, yang mengakibatkan peternak memiliki ruang tawar yang terbatas.
“Pabrik pakan besar punya pricing power. Peternak tidak bisa menolak karena ayam harus tetap makan setiap hari,” kata Kusnan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kondisi ini dinilai semakin memberatkan para peternak rakyat lantaran lonjakan biaya produksi tidak dibarengi dengan kenaikan harga jual ayam hidup di tingkat kandang.
“Kemarin saat seminar di Agrimat saya sampaikan, kenaikan pakan akan sangat memberatkan peternak rakyat. Peternak menanam ayam hari ini saat pakan naik, tetapi ketika panen belum tentu mendapatkan harga sesuai harapan,” jelas Kusnan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Oleh karena itu, ia mendorong diterapkannya model closed loop system guna memperkuat posisi peternak rakyat dalam rantai pasok industri unggas.
Keluhan yang sama juga diutarakan oleh Asep Saepudin, seorang peternak mandiri broiler asal Banten. Ia menyebutkan bahwa harga pakan ayam broiler sejak April hingga awal Mei telah meningkat sekitar Rp 400 per kilogram. Kenaikan tersebut belum diimbangi oleh peningkatan harga ayam hidup di tingkat peternak.
“Harga ayam masih berkisar Rp 20.000 sampai Rp 21.000 per kilogram di tingkat peternak. Itu masih di bawah HPP dan jauh dari harga acuan penjualan Rp 24.000,” papar Asep sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia memperkirakan kondisi pasar akan semakin menantang saat memasuki bulan Juni dan Juli, mengingat daya beli masyarakat biasanya melemah pada periode Idul Adha dan Muharam.
“Setiap tahun harga ayam biasanya tidak bagus di bulan itu karena daya beli turun,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Asep memerinci bahwa harga jagung saat ini telah menembus Rp 7.000 per kilogram, sementara soybean meal mencapai Rp 8.700 per kilogram. Biaya untuk kemasan pakan juga dilaporkan ikut meningkat.
Para peternak menaruh harapan agar pemerintah bersedia menjaga stabilitas harga ayam hidup dan melakukan evaluasi terhadap penyebab kenaikan harga pakan yang terjadi terus-menerus.
“Peternak berharap pemerintah ikut menjaga harga jual dan mengevaluasi penyebab kenaikan harga pakan,” tegas Asep sebagaimana dilansir dari berita sumber.