BCA Jaga Likuiditas dan Eksposur Valas di Tengah Gejolak Pasar Keuangan

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:53:03 WIB
Gedung BCA (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA memberikan penegasan bahwa perusahaan senantiasa mempertahankan pengelolaan likuiditas serta risiko dengan prinsip kehati-hatian di tengah kondisi pasar keuangan yang dinamis, termasuk saat terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah serta fluktuasi pada pasar surat berharga negara (SBN).

Pihak BCA memaparkan bahwa peran pokok perbankan tetaplah menjadi lembaga intermediasi atau pihak yang menyalurkan kredit. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BCA dilaporkan mengalami pertumbuhan yang positif hingga menyentuh angka Rp994 triliun.

“Cadangan likuiditas sementara ditempatkan pada instrumen SBN dan pasar uang yang memiliki tingkat likuiditas yang baik,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Sabtu (9/5/2026).

BCA memberikan penilaian bahwa dalam mengelola portofolio surat berharga, perusahaan tidak hanya melihat pada pergerakan yield semata, namun turut memperhatikan durasi portofolio demi mempertahankan kualitas likuiditas secara menyeluruh. 

Lewat keterangan perseroan, langkah strategis ini diterapkan guna menjaga fleksibilitas dalam mengelola dana di tengah naik turunnya pasar obligasi serta nilai tukar mata uang.

Di samping itu, BCA memberikan kepastian bahwa risiko pada mata uang asing masih dalam kondisi terkendali dengan cara mempertahankan net open position atau eksposur devisa neto pada tingkatan yang rendah.

“BCA juga terus memastikan neraca terkelola dengan pruden, khususnya pada aspek asset-liability yang seimbang baik pada rupiah maupun eksposur mata uang asing,” jelas Hera sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, kondisi rupiah yang melemah hingga melampaui Rp17.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan terhadap pasar surat berharga negara (SBN) serta menguji ketahanan industri perbankan di tanah air. 

Dalam situasi ini, bank-bank berskala besar dianggap memiliki ketahanan yang lebih kuat, sedangkan bank kecil menjadi semakin rentan terhadap kenaikan yield serta biaya dana.

Melalui data terkini, rupiah sempat berada di level Rp17.445 per dolar AS dan bergerak pada rentang Rp17.300 hingga Rp17.400 sepanjang minggu ini, yang menandakan bahwa tekanan di pasar keuangan domestik masih cukup besar.

Pelemahan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya volatilitas pada pasar SBN yang ditandai dengan naiknya yield serta merosotnya harga di pasar sekunder. 

Dinamika ini tidak hanya dipicu oleh faktor di dalam negeri, namun juga dipengaruhi oleh arus modal dunia, tren suku bunga internasional, serta pandangan risiko para investor terhadap aset dalam rupiah.

Dalam situasi ini, pasar SBN berperan sebagai salah satu jalur utama masuknya gejolak global ke dalam sektor keuangan dalam negeri. Di tengah tekanan tersebut, perhatian kini tertuju pada perbankan nasional yang memegang kepemilikan SBN dalam jumlah besar. Meski demikian, peran setiap bank berbeda-beda; ada yang sanggup meredam gejolak, namun ada pula yang lebih rentan terhadap tekanan pasar.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memaparkan bahwa hubungan antara rupiah dan SBN terlihat paling gamblang dari aktivitas investor asing pada pasar obligasi.

“Ketika rupiah melemah, investor asing yang memegang obligasi pemerintah otomatis mengalami penurunan return dalam dolar. Yield SBN 10 tahun memang masih tinggi di kisaran 6,7 persen, tetapi kalau rupiah melemah 4 persen dalam setahun, return riil dalam dolar menjadi jauh lebih kecil dan kalah menarik dibanding US Treasury yang risikonya lebih rendah,” terangnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (7/5/2026).

Ia turut menjelaskan bahwa tekanan yang terjadi saat ini dipicu oleh perpaduan faktor global serta domestik. Dari ranah eksternal, tingginya harga minyak dunia meningkatkan beban impor energi Indonesia dan menekan transaksi berjalan. Dari sisi finansial, adanya ketidakpastian mengenai arah suku bunga global memicu investor untuk beralih ke aset yang lebih aman (safe haven).

Dalam kondisi demikian, industri perbankan nasional mengambil peran sebagai penopang pasar SBN, khususnya saat investor asing mulai menarik modalnya.

“Di tengah kondisi itu, perbankan nasional sekarang berperan sebagai penyangga utama pasar SBN. Sejak SRBI diperluas dan pemerintah mulai menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi, bank-bank domestik secara tidak langsung didorong menjadi anchor investor,” tutur Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Secara umum, kapasitas likuiditas perbankan saat ini dinilai masih cukup longgar dan penyaluran kredit belum bergerak terlalu agresif. Hal inilah yang menyebabkan sebagian dana yang belum terpakai untuk kredit dialihkan ke instrumen moneter dan SBN. Akan tetapi, peningkatan peran ini juga memiliki risiko. 

Semakin besar dana yang dialokasikan ke SBN, maka semakin besar pula peluang terjadinya crowding out terhadap kredit untuk sektor riil dalam jangka menengah. Meski risiko ini belum begitu terasa karena permintaan kredit masih belum kuat, namun potensi tersebut dapat muncul saat ekonomi mulai kembali pulih.

Terkini